BALIK ATAS
Budidaya Ternak Ayam Buras
PENERBIT:PPWI MEDIA Redaksi PAPUALIVES.COM 11th Desember 2015
| 1040 DIBACA
  1. PENDAHULUAN

Ayam buras atau ayam kampong merupakan sumber protein hewani mempunyai potensi untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan ayam kampong mudah menyesuai dengan lingkungan, tidak memerlukan tempat yang luas, tidak memerlukan modal/biaya yang besar dan pemeliharaan yang tidak rumit.

Peranan ayam buras dikampung sangat besar, disamping sumber protein juga sebagai tabungan hidup untuk dijual sewaktu-waktu dalam bentuk telur ayam atau daging. Pemasaran dan permintaan ayam kampung sangat baik bahkan masih kurang. Namum demikian, pemeliharaan ayam kampung masih mengalami hambatan, karena produktifitasnya masih rendah.

Rendahnya produktifitas ayam buras disebabkan sistim pemeliharaan yang masih tradisional, antara lain ayam dilepas dan pergi mencari makanan sendiri. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan, dewasa kelamin dan rendahnya produksi telur, disamping sifat mengeram dan mengasuh anak yang rendah mengakibatkan produksi telur rendah.

 

 

  1. JENIS AYAM LOKAL DI INDONESIA

Berdasarkan tipenya ayam local Indonesia dapat dikembangkan, antara lain

  1. Ayam Kedu.

Berasal dari daerah kedu Kabupaten Temanggung, terdiri dari ayam kedu hitam dan kedu putih. Sebagai Tipe petelur.

 

  1. Ayam Pelung

Kabupaten Cianjur. Sebagai Tipe Pedaging

 

  1. Ayam Nunukan

Berasal dari pulau tarakan Kalimantan Timur. Sebagai Tipe Petelur.

 

  1. Ayam Buras Biasa atau ayam kampung

Sebagai Tipe daging dan telur

 

  1. Ayam ayonai (ayam asli papua)

Ciri warna bulu sangat beragam/campuran (lurik), warna kulit bervariasi yaitu kuning pucat putih dan merah, warna kulit badan didominasi kuning dan putih, sebagian kecil warna merah pucat. Pada bagian tubuh yang tidak tumbuh bulu seperti leher warna merah cerah. Bertelur umur 6-8 bulan sebanyak 10-15 butir setahun 120-180 butir/tahun dengan berat telur variasi 60-75 gram. Bobot badan ayam jantan 2,8-3,3 kg dan ayam betina 2,3 – 2,8 kg. Sebagai tipe pedaging dan telur.

 

 

  • PEMELIHAN BIBIT

Untuk memperoleh bibit ayam buras dengan produktivitas telur yang tinggi., maka harus dilakukan seleksi berdasarkan atas : (1) Individu, (2) Hasil produksi, (3) Sisilah.

 

  1. Ciri-ciri ayam betina yang baik
  • Kepalanya halus
  • Matanya bersinar terang/jernih
  • Muka sedang (tidak terlalu lebar)
  • Paruh pendek dan kuat, (menunjukkan ternak rajin mematuk dan pandai mencari makan)
  • Jengger dan pial tidak keriput, tetapi halus dan warna merah cerah
  • Badan cukup besar dan perutnya luas
  • Jarak tulang dada dan tulang belakang lebih kurang 4 jari
  • Berumur antara 8 – 10 bulan.

 

  1. Ciri-ciri ayam jantan yang baik
  • Badan kuat dan agak panjang
  • Mata bersinar terang/jernih
  • Sayap kuat dan bulu-bulu teratur rapi
  • Kaki kuku bersih dan sisik teratur.
  • Paruh bersih
  • Terdapat taji, taji yang runcing maupun bulat kecil seperti jagung.
  • Berumur antara 8 – 10 bulan.

 

  1. Ciri-ciri anak ayam yang baik
  • Tidak cacat, kaki dan jari kaki tidak bengkok
  • Paruh normal, bulu kering, dubur dan pusar kering
  • Lincah dan sehat, mata bulat bercahaya
  • Kaki kuat berdiri dan tegak

 

 

 

 

 

  1. PAKAN

 

Ayam buras umumnya dipelihara secara tradisional. Tanpa diberi makan oleh peternak. Ayam buras dapat tumbuh dan menghasilkan telur. Hal ini disebabkan ayam buras dapat mencari makanannya sendiri.

 

Guna mencapai produksi yang optimal maka pemberian pakan harus diperhatikan peternak secara teratur. Karena pakan yang dikonsumsi digunakan untuk :

Pertumbuhan badan, mempertahankan hidup dan berproduksi.

 

Pakan ayam buras antara lain butiran jagung, dedak, ubi-ubi dan hijauan lainnya.

 

Pemberian pakan pada ayam buras 80 – 90 gram/ekor/hari dan sedangkan DOC pakan diberikan umur 2 hari. Dalam pemberian pakan disesuaikan dengan umur atau periode pertumbuhan dengan tahapan sebagai berikut :

 

  1. Periode Kutuk/DOC (umur 1 – 7 hari)

Pakan yang diberikan berupa bubuk (butiran kecil) yang disebarkan pada lapisan kertas atau triplex. Sebaliknya periode kutuk diberi pakan yang baik antara lain dedak, bekatul, sagu, tepung jagung, tepung ikan atau udang.

 

  1. Periode dara (umur 2 – 5 bulan)

Pakan yang diberikan bervariasi dan diberikan dalam jumlah cukup antara lain butiran jagung, ubi-ubian dan hijauan. Periode ini sangat diperhatikan karena persiapan untuk bertelur.

 

  1. Periode dewasa (umur 5 bulan keatas)

Periode ini ayam dalam masa bertelur, dan kelangsungan produksi telur sehingga pakan sangat diperhatikan.

 

Penyusunan Ransum

Dalam menyusun ransum (pakan ayam). Ada beberapa cara yang dapat dipergunakan yang mendekati pakan yang ideal. Komposisi bahan penyusun pakan sebagai berikut :

  • 50 – 70 % (bahan kaya hidrat arang mis, jagung, dedak, bekatul)
  • 20 – 40 % (bahan kaya protein nabati, mis; kedele, kacang hijau, bekatul, kelapa dan kacang)
  • 6 – 10 % (bahan protein hewani)
  • 2 – 5 % (campuran mineral)

Sesuai dengan kelompok bahan-bahan makanan, maka dapat disusun ransum anak ayam, ransum ayam muda dan ayam dewasa dengan kriteria sebagai berikut

; – Ransum starter untuk anak ayam umur 1 hari sampai 2 bulan. Ransum grower untuk ayam umur 2 – 5 bulan. Dan Ransum Dewasa untuk ayam umur 5 bulan keatas

Nama bahan                                 Jumlah (Kg)
1.    Jagung kuning

2.    Dedak halus

3.    Bungkil kelapa

4.    Tepung ikan

5.    Kalsium Karbonat

6.    Garam

7.    Premix A

                                     43

35

10

8,5

3,0

0,1

0,4

JUMLAH                                      100

 

  1. KANDANG DAN PERALATAN

 

  1. Fungsi kandang

Fungsi kandang adalah sebagai tempat berlindung, berkembang biak, mempermudah penanganan ternak dalam proses produksi, pengawasan kesehatan, vaksinasi dan lain-lain.

 

  1. Pembuatan Kandang

Pembuatan kandang dibuat dari bahan-bahan lokal disekitar lokasi kampung, misalnya bambu, kayu, tali rotan, rumbia, jerami, rumput alang-alang (atap kandang). Dalam mendirikan kandang diperhatikan beberapa persyaratan, yakni :

  1. Kandang menghadap kearah timur agar dapat menerima sinar matahari pagi
  2. Mempunyai ventilasi agar dalam kandang tidak pengap
  3. Letak kandang sebaiknya di tanah yang lebih tinggi dengan sistim drainase
  4. Lokasi kandang tidak pada tempat lalu lalang orang.
  5. Jarak dari rumah 5 – 8 meter.

 

 

 

 

  1. Bentuk Kandang
  2. Kandang berpagar (Kandang Postal/Ren)

Bentuk kandang sederhana dengan halaman tempat ayam dilepaskan disekelilingnya. Ayam-ayam dibiarkan berkeliaran didalam halaman agar mencari makan. Peternak dapat member makanan tambahan berupa sisa dapur, sisa hasil pertanian. Dengan pemagaran peternak dapat mengontrol ternak ayam dengan baik.

 

  1. Kandang postal

Bentuk kandang ini tidak mempunyai halaman, Sepanjang hari ayam berada dalam kandang. Kandang dengan sistim postal ini lantainya harus ditutupi alas (litter) terdiri dari jerami, serbuk gergaji dan kapur tebal 15 cm agar kandang tetap kering dan tidak lembab. Sistim postal peternak harus memperhatikan sepenuhnya perkembangan ayam.

Kandang battery adalah sangkar berbentuk kotak berderet-deret dapat dibuat dari bamboo atau kawat dan diisi satu persatu, pemeliharaan ini peternak harus lebih intensif dengan biaya lebih besar. Dan sudah mengarah ke komersial.

 

 

  1. Luas Kandang

Kebutuhan luas kandang disesuaikan dengan jumlah ternak yang dipelihara. Bila terlalu padat kandang menjadi pengap dan bila terlalu jarang kurang ekonomis,

Dalam membangun kandang diperhatikan jumlah ayam, umur ayam ukuran luas lantai kandang, sebagai berikut

 

Jumlah Ayam (Ekor) Umur Ayam (minggu) Luas lantai (m2)
 

100

100

100

100

100

 

0 – 1

2 – 4

5 – 11

12

Dewasa

 

2 – 4

4 – 6

7 – 14

15 – 25

25

 

 

 

 

 

  1. Peralatan Kandang

Perlatan kandang yang perlu disediakan dalam kandang, adalah

Tempat makan

Tempat minum

Sarang bertelur (bentuk segi empat atau kerucut)

Indukan

Tempat Tenggeran

 

 

  1. PENGATURAN REPRODUKSI (PEMELIHARAAN)

 

Ada 4 cara pemeliharaan ayam buras yang dikenal selama ini, yaitu :

  1. Cara tradisional
  2. Semi ekstensif
  3. Semi intensif
  4. Intensif

 

  1. Cara Tradisional

Cara ini dapat dilakukan pada lokasi yang jarang penduduk dan pola   pertanian belum intensif. Risiko kematian dan kehilangan sangat tinggi. Karena itu untuk meningkatkan produksi ayam buras dengan cara tradisional perlu dibuat kandang yaitu lokasi pemeliharaan dipagari. Tujuannya agar ayam dapat diawasi. Siklus reproduksi sistim tradisional memerlukan waktu 126 hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Cara Semi Ekstensif

Dalam sistim ini, peternak berperan dalam mengatur reproduksinya. Caranya membatasi atau memperpendek waktu/masa bertelur atau masa mengasuh anak. Siklus reproduksi system semi ekstensif memerlukan waktu 90 hari

 

 

  1. Cara Semi Intensif

Pada pemeliharaan sistim ini, induk ayam dilepaskan sedangkan anaknya dipisahkan dari induknya dan dipelihara secara intensih selama berumur 6 minggu. Kandang ayam dilengkapi sarang tempat bertelur dan disekeliling kandang diberi pagar. Untuk menjamin produksi yang diharapkan, maka diperlukan upaya, sebagai berikut: Vaksinasi terhadapat ayam sesuai anjuran, Pakan diberikan sesuai jumlah, Kebersihan kandang . Siklus reproduksi cara semi intensif 65 hari.

 

 

  1. Cara Intensif

Pemeliharaan intensif terutama ditujuksn bagi anak-anak ayam yang baru menetas sampai anak ayam berumur 6 minggu.

Hal-hal yang diperhatikan dalam sistim ini, adalah

  1. Pilih anak ayam yang sehat
  2. Siapkan kandang boks, sesuai keperluan tiap 1 m2 untuk 20-25 ekor
  3. Lengkapi kandang anak ayam dengan indukan, tempat makan dan minum
  4. Suhu kandang diperhatikan

Minggu I     33 derajat C /95 derajat F

Minggu II   30 derajat C /90 derajat F

Minggu III   27 derajat C /85 derajat F

Minggu IV 24 derajat C /80 derajat F

  1. Pakan diberikan secara teratur
  2. Lakukan vaksinasi, sanitasi kandang dan perlengkapan harus diperhatikan
  3. Siklus reproduksi 30 hari.

 

 

 

  • PENETASAN TELUR

 

  1. Syarat telur tetas untuk bibit.

– Berat telur tetas 45 – 57,5 gram

– Umur telur 1 -6 hari, danbila lebih dari 6 hari daya tetas menurun.

– Berasal dari induk dan pejantan yang sehat.

– Telur dalam keadaan bersih dan kulitnya rata

– Telur tidak menonjol

– Telur tidak cacat atau retak

 

  1. Cara penetasan

Ada beberapa cara penetasan telur ayam, yaitu :

  1. Cara dierami (induk ayam)
  2. Cara dierami dengan entok
  3. Cara menggunakan mesin tetas.

 

  1. Menetas Telur Dengan Induk Ayam

Ayam buras mampu mengeram telur rata-rata 10 butir,

 

  1. Menetas Telur Ayam Buras Dengan Entok

Entog sangat baik untuk mengerami telur ayam buras karena kemampuan bisa 22 – 25 butir. Bahkan mampu menetas telur ayam buras dalam 3 kali periode secara terus menerus.

 

Sangkar atau sarang untuk menetas telur diberi alas rumput kering atau jerami serta ditaburi tembakau guna menghilangkan hama/kutu ayam. Telur ayam akan menetas dalam waktu 21 hari.

 

  1. Penetasan Telur ayam menggunakan Mesin Tetas.

Mesin tetas sebelum digunakan harus dibersihkan dan semprot dengan obat pembunuh kuman. Mesin Tetas di hidupkan dan siapka alat thermometer batang, tempat rak, bak tempat air dan diletakkan dibawah rak mesin tetas sudah terisi air (bak tempat air diatasnya diberi kain lap) guna membentuk kelembaban letakkan kain lap dalam bak air. Mesin Tetas dihidupkan/dijalankan selama 48 Jam guna mendapatkan suhu panas yang tetap/tidak berubah-ubah keadaan panas/suhu tetap sekitar 38,8 derajat C. Setelah mesin tetas siap, telur yang ditetaskan dimasukkan dalam mesin tetas. Antara hari ke 4 dan ke 11, setiap hari pintu mesin dibuka selama 1 jam agar telur memperoleh udara segar. (sebaiknya setelah memutar telur).

 

  1. Pemeriksaan Telur Selama Penetasan.

Pemeriksaan telur dilakukan sebanyak 2 kali selama penetasan berlangsung. Pemeriksaan pertama dilaksanakan pada hari ke 7. Telur yang tidak bertunas akan Nampak terang dan tidak terdapat tanda titik darah, Pada telur yang bertunas terdapat titik darah sebesar biji kacang hijau dan nampak bergerak. Hal tersebut menandakan telur tersebut dapat menetas. Telur yang mati dan tidak terdapat titik darah dikeluarkan.

 

  1. Pemutaran Telur

Telur yang berada dalam mesin tetas penetas selama 48 jam harus diputar-putar. Pemutaran dilakukan sampai hari ke 18. Cara pemutarannya, yaitu :

  1. Telur diputar separuh saja
  2. Pemutaran dilakukan 3 kali sehari, pagi jam 7.00, siang jam 12.00 dan sore jam 17.00
  3. Pemutaran dilakukan sampai hari ke 18
  4. Setelah hari ke 18, telur tidak lagi diputar dan dibiarkan sampai menetas.

 

  1. Menurunkan anak ayam dari mesin tetas

Pada waktu kulit telur mulai retak, pintu mesin jangan dibuka, karena udara baru dapat mempengaruhi anak ayam yang baru menetas. Pada hari ke 20 – 21 telur mulai menetas dengan sendirinya. . Kelembaban dan temperature dalam mesin tetas tetap dijaga. Setelah anak ayam keluar dari kulit telur, biarkan anak ayam dalam mesin tetas selama 24 jam sampai bulu anak ayam kering dan pergerakannya normal/lancar. Setelah berselang satu hari anak ayam dikeluarkan dan dimasukkan dalam kotak (boks kandang) pemeliharaan dan diberi lampu listrik atau alat pemanas lainnya.

 

 

Jayapura, 30 November 2015

 

                                                                                       Oleh: Ir. Mourids Renyaan.

 

Berikan Komentar Anda