Balik Atas
Bahagia Pun Butuh Proses dan Usaha
 
Pewarta: Redaksi Edisi 16/07/2014
| 1687 Views
Foto : ilustrasi senyum bahagia / ist
Ijinkan saya mengawali tulisan saya ini dengan mengajukan beberapa
pertanyaan. Apakah anda pernah merasa bahagia dalam hidup anda? Apa yang
membuat anda merasa bahagia saat itu? Mengapa hal tersebut membuat anda
bahagia?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata
‘bahagia’ bermakna perasaan puas dan tenteram baik lahir maupun batin.
Saya secara garis besar setuju dengan makna ‘bahagia’ yang terdapat pada
KBBI tersebut. Menurut saya, kebahagiaan adalah suatu proses kepuasan
diri. Tak ada satupun manusia di dunia ini

yang tak ingin merasa
bahagia. Namun yang jadi pertanyaan saya selanjutnya adalah: Apakah
hal-hal yang membuat A bahagia sama dengan hal-hal yang dapat membuat B
bahagia?

Maksud saya seperti ini: Ada dua keluarga. Kedua
keluarga tersebut memiliki dua orang anak. Di keluarga A, sang Bapak dan
Ibu merupakan wirausahawan yang sukses. Mereka tidak memiliki
permasalahan apapun dalam hal keuangan. Selain menjadi aktivis gereja,
mereka juga terkenal dermawan dan peduli terhadap sesama yang
membutuhkan.
Pada keluarga yang kedua, keluarga B, sang Bapak
bekerja sebagai seorang karyawan biasa sedangkan sang Ibu merupakan
seorang ibu rumah tangga. Dalam hal keuangan, keluarga mereka dapat
dikategorikan cukup cenderung berkekurangan. Mereka harus menahan
keinginan untuk membeli barang-barang yang bukan merupakan kebutuhan
pokok mereka. Tak jarang pula, sang Bapak dan Ibu ini harus
pontang-panting mencari pekerjaan tambahan untuk menutupi kebutuhan
sekunder mereka. Meskipun bukan aktivis gereja, mereka cukup sering
bersama-sama anak mereka mengikuti kegiatan rohani yang diadakan di
lingkungan mereka tinggal.
Yang ingin saya sampaikan dari contoh
kedua keluarga di atas adalah bahwa tentunya sang Bapak dan Ibu di
keluarga B mendambakan pekerjaan yang sukses dan terpandang seperti apa
yang dimiliki oleh keluarga A. Mereka tentu akan merasa bahagia karena
keuangan mereka membaik sehingga tak hanya dapat memenuhi kebutuhan
pokok keluarga, mereka pun akan dapat memenuhi segala keinginan
anak-anak mereka. Nah persoalannya, apakah dengan tidak memiliki masalah
keuangan sudah cukup membuat keluarga A bahagia? Ternyata belum. Mereka
justru merasa bahagia jika seperti keluarga B, mereka pun memiliki
waktu berkumpul yang lebih banyak bersama anak-anak mereka, dapat
bersama-sama melakukan kegiatan-kegiatan yang notabene sangat jarang
dapat mereka lakukan karena waktu luang yang mereka miliki tidak cocok
satu sama lain. Dikarenakan pekerjaan dan aktivitas mereka di gereja,
sang Bapak dan Ibu di keluarga A hanya memiliki waktu luang di atas jam 8
malam, sedangkan pada jam tersebut biasanya anak-anak mereka
mengerjakan pekerjaan rumah atau sudah tidur karena harus sekolah
keesokan harinya.
Jadi jika boleh saya menarik kesimpulan,
bahagia merupakan kepuasan atas pencapaian diri seseorang sehingga
kebahagiaan seseorang belum tentu juga merupakan kebahagian seseorang
lainnya. Seseorang akan dapat merasa bahagia jika ia mampu memperoleh
kepuasan di dalam dirinya. Persoalannya sekarang adalah manusia terkenal
sebagai makhluk yang tidak pernah puas. Andaikata itu benar adanya,
maka dapat dikatakan bahwa manusia tidak akan pernah merasa bahagia…
Suatu persoalan yang cukup pelik memang, tapi bukan berarti tidak ada
pemecahannya.
Menurut pengamatan dan pengalaman saya pribadi,
manusia dapat merasa puas ketika ia mau melihat ke sekelilingnya dan
menyadari bahwa di balik kekurangan atau kelemahan yang dimiliki (baik
dalam hal jasmani maupun rohani), keadaannya masih jauh lebih baik
dibandingkan dengan orang lain. Di saat ia berhasil mensyukuri segala
kenikmatan yang ia miliki di atas kekurangannya, maka manusia tersebut
akan merasa bahagia.
Ada alasan mengapa saya meletakkan kata
‘proses’ dalam arti ‘bahagia’ menurut saya. Bahagia tidak serta merta
datang atau hadir begitu saja dalam kehidupan manusia. Ada proses yang
dibutuhkan untuk memperoleh rasa ‘bahagia’. Butuh perjuangan dan usaha
untuk menjadi bahagia. Entah nantinya perjuangan yang dilakukan hanya
butuh waktu sebentar atau memakan waktu lama, tetap ada yang namanya
perjuangan. Coba anda ingat-ingat kembali masa-masa ketika anda bertemu
dengan pasangan hidup anda, atau masa-masa ketika anda mendapatkan
pekerjaan setelah menyelesaikan studi anda. Tentunya masa-masa tersebut
merupakan masa yang membahagiakan dalam hidup anda bukan? Nah, kemudian
coba diingat-ingat lagi, apakah anda mendapatkan pasangan hidup atau
pekerjaan saat itu tanpa usaha? tanpa perjuangan? Apakah pasangan hidup
anda tiba-tiba berkata bahwa ia mau menjalani hidupnya bersama anda
tanpa anda berusaha meyakinkan atau membuktikan diri bahwa andalah yang
paling layak untuk mendampinginya? Apakah pekerjaan anda tiba-tiba
langsung diberikan kepada anda tanpa anda berjuang untuk mencari,
melamar, bahkan membuktikan diri bahwa anda lebih mampu dan layak
mendapatkan pekerjaan tersebut dibanding para pelamar lain? Semua butuh
proses. Menjadi bahagia butuh usaha.
Bahkan jika saya boleh
memberanikan diri, saya merasa Tuhan pun tidak mau langsung menghadirkan
kebahagiaan dalam kehidupan kita. Seringkali kita bertanya-tanya
padaNya: mengapa Ia mengijinkan kita untuk menjalani penderitaan,
kesusahan, kesedihan, tetes air mata dan peluh terlebih dulu untuk
memperoleh kebahagiaan, sedangkan kalau Ia mau, tentunya hanya dengan
mengedikkan mataNya saja, misalnya, Ia dapat menyingkirkan semua yang
menyengsarakan kita dan memberikan kebahagiaan pada kita secara instan?
Mungkin akan lebih mudah bagi kita untuk mencoba memahaminya lewat
situasi berikut ini. Jika anda berada di posisi sebagai orang tua,
apakah dengan memanjakan anak anda; memenuhi tidak hanya semua
kebutuhannya tetapi juga semua keinginannya seketika ia memintanya
kepada anda akan dapat membuat ia bahagia? Tidak…
Secara umum,
jika anda mendidik atau memperlakukan anak anda demikian, anda justru
menjerumuskan anak anda sendiri ke dalam jurang kehancuran. Dia tidak
akan berkembang dan sukses di kemudian hari. Dia malah tidak dapat
berbuat apapun ketika suatu hari nanti masalah menerpanya dan anda tidak
berada di dekatnya untuk membimbingnya.
Tuhan tidak ingin
secara instan memberikan kebahagiaan kepada kita karena Ia ingin
memanusiakan manusia. Ia ingin mendidik manusia untuk dapat secara terus
menerus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi
hingga menjadi serupa dengan Dia. Ia mengijinkan kita untuk menjalani
semua penderitaan, persoalan, dan kesulitan, agar kita benar-benar dapat
memahami apakah kebahagiaan itu. Yang perlu kita lakukan hanyalah untuk
tidak pernah berhenti berjuang dan meyakini bahwa Ia tidak akan pernah
mengijinkan kita berjalan sendirian; Ia selalu menuntun bahkan siap
sedia menopang kita dalam menjalani semua itu.
Penulis: Marcellby
Disadur dr GEMA buletin SVAP edisi 75
Berikan Komentar Anda
Link Banner