BALIK ATAS
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM
Catatan Untuk Gubernur “Dua Tahun di Pecat Sebagai Jubir Gubernur Papua”
PENERBIT:PPWI MEDIA Redaksi PAPUALIVES.COM 27th Desember 2017
| 740 DIBACA
Lamadi de Lamato (Foto:Dok Pribadi)

Oleh : Lamadi de Lamato

Tanggal 04 Januari 2018 nanti, genap dua tahun saya diberhentikan sebagai Jubir (juru bicara) gubernur papua melalui SK Gubernur, yang langsung ditanda tangani  oleh Gubernur Lukas Enembe. Saat diberhentikan, saya sedan berada di Timor Leste dalam kunjungan Silaturahim degan kawan-kawan seasrama di Jakarta dulu. Memang sebelum saya ke TL, saya sempat membuat pernyataan di media lokal atas dua peristiwa yang memicu polemik.
Saat itu saya mengkritik pengamanan Gubernur yang terlalu ketat dan terlaampau protektif dan sangat tidak cocok dengan tipikal Gubernur Lukas Enembe yang dikenal low profil dan populisme.
Berikutnya, polemik saya dengan Sekda Papua terkait dengan tupoksi Jubir yang “di cute” dan tidak diberi ruang melalui rekayasa politik dalam sistem protokoler yang tidak pro Jubir. Setiap perjalanan dinas Gubernur keluar kota hingga luar negeri, nama Jubir nyaris tidak tercantum dalam list Protokoler.

Selama hampir dua tahun saya melihat ada kejanggakan degan sistem itu pada tupoksi Jubir. Saya sudah mengkonfirmasi apa penyebab saya tidak pernah di ikutkan? Jawaban mereka selalu beragam yang ujung-ujungnya mereka saling melempar tanggung jawab. Bila staf biasa dengan tugas “ecek2” tidak pernah absen dalam rombongan Gubernur, maka kenapa Jubir selalu tidak  diikutkan?
Dengan nalar kritis saya pun berkesimpulan bila ini bukan permainan orang biasa yang ingin memotong saya secara politik. Mengapa saat saya diminta jadi Jubir oleh Gubernur, seorang Sekda masih ingin menanya latar belakang dan usia saya? Dan mengapa seorang Sekda yang diminta untuk segera mempersiapkn SK jubir secepatnya, ia justru mengulurnya berbulan-bulan baru ia mau memprosesnya. Itupun ia harus ditegur dengan keras oleh Gubernur di depan umum baru ia memprosesnya.

Saya ingat betul, saat itu hari jumat saya ditelepon oleh Gubernur, “Mengapa Lamadi belum bergabung dengan Bapak?”. Di balik telepon itu saya menjawab, “Saya tidak akan bergabung bila SK belum ada, nanti saya dikira pasukan liar dalam rombongan Bapak” itu jawaban yang saya ingat. Gubernur Lukas Enembe pun meminta saya untuk segera ke ruang VIP Bandara Sentani karena ia sedang bersama semua Muspida sedang ada acara Teleconfence dengan Presiden SBY. Saya pun kesana atas permintaan beliau (Gubernur). Saya Diana menunggu beliau hingga acara tersebut selesai.

Acara itu selesai sore hari, dan saat itulah Gubernur melihat saya duduk persis disamping pintu dan ia menegur saya. Saat bersamaan ia melihat Sekda sedang menuju pintu keluar hendak menuju pulang. Saat itulah saya baru pertama kali mendengar Gubernur Lukas Enembe bersuara sangat keras memanggil Sekda. “Pak Sekda, mana SK Lamadi? Sontak semua pandangan pun tertuju pada suara keras Gubernur. Sekonyong-konyong Sekda menghampiri Gubernur dengan sikap santun. Dan betul hari Senin, SK yang saya tunggu itu sudah selesai dibuat dan resmilah saya berkantor di Dok II, Papua!!!

Apakah setelah saya memiliki SK, jalan saya sebagai “penutur ide dan prilaku” politik Gubernur berjalan aman dan mulus? Jawabannya tidak!!! Sebagai mantan staf ahli di DPR RI dan staf ahli DPR Papua yang dipercaya sebagai konseptor dan mengadministrasi pikiran-pikiran  atasan dalam berbagai bidang, sepantasnya saya memiliki fasilitas yang memadahi. Fasilitas itu berupa ruang kantor yang memadahi dan fasilitas lain dal am mendukung profesionalisme saya tapi itu justru tidak di siapkan. Jubir tidak diperlakukan sebagaimana mestinya , Berkantor di Gubernur selama 2 tahun saya lebih banyak naik Angkot ke kantor dan berkantor tanpa ruangan yang jelas. Lagi-lagi saya sudan melapor tapi jawabannya penuh sandiwara ala “simulacrum” yang saling lempar bola. Apakah saya stres degan suasana seperti ini? Bisa iya, bisa tdk!!!
Kendati saya stres dengan kondisi tersebut tapi saya masih bisa menyelesaikan satu buku terkait gebrakan Gubernur Lukas tentang Otsus Plus Papua yang ditolak Jakarta tapi jangan dibuang dokumen tersebut. Atas prakarsa pribadi, dokumen itu saya tulis agar ia menjadi dokumen yang bisa dibaca generasi Papua bahwa Gubernur Lukas Enembe pernah membuat terobosan sejarah. Buku itu adalah bukti otentiknya!!

Sebelum buku itu saya serahkan sebagai bentuk bahwa itu bukti kecil dari kerja saya dalam sunyi, ia sudah terlanjur memecat saya sebagai Jubir. Apakah dalam pemecatan itu murni keinginan Gubernur atau ia hanya mengikuti skenario politik pembisiknya? Jawaban pertanyaan itu bila diajukan awal-awal saya dipecat saya pasti menjawabnya ini skenario orang lain. Berhubung pertanyaan itu muncul sudah 2 tahun dan sannat sulit bertemu Gubernur, maka jawaban saya pun ikut berubah. Gubernur Lukas Enembe dimata saya ia ikut merestui saya “ditendang”. Ilmu politik SBY yang terkenal dengan, Nyabo Nyilik atau “menyakiti” dengan menggunakan tangan orang terdekat adalah ilmu yang dipraktekan Gubernur pada saya.

Apakah setelah saya dipecat saya terpuruk dan mendendam? Saya tidak terpuruk cuma diusir dari kontrakan karens saya kehilangan pendapatan setelah dua tahun kehilangan pekerjaan. Kehilangan pekerjaan juga sempat membuat saya kelabakan membayar uang sekolah anak saya yang sudah duduk di kelas 1 SMK tapi masalah itu lambat laun bisa saya atasi. Dengan dipecat saya justru semakin menemukan passion saya sebagai penulis dan aktifis independen!

Jayapura,27/12/2017

Penulis adalah Mantan Juru Bicara (Jubir) Gubernur Papua

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM