BALIK ATAS
Anak Misioner di Lupakan di Meuwoodide
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 22nd Maret 2016
| 1148 DIBACA
JHON NR Gobay DAP Paniai
JOHN NR GOBAI,Ketua DAP Paniai (Foto:Ist)

Oleh :JOHN NR GOBAI

Pengantar

Papua dan Meewoodide saat ini menjadi daerah yang sangat terbuka dengan hadirnya kaum transmigran baik melalui program pemerintah maupun transmigrasi spontan yang dilakukan masyarakat non papua yang lain,untuk mencari hidup, memperbaiki nasib daripada tinggal di kampung, kehadiran kaum migran yang mempunyai motivasi yang berbeda ini tentunya jiwanya berbeda dengan jiwa dari para misioner diatas yang penuh dengan semangat kenabian. Motivasi orang non mee datang ke meeuwo dide dan mungkin juga ini adalah untuk seluruh papua adalah dua yaitu: Mengemban tugas perutusan gereja dan mencari nasib untuk menjadi pedagang atau PNS untuk memperbaiki nasib di kampung.

Terkikisnya semangat mengabdian

Dalam kenyataan saat ini motivasi dengan misi perutusan mulai berkurang sementara motivasi memperbaiki nasib di kampung jauh lebih tinggi, sehingga kehidupan yang dibina juga telah jauh dari persaudaraan sejati kehidupan yang ingin memperkuat atau memberdayakan masyarakat setempat, sehingga dapat menjadi pemimpin di daerahnya ini. Kenyataan inilah yang kadang memicu konflik antara masyarakat asli dengan para guru, petugas pemerintahan serta petugas gereja yang baru tugas, hal ini membuat masyarakat kadang merasa tidak simpatik dengan petugas ini, sehingga kadang ada ungkapan oleh masyarakat…….orang ini datang bertugas atau cari uang ini’ Kehadiran kaum migran ini kadangkala saudaranya dari kampung yang sedang mengangur untuk dipekerjakan di kantornya, kadangkala jika yang bersangkutan menjadi pimpinan sekolah, petugas gereja atau pimpinan SKPD maka mereka ini akan ditempatkan sebagai tenaga harian yang kemudian diangkat sebagai pegawai tetap. Terlepas dari kemampuan namun telah hilang nilai penghargaan terhadap karya misioner rasanya telah menghantui masyarakat meeuwodide, ditandai dengan munculnya kelompok baru yang hampir menguasai pemerintahan dan swasta di meeuwodide, hal ini tentunya telah menyinggung hati anak-anak misioner meewodide, mungkin papua, hal ini juga telah mengatakan kepada kita betapa kita lupa akan sejarah dan karya-karya luhur orang tua mereka. Anak-anak perintis terjebak dalam kondisi saat ini, yang serba egois, kegelisahan kekuasaan, mereka tidak kuat memperkuat eksistensi yang dibangun oleh orang tua, padahal dalam hati, mereka ingin menjaga kemurnian pelayanan dari orang tua mereka, dengan sungguh-sungguh membangun tanah ini, bersama dengan orang-orang terpelajar dari tanah ini, hal itu telah terbukti; saat Drs. Aleks Rumaseb menjadi Sekda Paniai, sejumlah hal telah dilakukan disana bersama dengan Bupati Yanuarius Dou, SH. Disatu sisi anak-anak perinitis hari ini dihadapkan pada kekuatan laju urbanisasi masuk tanpa menghargai nilai dan kelompok perintis yang telah ada membangun daerah ini, yang ditandai dengan kelompok paguyuban kelurga untuk kepentingan ekonomi dan politik suku-suku ini, sebagai alat bargaining politik menjelang pilkada dalam mengejar proyek atau jabatan tertentu di pemerintahan. Dalam pergaulan di daerah meeuwodide tidak pernah terjadi masyarakat key, ambon membuat konflik dengan masyarakat, yang ada hanyalah pada waktu lalu adanya perang di obano, yang dikenal dengan perang Lesnusa, akibat sebuah perbuatan pribadi, masalah ini menjadi besar karena situasi saat itu masyarakat masih terikat dengan adat, namun jika terjadi sekarang pasti akibat dari masalah tidak sehebat yang sering didengar. Dalam kenyataan sekarang konflik terjadi dengan antara orang meeuwodide dengan suku bugis, makasar serta buton yang motivasinya adalah merunbah nasib dikampung dengan mencari uang, begitu juga dengan di pemerintahan kadang ada konflik antara suku toraja dengan masyarakat meeuwo, karena penganggur di kampung dibawa menjadi PNS di daerah Meeuwodide, bahkan dengan paguyuban sebagai alat bargaining politik diupayakan memperoleh jabatan tertentu.

Dampak Negatif perlu dihindari

Hasil sebuah misioner adalah banyak orang meeuwo telah menjadi pendeta, menjadi pastor, PNS, pejabat pemerintahan, politisi mereka ini adalah hasil dari karya misioner pada tahun-tahun yang lalu, buah yang pertama Drs. A.P You, Herman Mote, SH, Yan Dou, SH, dll, buah-buah yang kedua dari hasil karya misioner, dan hasilnya adalah menjadi lebih unggul, antara lain Bupati Paniai, Hengki Kayame ayahnya seorang pegawai pertanian dari jaman belanda, hasil didikan misioner jaman oleh belanda menjadi mantri pertanian, Bupati Deiyai, Dance Takimai, ayahnya seorang guru yang merupakan hasil didikan misioner jaman belanda. Hal yang perlu dihindari adalah kaum urban yang bukan anak-anak misioner namun sedaerah dengan para misioner muncul dan ingin menguasai karya misioner terdahulu, karena merasa karya masa lalu dibuat oleh saudaranya dan tidak memberikan kesempatan kepada anak-anak setempat, tidak memberdayakan atau melakukan penguatan kepada anak-anak setempat, tentunya kelompok ini mempunyai motivasi yang lain hanya untuk memperbaiki nasib hidup. tetapi yang terpenting anak-anak misioner dan anak-anak setempat di meeuwodide berjalan bersama dan membangun bersama, melanjutkan karya luhur para misioner.

Penghargaan kita

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, hidup didunia ini adalah membuat sejarah dan membaca sejarah, hal ini berarti orang meeuwo adalah manusia sejati, maka tentunya perlu menjadi manusia yang berjiwa dan berfikir besar, dengan menghargai jasa para misioner, apa yang telah kami paparkan di atas adalah sebuah fakta sejarah yang pernah terjadi pada masa lalu, yang dapat kita baca saat ini. yang tentunya perlu dikongkritkan dalam pekerjaan pemerintahan dan swasta saat ini, dengan memberikan penghargaan yang adil dan layak kepada anak-anak dari para misioner, jabatan-jabatan penting di pemerintahan dan swasta, bukan melihat mereka dengan sebelah mata, melihat mereka sebagai musuh dan melihat mereka dengan dendam. Satu hal yang perlu dilihat sebagai contoh; Mgr. John Saklil, Pr,menjadi uskup timika, adalah sebuah kewajaran, walaupun dipilih oleh Paus tetapi disisi lain ini adalah sebuah bentuk penghargaan atas pengabdian bapaknya sebagai seorang misioner gereja katolik yang datang dari Langgur, tentu ada orang lain yang perlu kita hargai dan memberikan tempat kepada mereka. Akhirnya saya sebagai ketua dewan adat paniyai, mewakili masyarakat adat meeuwo mengucapkan terima kasih atas pengabdian para misioner dari Belanda, Ambon, Key, Merauke, Bintuni, Jawa dan Toraja, pasti Tuhan akan membalasnya berlimpah berkat dan pengampunan.(***)

Penulis Adalah Ketua Dewan Adat Paniai

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM