Balik Atas
5 Manfaat Impian
 
Pewarta: Redaksi Edisi 27/11/2014
| 2753 Views
Jika kita mau membaca sejarah biografi tokoh-tokoh ternama, maka kita
akan temukan bahwa apa yang telah mereka ciptakan berawal dari mimpi.
Saya ingat dengan ucapan Henry Ford. Dia menyatakan, “Semua rahasia
hidup yang berhasil adalah menemukan apa yang ditentukan nasib pada
kita, dan kemudian melakukannya.”
Beethoven menyadarkan
dunia akan kemampuan hebatnya dalam musik ketika dia membuat sejumlah
simfoni, dan ini terjadi setelah dia kehilangan pendengarannya. Charles
Dickens dulunya bermimpi untuk menjadi seorang penulis dan akhirnya dia
menjadi novelis yang bukunya paling banyak dibaca orang di Inggris pada
zaman Victoria – meskipun dia dilahirkan di keluarga miskin.
Thomas
Edison melamunkan sebuah lampu yang bisa dihidupkan dengan listrik,
memulai dari tempat

ia berdiri untuk mengubah impiannya menjadi
tindakan. Dan walaupun dia menemui lebih dari sepuluh ribu kegagalan,
dia tetap memegang teguh impiannya sampai dia menjadikannya sebuah
kenyataan fisik.

Wright bersaudara memimpikan sebuah
mesin yang bisa terbang di udara. Sekarang setiap orang bisa melihat
bukti di seluruh dunia bahwa impian mereka menjadi kenyataan.
Marconi
memimpikan satu sistem untuk mengendalikan kekuatan ether yang tidak
kelihatan. Bukti bahwa impiannya tidak sia-sia bisa ditemukan pada
setiap pesawat radio dan televisi di seluruh dunia. Mungkin Anda
tertarik untuk mengetahui bahwa “teman-teman” Marconi menyuruh agar dia
di kurung dan di periksa di sebuah rumah sakit jiwa ketika ia
mengumumkan bahwa dia telah menemukan prinsip yang bisa digunakan untuk
mengirim berita melalui udara tanpa bantuan kabel atau sarana fisik
komunikasi langsung lainnya.
Menurut Jhon C. Maxwell sebuah impian bisa melakukan banyak hal kepada kita:
Pertama,
impian menunjukkan arah kepada kita. Ia bisa berperan sebagai kompas,
memberitahu kita arah mana yang harus ditempuh. Hingga kita mengenali
arah yang benar itu, kita tidak akan pernah mengetahui apakah langkah
kita benar-benar merupakan kemajuan. Langkah kita mungkin membawa kita
ke belakang dan bukan ke depan. Jika engkau bergerak ke sembarang arah
selain menuju impianmu, engkau akan kehilangan kesempatan-kesempatan
yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan.
Kedua,
impian meningkatkan kekuatan kita. Tanpa impian, kita mungkin harus
berjuang keras untuk melihat kekuatan yang ada dalam diri kita karena
kita tidak bisa melihat situasi di luar keadaan kita saat ini. Akan
tetapi dengan impian, kita mulai memandang diri kita dalam cahaya baru,
karena mempunyai kekuatan yang lebih besar dan mampu merentangkan dan
berkembang untuk mencapainya. Setiap kesempatan yang kita temui, setiap
sumber yang kita dapatkan, setiap talenta yang kita kembangkan, menjadi
bagian kekuatan kita untuk tumbuh ke arah impian itu. Semakin besar
impian, semakin besar pula kekuatannya.
Ketiga,
impian membantu kita menentukan prioritas. Impian memberi kita harapan
untuk masa depan, dan ia juga memberi kita kekuasaan di saat ini. Impian
membuat kita memprioritaskan segala sesuatu yang kita lakukan.
Seseorang yang memiliki impian mengetahui apa yang akan atau harus
dikorbankannya agar bisa maju. Dia mampu mengukur segala sesuatu yang
dikerjakannya apakah membantu atau menghambat impian itu, memusatkan
perhatiannya pada hal-hal yang membawanya lebih dekat pada impian itu
dan memberi sedikit perhatian pada hal-hal sebaliknya.
Keempat,
impian menambah nilai pada pekerjaan kita. Impian menempatkan segala
yang kita lakukan ke dalam perspektif. Bahkan tugas-tugas yang tidak
menyenangkan menambah nilai saat kita mengetahui hal itu memberi
kontribusi pada pemenuhan impian. Setiap aktivitas menjadi bagian
penting di dalam gambar yang lebih besar itu.
Kelima,
impian meramal masa depan kita. Ketika kita mempunyai impian, kita
bukan hanya penonton yang duduk di belakang dan mengharapkan segala
sesuatu berubah membaik. Kita harus aktif ikut serta dalam membentuk
tujuan dan arti hidup kita. Angin perubahan tidak begitu saja meniup ke
sini dan ke sana. Impian kita, ketika dilanjutkan, mungkin sekali
merupakan peramal masa depan kita.
Ada perbedaan antara
mengangankan suatu benda dan siap menerimanya. Tidak ada seorang pun
siap untuk sesuatu sampai dia yakin akan memperolehnya. Keadaan pikiran
harus penuh keyakinan bukan hanya berharap atau mengangankan. Keadaan
pikiran yang terbuka sangat penting untuk keyakinan. Pikiran yang
tertutup tidak mengilhamkan keyakinan keberanian, atau kepercayaan.
Habelino Seradora Sawaki

Berikan Komentar Anda