BALIK ATAS
Apakah Bangsa West Papua Masih Dijajah Kolonial Indonesia di Atas Tanah Papua Pada 2019?
DITERBITKAN OLEH: Redaksi DATE 4th Januari 2019
| 153 DILIHAT

Oleh: Dr. Socratez S.Yoman

  1. Pendahuluan

PADA 28 Desember 2018, seorang sahabat berinisial MA mengatakan kepada penulis; ”  Kok ada pendeta yang kerjanya hanya tukang penyebar Fitnah. Seribu macam cara dia gunakan sebagai bahan peramu fitnah.”

Ada yang mengatakan: “Socratez, orang sudah gila, jadi jangan membaca tulisan-tulisannya, nanti kita ikut menjadi gila seperti dia.”

Ada orang mengatakan: “Socratez tidak urus gereja, tapi urus politik.”

Ada seorang abang yang penulis kagumi  berinisial TA selalu juluki: “Adik Socratez, pendeta Separatis.”

Seorang sahabat Ketua Sinode yang berinisial JJK menobatkan penulis: “Saudara Sofyan, memang  gurunya Papua Merdeka.”

Pada 2006, sahabat penulis dari Australia berinisial JW dengan leluconnya: “Sofyan, you are a thorn in Indonesia shoes.”

Pada 2016, sahabat penulis  dari Selandia Baru, pendeta berinisial BT pada 2016 dengan guyonannya, “Socratez, you are a trouble maker in Indonesia.”

Pada 2018, sabahat penulis dari Selandia Baru, abadikan dalam bukunya ” Socratez:  A voice of the Voiceless for West Papua.”

Sekitar  tahun 2010, The Jakarta Post menjuluki penulis, “A Courge.”  Sahabat penulis, Maruli Tobing  menulis di Media Kompas, ” Socratez  ideolog Papua.”

Beberapa umat Tuhan di menjuluki penulis: “Gembala umat tertindas,  cahaya lilin hidup &  inspirator bangsa West Papua.”

Orang Lani, Suku Penulis  menobatkan, “Ndumma” artinya pembawa damai, penutur kebenaran, pejuang keadilan, pelindung rakyat, dan juga  “Ap Nagawan Enggelek” artinya  Orang Bijak yang Unik.”

Pada 2007, Dr. George Junus Aditjondro menobatkan penulis: ” Socratez, Nabi Yohanes Pembaptis yang berseru-seru di Papua Barat.”

2. Ujilah Segala Sesuatu dan Peganglah Yang Baik ( 1 Tes. 5:21)

Umat Tuhan di West Papua dari Sorong-Merauke yang diduduki dan dijajah oleh Indonesia selama 57 tahun sejak 1961-2018 harus diuji berdasarkan terang Injil adalah kekuatan Allah yang menyatakan kebenaran Allah dan menyelamatkan umat manusia.

Pesan Firman Allah: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran” ( 2 Timotius 3:16).

Pengalaman penulis sendiri, ketika bertumbuh dan mendengar proses perjuangan Organisasi Papua Merdeka (OPM) sekitar tahun 1970an, bahwa  OPM berjuang untuk Papua Merdeka.  Saya mendengar banyak orang Papua berbicara Pelaksanaan Pepera 1969 itu tidak demokratis dan  merugikan hak politik bangsa West Papua. Pepera 1969  itu dimenangkan ABRI dengan moncong senjata (sekarang: TNI).

Pada 2001, penulis terbang ke Genewa, Swiss, penulis pergi ke Perpustakaan PBB dan cari dokumen Pepera 1969. Penulis mendapat laporan Annex I dan Annex II.

Annex I laporan Perwakilan Sekjen PBB, Dr. Fernando Ortiz Sanz tentang apa yang sesungguhnya terjadi di West Papua.  Sedangkan Annex II laporan Indonesia yang sangat paradoks bertolak belakang dengan laporan Perwakilan PBB.

Dari laporan Annex I, memberikan gambaran dengan jelas, 95% rakyat Papua mendukung kemerdekaan  West Papua. Tetapi, Indonesia memanipulasi pelaksanaan Pepera 1969 dengan memilih 1.025 orang yang dipaksa dengan moncong senjata untuk memilih Indonesia.

Karena itu, penulis berusaha untuk “uji segala sesuatu, pegang  yang benar & berdiri pada yang benar .” Salah satunya ialah proses pengintegrasian bangsa Papua ke dalam wilayah Indonesia melalui pelaksanaan Pepera 1969.

Kalau umat Tuhan di West Papua  dari Sorong-Merauke selama ini merasa aman, damai & tidak melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan, kejahatan & penjajahan Indonesia,  penulis ikut merasakan sukacita,  kebahagiaan & kedamaian bersama umat Tuhan.

Gereja selalu menyampaikan kebenaran dari mimbar. Gereja mengkhotbahkan kejujuran dari mimbar. Gereja mewartakan keadilan dari mimbar. Gereja memberikan kasih, kedamaian dan pengharapan dari mimbar. Gereja selalu berkhotbah tentang dosa dan kejahatan dan akibat-akibatnya.

Tetapi, para pendeta, gembala,  pastor tidak pernah mengoreksi kesalahan sejarah penggabungan bangsa West Papua ke dalam wilayah  Indonesia melalui  proses Pepera 1969 yang tidak benar yang  menyebabkan penuh darah dan air mata di pihak umat Tuhan di West Papua.

Sesungguhnya, Gereja harus memainkan peran penting dan  tampil dengan kuat dan kokoh atas dasar kuasa Ilahi untuk menguji proses pelaksanaan Pepera 1969. Sebenarnya Gereja memegang mandat dan kuasa Ilahi tapi tidak pernah sadar.

Tentu saja Gereja dan para pendeta dan pastor dicap melawan pemerintah dan berbicara politik. Di sini malasah pokoknya, yaitu: gereja dan para pendeta takut mengoreksi kejahatan Negara dalam proses pepera 1969.  Tetapi, para para pemimpin Gereja, pendeta, pastor dan gembala yang mengerti pesan Firman Tuhan, mereka pasti mengoreksi kesalahan Pepera 1969.

Pemerintah Indonesia, TNI-Polri akan mengatakan dan menentang gereja, “Hei, Anda jangan berbicara politik, Anda jangan mengganggu Pepera 1969 yang sudah final dan disahkan di PBB. West Papua bagian sah dari Indonesia.”

Jikalau ada alasan dan ancaman seperti itu,  para pemimpin gereja, pendeta, pastor dan  gembala dengan tegas harus mengatakan: “Tugas kami mau melihat hasil pepera 1969 dari perspektif  kebebaran, keadilan, kejujuran dan gereja tidak ada urusan dengan sudah final dan sah di PBB. Karena Gereja sudah ada di West Papua sebelum Indonesia. Gereja tidak ada urusan dengan NKRI. Karena sebelum NKRI, kami sudah ada di West Papua. Urusan Gereja ialah kedaulatan manusia sebagai ciptaan Tuhan.”

Gerejalah yang memegang kuasa  ilahi untuk menggembalakan umat Tuhan. Yesus berkata kepada para pendeta/ gembala. “Gembalakanlah domba-domba-Ku” Yohanes 21:15-18).

3. Kekerasan Negara-TNI-Polri di West Papua Selama 57 Tahun

Wajah Kekerasan, kejahatan dan kekejaman Negara/Pemerintah Indonesia telah ditujukkan sejak tahun 1961 kepada rakyat dan bangsa West Papua. Banyak nyawa umat Tuhan yang hilang di tangan serdadu-serdadu Indonesia yang kejam,  tidak beradab dan tidak manusiawi. Umat Tuhan di West Papua menjadi hewan (binatang) buruannya TNI-Polri. Tangan, wajah, baju dan sepatu TNI-Polri berlumuran darah umat Tuhan, pemilik Tanah Papua. Pemerintah, TNI-Polri tidak pernah merasa berdosa dan bersalah.

3.1. Mengapa  Kekerasan Negara  dilestarikan di West Papua?

Kesalahan Pepera 1969 itu harus dipertahankan dengan kekerasan. Umat Tuhan di West Papua harus ditekan  terus-menerus dengan kekerasan TNI-Polri supaya mereka tidak memperjuangkan dengan cara damai, elegan dan terhormat untuk menyatakan kebenaran, hak politik, martabatnya, dan masa depan yang lebih.

Kekerasan Negara yang dilakukan TNI-Polri secara sistematis, struktural dan masif atas nama keamanan nasional dan kepentingan NKRI mengakibatkan mulai hilangnya/berkurangnya Penduduk Asli West Papua, lebih populer sekarang ialah pemusnahan etnis Papua.

Dalam keadaan gelap dan kejam seperti ini, Gereja harus hadir dengan TERANG  kuasa Allah, kuasa Yesus Kristus dan Roh Kudus dan otoritas Firman TUHAN menyatakan kepada pemerintah & TNI-Polri bahwa Anda selama ini telah merusak Bait Allah, yaitu tubuh manusia.

Sampaikan kepada Negara/TNI-Polri Anda telah melanggar Firman  TUHAN. “Jangan membunuh” (Ulangan 20:13). Tetapi Anda membunuh umat Tuhan & merusak  gambar & rupa Allah. “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar rupa Kita…” ( Kejadian 1:26).

3.2. Mengapa Gereja-gereja di West Papua Tidak pernah koreksi kesalahan Pepera 1969 dari mimbar gereja?

Gereja berada di West Papua 163 tahun sejak 5 Februari 1855. Sementara Indonesia menduduki & menjajah West Papua 57 sejak 1961.

Gereja diberikan kuasa dan otoritas untuk menjaga, memelihara, melindungi dan menggembakan umat TUHAN, karena ada pencuri, pembunuh, dan pembinasa.

“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10).

Pemerintah Indonesia, TNI-Polri sadar Firman Tuhan ini. Mereka hadir sebagai pencuri, pembunuh dan pembinasa dan itu terbukti melalui Trikora 1961, proses pembuatan Perjanjian New York 15 Agustus 1962, dan pelaksanaan Pepera 1969 yang penuh kekejaman ABRI dan kekejaman itu masih ada sampai saat ini.

Dalam menyikapi para pencuri, pembunuh, pembinasa, kejam ini, Gereja, para pendeta, pastor dan Gembala HARUS berdiri kokoh dan teguh dengan mengatakan:

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh karena Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan & penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4:18-19).

Gereja, para pendeta, pastor & gembala harus ingat & pegang apa yang dikatakan Tuhan kepada Yeremia & kepada Anda hari ini.

“…Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah Firman Tuhan. Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya & menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu. Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa & atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut & merobohkan, untuk membinasakan & meruntuhkan, untuk membangun dan menanam” (Yeremia 1:8-10).

Kepada Gereja, para pendeta, pastor dan gembala ada Roh Tuhan, ada urapan Tuhan, ada kuasa Tuhan untuk memperbaiki kesalahan Pepera 1969.  Ada kuasa untuk merobohkan, menghilangkan & menjauhkan ketidakadilan, kekerasan, & kekejaman yang menimpah umat Tuhan di West Papua.

Pemerintah dan TNI-Polri Berusaha keras untuk menghilangkan akar masalah West Papua.

Sudah merupakan rahasia umum bahwa akar masalah yang dipersoalkan dan diperjuangkan rakyat West Papua sudah diselidiki dan disampaikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam buku: Papua Road Map.

4.1. Status Politik, sejarah Penggabungan West Papua ke dalam Indonesia  tidak adil, cacat hukum & melawan hukum internasional.

4.2. Pelanggaran berat HAM merupakan kejahatan Negara selama 57 tahun yang perlu diselesaikan.

Dua akar masalah ini yang diperjuangkan umat Tuhan di West Papua. Tetapi, pemerintah dan TNI-Polri membelokkannya:  akar masalahnya Pembangunan infrastruktur & kesejahteraan.

Dalam keadaan seperti ini, Gereja, para pendeta, pastor, gembala harus bersuara untuk menyatakan yang benar dan melawan pembohongan yang dilakukan penguasa kolonial Indonesia dengan kekuatan TNI-Polri.

Diharapkan mulai 1 Januari 2019, Gereja, para pendeta, pastor, gembala harus bangkit, berdiri bersama-sama umat Tuhan untuk memperbaiki kesalahan sejarah Pepera 1969 & penyelesaian dan pertanggungjawaban pelanggaran berat HAM supaya kita menciptakan masa depan umat Tuhan di Tanah West Papua yang adil, damai dan penuh harapan dan akhirnya pada 25 Desember 2019 nanti,  Kita bersama-sama Saling Memegang Tangan dan Mengatakan Selamat Natal 25 Desember & Tahun Baru 1 Januari 2020  yang sebenarnya.

Dalam konteks West Papua, menurut iman dan pengertian penulis, ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru sejak 1961-2019 hanya Ucapan Selamat Hampa, Semu, tidak ada artinya. Tetapi, Damai, Sukacita, Pengharapan dari Allah melalui Yesus adalah kekal dan milik kita semua sebagai orang-orang beriman.

Akhir dari refleksi dalam menyambut Tahun Baru 1 Januari 2019, Penulis tetap menulis  dan terus bersuara. Walau ada yang mengatakan: “Pak Socratez sudah gila. Pak Socratez penyebar Fitnah.” Penulis mengasihi & mengampuni sahabat yang menghina penulis. Dia sahabat baik penulis.

Ita Wakhu Purom, 1 Januari 2019

*) Penulis adalah Presiden Presekutuan Gereja-gereja Baptis Papua

Berikan Komentar Anda