BALIK ATAS
Bencana Banjir Bandang Sentani, 101 Orang Meninggal 93 Hilang dan Ribuan Warga Pengungsi
PENERBIT:PPWI MEDIA Redaksi PAPUALIVES.COM 21st Maret 2019
| 171 DIBACA
Konfrensi Pers Tgl 20 Maret 2019 dihadiri Bupati Jayapura , Kapolres Jayapura, dan Pak Danrem (Foto: Istimewa)

Jayapura,Konfrensi Pers Tanggal 20 Maret 2019 sekitar pukul 19.00 Waktu papua, yang dihadiri Bupati Jayapura  ,Kapolres Jayapura,dan Pak Danrem,data yang di himbun media ini bahwa :

Data Korban :
Korban meninggal Dunia sebanyak 101 Jiwa
Korban di laporkan hilang 93 Jiwa
Korban luka ringan 808 Orang
Korban luka berat 107 Orang
Korban terdampak di 3 Distrik ( Sentani, Waibi, Sentani Barat ) 11.725 KK

Data Pengungsi
1. Posko Utama Gn Merah 348 KK ( 1.453 Jiwa)
2. Gajah Mada 363 KK ( 1.450 Jiwa)
3. Panti Jompo 6KK (23 Jiwa)
4. HIS 150ĶK ( 600 Jiwa )
5. Doyo Baru ( Grj Advent) 15 KK
6. Bintang Timur 149 KK ( 600 Jiwa )

Selain itu dalam pers rilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta menyatakan bahwa Bencana banjir yang terjadi pada tanggal 16 Maret 2019 tersebut berada di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Sentani Tami.

Berdasarkan data dan fakta yang dihimpun KLHK , faktor utama penyebab bencana banjir bandang di Sentani adalah curah hujan yang tinggi. Penjelasan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL), IB Putera Parthama  di Jakarta (19/3/2019) kemarin.

Sementara itu, faktor lain yang menyebabkan bencana banjir bandang Sentani adalah kondisi hulu DAS yang tidak stabil. Hulu DAS tersebut memiliki kontur batuan yang kedap air sehingga membentuk bendung alami yang mudah jebol pada saat hujan tinggi. Adanya perluasan kota dan permukiman di bagian hilir (daerah terdampak) turut memberikan dampak yang cukup signifikan.

Sementara itu, faktor lain yang menyebabkan bencana banjir bandang Sentani adalah kondisi hulu DAS yang tidak stabil. Hulu DAS tersebut memiliki kontur batuan yang kedap air sehingga membentuk bendung alami yang mudah jebol pada saat hujan tinggi. Adanya perluasan kota dan permukiman di bagian hilir (daerah terdampak) turut memberikan dampak yang cukup signifikan.

Beberapa lokasi terdampak dari musibah banjir tersebut meliputi Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Abepura, Heram, Sentani dan sekitarnya. Lokasi-lokasi tersebut merupakan dataran banjir (flood plain) dan berada di lereng kaki perbukitan yang terjal. Luas daerah tangkapan air (DTA) di lokasi tersebut mencapai 15.199,83 hektar. Lebih lanjut Putera menyampaikan, luapan air Sungai Sereh/Tahara dan Sungai Kemiri masuk ke DAS Sentani yang berhulu di Cagar Alam Pegunungan Cycloop.

Menurut Putera, penyebab banjir tersebut disebabkan oleh curah hujan yang sangat ekstrim disertai intensitas hujan yang sangat tinggi, serta debit puncak banjir yang melebihi pengaliran daerah tangkapan air (DTA). Faktor tutupan hutan di DAS Sentani terhitung baik dan berkisar 55% dari total area DAS. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pohon yang tercabut dari akarnya, serta adanya longsor pada area hulu DTA.

Putera menambahkan, di sekitar banjir bandang tidak ditemukan adanya pembalakan liar. Hal tersebut dapat dipastikan karena tidak ditemukan material kayu bekas tebangan yang hanyut terbawa banjir. “Pohon-pohon tersebut masih lengkap dengan ranting dan akar-akarnya, hal ini menunjukkan bahwa kayu-kayu tersebut bukan hasil kegiatan penebangan kayu yang menyebabkan banjir bandang,” ungkap Putera.

CA Pegunungan Cycloop adalah kawasan suaka alam yang memiliki ciri khas tertentu, mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, sekaligus sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. Pegunungan Cycloop memiliki luas kawasan 31.479,89 hektar dan terdapat open area seluas 2.415 hektar, bersumber dari peta tutupan lahan tahun 2017. Penyebab open area tersebut antara lain pertanian tradisional, permukiman dan areal tidak berhutan.

Kawasan pegunungan ini memiliki kemiringan lereng yang tajam, sehingga walaupun kawasan hutannya tidak rusak, curah hujan sangat ekstrim sehingga berdampak besar pada daerah pengembangan yang ada di bawah. Menurut Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno, perlu dipikirkan tata ruang kawasan permukiman, terutama bila ada fenomena hujan ekstrim di wilayah Pegunungan Cycloop.

Saat ditanyakan apakah ada dampak terhadap satwa-satwa yang ada di Cagar Alam Cycloop, Wiratno menyampaikan bahwa kemungkinan ada yang terkena dampak. “Tim Balai Besar KSDA Papua terus melaporkan perkembangan informasi setiap enam jam,” ujar Wiratno.

Terkait dengan CA Pegunungan Cycloop, Putera mengharapkan tercipta role model pengelolaan cagar alam berbasis kearifan lokal. Harmonisasi antara alam dan budaya perlu dijaga dengan baik dengan cara mengajak masyarakat bersama para pemangku kepentingan untuk ikut berperan aktif dalam melestarikan CA Pegunungan Cycloop demi kesejahteraan masyarakat.

Media Center Bencana/SP. 109/HUMAS/PP/HMS.3/3/2019

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM