Agus Zonggonao Tulis Surat Terbuka untuk Kapolda Papua
Pewarta: Redaksi
| 844 Dibaca
EDISI TERBIT: 11 Juli 2020

SURAT TERBUKA

Kepada Yth :
Bapak Kapolda Provinsi Papua

           Di –
                           J a y a p u r a

AGUS ZONGGONAO : Menyikapi pernyataan
Kapolda Papua Sebut banyak Asrama Jadi Pergerakan Melawan Negara.

Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw yang terhormat, saya membaca dan mencermati tulisan yang berjudul di atas ini. Perlu disampaikan bahwa kreasi dan kreatifitas manusia semakin hari semakin meningkat atau terjadi banyak perubahan. Hanya burung saja yang membuat sarangnya dari dedaunan dan ranting-ranting kaya dari dahulu sampai saat ini dan tidak pernah berubah. Membangun sebuah organisasi dan mengabungkan jiwa-jiwa manusia ke dalam organisasi itupun tidak mudah, dan tidak seperti orang membalik talapak tangan.

AMPTPI (Asosiasi Mahasiwa Pegunungan Tengah Papua Indonesia), bahkan Dunia. Awalnya IMPT (Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah) itu dirikan sejak tanggal 29 Maret 1998 di Fakultas Pertanian Universitas Negeri Cenderawasih di Manokwari. Berinspirasi oleh Agus Zonggonao, SP,. M.Si. dan Hans Magal, SP. Dengan Motto : Satu Tungku Dalam Satu Honai. Yang disahkan dan diresmikan  Rektor UNIPA Prof. Dr. Ir. Frans Wanggai, M.Si.

Latar belakang pendirian Organisasi Mahasiswa ini adalah hanya satu tujuan dan maksud yang baik dan dengan air mata adalah untuk mencari tempat mendapatkan biaya pendidikan. Karena kita melihat anak-anak kami dari mahasiswa Pegunungan Tengah yang betapa sulit menderita dan mencari biaya kuliah dan biaya mempertahankan nafas hidupnya. Maka kami mulai memunculkan idealismenya untuk mencari jalan keluar demi kesuksesan pendidikan.

Sejak awalnya hanya IMPT (Ikan Mahassiwa Pegunungan Tengah) Manokwari, namun melihat pada saat itu, Yang belajar mahasiswa Pegunungan sedikit, maka kami ekspansi organisasi ini ke UNCEN Jayapura bergabung dan menaikan statusnya menjadi AMPTPI (Asosiasi Mahasiwa Pegunungan Tengah Papua Indonesia) dengan diadakan Kongres I IMPTPI pertama di Timika pada bulan Juni tahun 2006. Pada saat itu Pak Kapolda Paul W menjabat sebagai Kapolres Timika dan memberi Materi termasuk Pak Paul Waterpaul, Lukas Enembe dan Klemens Tinal dan saya sendiri juga memberi materi latar belakang pendirian. Kami juga mereka mesprit kontribusi dana untuk membiayai kongres ini dari mereka.

Pertemuan itu dihadiri oleh seluruh Mahasiswa Pegunungan tengah di seluruh Indonesia dan menentukan masa depan mereka dalam segala pembagunan di Pegunungan yang menjadi kesulitan dalam segala hal kapasitas dan terutama dalam mendapat pembiayaan pendidikan bagi mahasiswa.

Dari produk proteksinya itu, kita bisa melihat banyak perkembangan yang luar biasa dan mulai muncul Intelektual manusia pegunungan tengah dimana-mana dan kemana-mana, mulai banyak tumbuh pemimpin-pemimpin Papua, dari oraganisasi kemahasiswaan ini. Bapak Waterpauw tahu bahwa : kalau tidak membangun Oraganisasi ini, kami seperti apa sangat ditindasnya, diintimidasi habis-habisan oleh TNI/Polri, sangat jauh luar biasa. Saya sebagai pendiri organisasi ke mahasiswaan ini tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan pemerintah dan diri saya atau banyak orang Indonesia. Organisasi ini hanyalah tempat menampung inspirasi dan aspirasi mahasiswa untuk menyelesaikan sesuatu yang berhubungan social kemanusian. Organisasi ini hadir untuk memberikan input dan output secara mikro atau makro berkaitan dengan masalah kehidupan manusia, baik di dalam Kampus maupun di luar Kampus.

Saya membaca tulisan di atas seakan-akan memperkuat asosiasi pemojokan terhadap mahasiswa dan dikucilkan organisasi ini, tidak ada kekuatan hukum. Kemudian mengadakan pergerakan khusus. Saya kira hal ini tidak tepat. Pemojokan membuat arganisasi ini tidak ada apa-apa dan akan mengalami masalah dan membuka peluang pejabat kemudian bahwa organisasi organisasi bermasalah. Oleh Karena itu, seakan-akan Kapolda sudah penuduhan terhadap pendiri organisasi AMPTPI yang memprakarsai dalam pergerakan mahasiswa ini. Maka saya sampaikan bahwa setelah membaca dari media ini merupakan penegasan, sehingga memperkecil dan membatasi lingkup pergerakan mereka sehubungan dengan OTSUS JILID II agar mereka tidak bergerak.

Mahasiswa Bergerak dan bertidak, karena mereka maha artinya tidak ada sesuatu di atas Maha itu, yang disebut adalah hanya Maha Esa dan Maha Siswa. Maka, Mahasiswa berkewenangan dalam segala hal berhubungan ketidakadilan di mana mana, kapan saja jika mengalami kerugian atau perilaku yang kurang menguntungkan. Sehingga Dengan kata-kata yang dibuat oleh Pak Paul Waterpau ajakan kepada Negara dan masyarakat Indonesia bahwa banyak asrama mahasiswa di Jadikan Pergerakan Melawan Negara.

Kalimat seperti inilah yang disebut intimidasi. Mereka tidak melihat melawan Negara dengan kekuatan senjata atau fisik. Kapolda sebagai pemerintah pemegang kekuasaan keamanan telusuri kebenaran dan kesalahan secara Intelektual. Mereka bertindak, berbuat karena Negara bertindak tidak sesuai dengan tuntutan zaman, sehingga sebagai seorang mahasiswa intelektual punya tanggung jawab morilnya kepada komunitasnya mau dan tidak mau dia harus lakukan secara alamiah. Maka kalimat bapak itu segera cabut dan memohon maaf kepada kami ( pendiri) yang mendirikan organisasi kemahasiswaan ini kalau tidak kami seluruh mahasiswa akan naik ke narana hokum untuk diselesaikan.

AMPTPI merupakan organisasi di dalam kampus yang rajai dunia memberi kontribusi besar kepada pemerintah bukan bergerak diluar perguruan tinggi. Maka Kapolda Papua belum mengerti organisasi ini dan berbicara tanpa melihat kebaikan dan keburukan. Mereka memiliki anggaran dasar rumah tangga kampus. Tidak bisa angkat diri dengan menjual organisasi ini. Berbicara AMPTPI sama saja berbicara tentang seluruh Mahasiswa, karena levelnya mereka sama dengan Senat satu perguruan tinggi. Organisasi ini bergerak di Perguruan tinggi di Seluruh dunia di mana saja satu dua orang kuliah kekuatannya Gabungan besar. Bapak berbicara AMPTPI sama saja ganggu seluruh mahasiswa untuk berbicara nafas hidup mereka. Mereka bisa bergabung seluruh perguruan tinggi itu tidak mudah untuk menuntut kemerdekaan mereka. Tidak dengan kelakuan TNI dan POLRI yang terselubung bersembunyi dibelakang NKRI. AMPTIP murni mahasiswa dan yang mendirikan asrama-asrama mereka adalah ALMAMATER AMPTPI. karena mereka sudah menjadi Bupati di Mana-mana Provinsi Papua. Asrama-asrama tidak berkaitan dengan masalah Rasisme di Surabaya, Malang, YogYakarta dan ditempat yang lainnya.

Perlu diketahui bahwa Bangsa yang sudah merdeka dengan bangsa yang di Jajah itu berbeda, Rasisme selalu di depan mata. Ketika mereka dihina di depan mahasiswa oleh Dosen, tetapi mereka sebagai manusia sehingga diam saja walaupun sakit hati. Mau balas dengan kekuatan apa. Bapak Kapolda sebagai pemimpin perlu cermati baik kalimat itu, “kami ikuti dari awal siapa yang membentuk AMP. Apalagi dulu kita pernah dengar yang namanya AMPTPI dan mereka ini juga adalah acktor-aktor yang tergabung dalam KNPB ( Komite Nasional Papua Barat) yang kemudian hubungan dengan Klasifikasi jabatan untuk duduk atau bernaung di ULMWP( United liberation Movement West Papua)”.

Latar belakang dan tujuan sudah dijelaskan di atas, siapa yang bentuk sudah namanya di atas. Maka saya mau sampaikan kepada Pak Kapolda Papua, sebagai pendiri AMPTPI tidak pernah lakukan sesuatu yang kurang baik melalui Organisasi ini kepada Negara Indonesia. Organisasi ini didirikan 1998 belum ada organisasi lain seperti : (KNPB dan ULMWP), oleh karena itu pendiri akan nuntut balik kembali pencermaran nama baik pendiri dan organisasi kemahasiswaan ini. Karena kami di anggap penjahat di negeri ini. Sejak mendirikan organisasi ini tidak pernah aksi dan kumpul-kumpul tetapi dimana mahasiswa berkumpul TNI POLRI selalu pembungkaman itu selalu ada dan kemudian Status saya sudah jelas hidup di Nabire sebagai pensiunan ASN.

Dengan demikian, Pendiri akan mengundang seluruh Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua Indonesia, Kapolda untuk mempertanggung jawabkan AMPTPI terselubung bersembunyi dibalik ULMWP dan KNPB) itu. Ke dua Asrama itu dialihkan untuk melakukan pergerakan melawan Negara, saya mau katakan bahwa mereka (AMP) sudah melakukan propaganda kepada para mahasiswa baru yang ingin menempuh pendidikan akhirnya, karena mereka (mahasiswa baru), maka ikut saja apa yang dikatakan seniornya kata Waterpau. Jawaban bapak Kapolda ini sudah tahu tapi pura-puraan karena seakan-akan bapak mengalihkan sesuatu masalah yang sekarang terjadi seperti OTSUS JILID II membantah ini kekuatan ada ditangan AMPTPI, sehingga menghalangi mereka dengan tulisan tersebut menakut-takuti mereka supaya mereka tidak bergerak.

Hari ini, mungkin boleh kamu akan lakukan benci, marah, cemburu, cemooh, iri hati dan sakit hati dll, tetapi mungkin yang kulakukan ini yang terbaik bagi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua dan seluruh Rakyat bangsa Papua. Mungkin boleh kamu akan mengakuinya setelah tahun-tahun berikut ini berlalu. Agus Zonggonao, SP., M.Si.
Pdt. Izaak Keyne, “ Mereka (Papua) sudah jauh lebih dahulu harus mengeluarkan suara, tetapi bahwa sekarang benar-benar pada saatnya untuk mengungkapkan diri terhadap dunia melalui satu proklamasi. Kalau hal itu mereka tidak lakukan, maka hal itu akan berarti kematian dibawah kekuasaan Jawa. Untuk apa orang-orang Papua ada di dunia, apabila mereka dimanapun tidak berguna? Mereka harus memperjuangkan diri mereka sendiri karena tidak seorang lainpun akan melakukan hal itu. Mereka dapat memilih diantara ke dua kemungkinan.

Yang pertama adalah untuk orang Papua barat merdeka dan berdaulat, yang lain adalah menjadi jajahan Indonesia”. “Prof. Dr. Frans Magnis- Suseno, memberi kesimpulan akurat tepat tentang keadaan Rakyat Papua yang sangat buruk selama ini dalam bukunya Kebangsaan Demokrasi Pluralisme.“ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan akan mereka belum diakui sebagai manusia, situasi di Papua adalah buruk, tidak normal,tidak beradap, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk, tidak normal di tubuh bangsa Indonesia, kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab sebagai biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam“ Dengan demikian, mahasiswa bergerak melawan Negara di sini terdapat sesuatu yang kurang, lihat saya ambil sample yang ditulis dua orang ilmuwan ini sebagai refrensi diri dan bertindak sesuai aturan ketata pemerintahan yang professional. Demi menyelamatkan semua ciptaan terutama manusia.

Nabire,10 Juli 2020

Penulis adalah Pendiri AMPTPI berdomisili di Kabupaten Nabire.

Berikan Komentar Anda
Share Button