BALIK ATAS
Anggota Polisi Lakukan Penganiayaan Terhadap 2 Warga Asmat
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 29th Mei 2015
| 1398 DIBACA
Penganiyaan yang dilakukan oknum anggota polisi terhadap 2 warga asmat
Penganiyaan yang dilakukan oknum anggota polisi terhadap 2 warga asmat                 Foto:Alberth

Kronologis Kejadian

Kasus penganiayaan di Kabupaten Asmat, lagi-lagi di lakukan oleh anggota Kepolisian yang berjumlah sekitar lebih dari 30 (tiga puluh ) anggota polisi terhadap warga masyarakat, atas nama ; saudara Albert Makulap dan Viktor Makulap, mereka adalah adik kakak kembar. Keduanya warga kota Agats yang berdomisili di Jl. YKPA II Bis Agats dan Cemnes kampung Mbait. Masalah berawal ketika Viktor Makulap ( korban )sedang mengkonsumsi Miras local alias sagero di kediamanya di kompleks Cemnes pada hari kamis malam tanggal 21 Mei 2015 kira-kira pukul 22.00 Wit. Sementara ia mengkonsumsi miras sendirian rokoknya habis dan korbankeluar dari kediamanya menuju kios 24 jam di jl. Muyu kecil untuk membeli rokok. Ketika tiba di sana. Korban bertemu kenalannya yang bernama Tete, lalu mereka bercerita. Sementara sedang bercerita, muncul seorang anggota polisi yang bernama Piter Mahuse ( pelaku ) yang dalam keadaan Mabuk dan kemudian tanpah bertanya langsung melakukan pemukulan pertama kepada Tete dan kedua kepada Viktor. Lalu Tete menghindar dari tempat itu, sementara Viktor melakukan perlawanan dan terjadi perkelaian! Sementara itu Tete lari menuju ke YKPA dan bertemu dengan Albert Makulap saudara dari Viktor Makulap, yang sedang mengkonsumsi miras jenis sopi bersama teman-temanya. Kemudian Tete memberitahukan kejadian tersebut yang di alami oleh mereka berdua ( Viktor dan Tete ). Setelah mendengar kejadian itu Albert langsung pergi mencari Viktor ke arah Muyu Kecil menggunaka sepeda, sesampai di Muyu Kecil Albert bertemu dengan Vikor dan Piter yang sudah selesai berkelai tetapi masih beradu mulut. Ketika Albert melihat mereka berdua dan mendengar kata- katanya yang saling mempertahankan argument, Albert pun mengajak Piter dan Viktor ke Kores untuk menyelesaikan maslah, tetapi Piter tidak mau dan mengatakan berdamai. Lalu mereka berdamai dan Albert mengajak Viktor untuk pulang. Sementara dalam perjalanan pulang Albert bertemu dangan teman-temanya, yang masih mengkonsumsi miras di depan SMA N1, dan mereka pun melanjudkan minum di tempat itu. Sementara minum ,Piter memburu Viktor dan Albert ( korban ) hingga bertemu dan bergabung dengan mereka. Tetapi Piter masih mengatakan kata-kata yang mengudang emosi, dengan bertanya apakah di sini ada anak- anak mandobo, dan pertanyaan itu langsung di jawab oleh salah seoranga teman yang berada di situ. Katanya kami ada di sini dan kemudian ia menyebutkan marga Makulap, lalu piter menjawab saya anak Mapi jadi kamu mau apa, tetapi pertanyaan itu tidak di hiraukan oleh korban dan teman- temanya. Kemudian salah satu teman dari situ mengantarnya pergi, katanya ke rumah Pa Marten Kaize tetapi tidak lama kemudian dia kembali sendirian dan masih mengeluarkan kata –kata yang tidak wajar. Katanya anjing, babi, goblok dan tai lasu senhingga korban adik Kaka yaitu Albert dan Viktor dan temanya Fregky emosi dan memukul Piter ( pelaku ). Setelah memukul, korban ( Albert dan Viktor ) dan temanya langsung pulang ke rumah kakanya di samping SMN1 Agats. Sesampai di rumah korban berdua bersama teman – temanya duduk dan bercerita. Berselang 30 menit kemudian kira-kira sekitar pukul 06.00 hari jumat pagi tanggal 22 Mei, kami ( korban ) di sergap oleh gerombolan anggota polisi yang jumlahnya mencapai 30 lebih. Di antaranya ada yang berseragam lengakap ( sedang piket pada saat itu ) dan ada pulah yang berpakaian preman dan dalam keadaan mabuk. Mereka langsung menanyakan kami, yang memukul anggota polisi namanya piter mahuse itu siapa, dan kami menjawab kalau itu kami yang pukul. Mereka memintah kami ke Polres dan kami mengikuti mereka tetapi dalam perjalanan keluar dari teras rumah sempat kami menanyakan surat ijin penangkapan dari kepolisian setempat, tetapi tidak ada yang menjawab pertanyaan kami. Lalu mereka mulai memukul kami dengan besi, balok dan popor senjata serta menendang kami dengan laras, sepanjang jalan Yosudarso dari kediaman kami sampai di Polres. Sesampai di depan Polres kami di teriakki dengan kata-kata menyerah dan angkat tangan, padahal kami tidak melakukan perlawanan. Kemudian kami masuk ke pos piket dan tanpah di mintahi keterangan, Piter yang sudah ada di situ langsung memukul kami dan di serbu oleh semua anggota polisi yang ada pada saat itu, sehingga kami babak belur, (Albert gigi patah dan kening picah, dagu tersalah dan muka bengkak, Sedangkan Viktor kening pecah tulang pinggul dan rusuk tersalah serta muka bengkak). Setelah mereka memukul kami, mereka buka baju dan mengambil dompet dan hp kami, katanya menyimpan lalu menyeret kami ke sel tahanan. Sekitar pukul 14.00 pada siang hari kami merasa kesakitan di seluruh tubuh sehingga, kami memintah petugas untuk keluarkan kami dari sel tahanan dan pergi berobat ke rumah sakit. Mereka menanggapi kami dan membuka sel tahanan dan kemudian kami di antar dengan motor ke rumah sakit. Setelah berobat kami di antar kembali ke pos dan kami di perintah oleh komandan piket pa Jhon Rahaten untuk makan dan masuk kembali ke sel tahanan, tetapi kami memintah untuk harus pulang karena kondisi kami sangat parah, dan kami di terimah untuk pulang ke rumah. Sebelum kami pulang kami memintah kembali dompet dan Hp kami yang di tahan di Pos piket, dan mereka mengembalikan tetapi uang Albert sebesar seratus lima pulu ribuh lebih hilang bersama dengan kalung Rosario di dalam pos, lalu kami bertanya kepada petugas yang bertugas di situ tetapi kata mereka tidak tahu. Setelah itu besok paginya hari sabtu tgl 23 mei 2015 sekitar pukul 08.00 kami kembali ke Polres untuk memintah surat pengantar visum untuk proses masalah di pos piket, tetapi mereka tidak mengindahkan permintaan kami dengan alasan tidak punya uang untuk pembayaran visum dan alasan lain-lain. Lalu kami di arakan ke kanit porvos dan kami di mintahi keteranagan tentang kronologis kejadian dan kami menceriterakan, lalu kami di arahkan untuk berdamai. Tetapi kami memintah surat pengantar untuk visum namun perkataan mereka sama saja seperti di pos piket tadi sehingga terpaksa kami berdamai dengan Piter ( pelaku ) dan membuat surat pernyataan.

Kekesalan dan Pandangan Kami

  1. Dalam pandangan untuk berdamai dengan Piter Mahuse, ada perkataan yang di sampaikan oleh petugas provos yang menangani perkara ini bahwa persoalan kami ( korban / masyarakt ) dengan oknum anggota polisi sudah selesai, tetapi Piter sebagai anggota polisi akan menjalani sanksi sesuai dengan aturan kepolisan. Tetapi kami ragu apakah itu benar – benar bisa di lakukan atau tidak, karena kami menilai dalam pemeriksaan masalah provos lebih condong memihak pada pelaku dan tidak teransparan mengungkapkan naluri netralitasnya.
  2. Peristiwa ini bukan di alami oleh kami saja, tetapi hampir sebagian besar warga masyarakat di Asmat juga merasakan hal yang sama, bahkan merasa resah dengan keberadaan polisi di Asmat. Sebab dalam menjalankan tugas mereka selalu mabuk dan berpakaian preman menangani permasalan, sehingga tindakan mereka pun brutal dan terkesan main hakim sendiri ( tanpah ada pertanyaan langsung di pukul dengan benda apa saja yang ada di tangan mereka ).
  3. Menurut pengamatan kami warga masyarakat di kab. Asmat, kinerja aparat kepolisian sangat tidak sesuai dengan etika kemanusiaan dan sudah melenceng jahu dari koridor hukum yang sebenarnya di dalam Negara Republic Indonesia. Mereka selalu menggunakan nama kepolisian untuk membenarkan diri bila mereka dalam keadaan mabuk dan bermasalah dengan masyarakat. Oleh karena itu terkesan nama kesatuan di pakai untuk melindungi diri mereka pada saat mereka terkena masalah secara pribadi dengan masyarakat.

Permintahan Kami

  1. Kapolda Papua segerah memperbaiki aturan sistem penyelesaian masalah di dalam ketetapan hukum kepolisian pada Polres Asmat yang terkesan massif dan fakum.
  2. Bapak kapolda segerah menindak tegas oknum – oknum anggota polisi di polres Asmat yang kelakuannya tidak beretika dan bermoral dalam menangani proses persoalan yang sering tidak sesuai dengan ketetapan hukum Kepolisian.
  3. Bapak Kapolda segerah menindaklanjuti dan memanggil oknum anggota polisi yang terlibat langsung melakukan penganiayaan terhadap warga masyarakat Kabupaten Asmat atas nama Albert Makulap dan Viktor Makulap untuk meberikan sangsi sesuai dengan aturan yang berlaku di kepolisian Repoblik Indonesia.
  4. Bapak kapolda harus meninjahu kembali kinerja kepolisian di wilaya polres Asmat yang secara menyeluruh.
Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM