Balik Atas
Cerita Anak Yatim Dengan Burung Cendrawasih
 
Pewarta: Redaksi Edisi 25/08/2014
| 1410 Views
Foto : ilustrasi CR-5 / ist
Pada
jaman dahulu di daerah Mimika hiduplah seorang ibu bersama anaknya. Ayah
dari anak itu sudali meninggal dunia. Sejak meninggalnya ayah itu,
kesejahteraan keluarga; ibu itu sangat terganggu terlebih-lebih kalau
ada kesulitan yang dihadapi. Anak yang sudah yatim itu tidak betah untuk
tinggal di rumah. Setiap hari ia keluar
dan pergi bermain-main dengan kawan-kawannya. Anak yatim itu sangai
cakap dan gagah sekali. Oleh karena itu diantara teman-temannya ada yang
iri dan ingin menyingkirkannya. Untuk menyingkirkannya diatur siasat.

Pada suatu hari anak yatim dengan kawan-kawannya pergi bermain
kejar-kejaran. Anak-anak yang ingin menyingkirkan anak yatim itu lari ke
arah hutan. Anak yatim mengejarnya dari belakang. Anak-anak penghianat
larinya makin jauh dan sudah tiba di hutan belantara. Di hutan
belantara, anak-anak penghianat dengan diam-diam menyusup kembali ke
tempat semula, dekat kampung. Anak ya¬tim sudah kehilangan arah dan
ingin kembali tetapi, ketika hendak kembali ia tidak menemukan arah yang
akan di tempuh.

Anak yatim itu memanggil-manggil temannya
tetapi tidak ada yang menyahut. Sambil berjalan tanpa arah itu ia tetap
memanggil-manggil temannya tetapi sayang tidak ada yang membalasnya.
Tidak ada jalan lain baginya kecuali mengikuti bekas-bekas telapak
kakinya tadi. Rupanya ia telah berputar-putar mengikuti kembali bekas
tela¬pak kakinya yang baru dijalaninya.

Anak yatim bukan
makin dekat melainkan makin jauh dari kampung. Ia telah tiba di hutan
belantara yang belum pernah dijamah manusia. Untuk menyambung hidupnya
ia mengambil dan memakan buah-buahan yang ada di hutan itu. Di tempat
itu rupa-rupanya daerah burung cenderawasih. Burung cenderavvasih
hinggap dari ranting yang satu ke ranting yang lain. Anak Yatim
memperhatikan gerak-gerik burung cenderawasih itu dan timbullah
hasratnya untuk memanahnya. Diambilnya kayu apa saja yang dapat
digunakan untuk busur dan anak pan ah. Setelah panah itu selesai
dikerjakan lalu ia membuat dangau untuk tempat bersembunyi.

Keesokan harinva, pagi-pagi sekali anak yatim telah siap di dangaunva.
Burung-burung cenderawasih telah berdatangan ke pohon tempat
persembunyian anak yatim. Cenderavvasih-cenderawasih
diperhatikannya dengan tekun. Dari sekian banyak cenderawasih yang
bertengger, diantaranya terdapat seekor yang sangat molek bulunya. Anak
yatim ingin betul untuk mendapatkan burung cenderawasih yang molek itu.
Ia berusaha sedapat mungkin untuk tenang dipersembunyiannya agar burung
itu tidak beranjak dari ranting yang dihinggapinya. Anak yatim
merentangkan panahnya, anak panah dilepaskan dan tepat pada sasarannya.
Burung yang molek jatuh ke tanah dan disusul dengan suara jeritan. Anak
yatim menghampirinya dan menangkapnya serta mcncabut bulu-bulu besar
sayapnya.

Karena bulu besar telah dicabut, burung itu tidak
dapat terbang lagi. Anehnya, burung yang telah kena panah itu dapat
berkata. Saudara, jangan membunuh saya. Lebih baik engkau jadikan saya
ini sebagai teman hidupmu. Saya akan tetap mendampingmu sampai akhir
hayatku ”, demikian kata burung itu. Setelah burung itu berkata-kata,
tiba-tiba ia menjelma menjadi gadis cantik bagaikan seorang bidadari
turun dari kayangan. Anak yatim sangat senang karena ia telah menemukan
seorang gadis cantik. Ia mengajak gadis itu untuk mencari jalan dan
pulang ke rumahnya.

Secara gaib mereka berdua dengan mudah
dapat menemukan jalan pulang ke kampung. Setibanya di kampung, mereka
berdua langsung pergi ke rumah orangtua anak yatim. Orang-orang kampung
heran karena anak yang dinyatakan hilang telah kembali dan sudah membawa
seorang gadis cantik. Di kampung, isteri anak yatim cepat menyesuaikan
diri sehingga hubungan antara keluarganya dengan masyarakat kampung
terjalin baik. Karcna hubungan mereka baik sehingga rahasia terbongkar.
Isteri anak yatim selalu diperguncingkan tentang asal-usulnya oleh
penduduk kampung. Akibatnya hubungan baik itu telah berubah menjadi
kacau. Lebih-lebih lagi ke niana isteri itu pergi di situ istrinya
dibicarakan. Isteri anak yatim menjadi malu dan timbul hasratnya untuk
pergi kembali ke dunianya, di hutan belantara.

Pada suatu hari,
suaminya pergi berburu ke hutan. Sang isteri tinggal sendiri di rumah.
Kesempatan itu digunakannya untuk mancari bulu-bulunya yang pernah
dicabut suaminya. Dicarinya kesana-kemari dan tak lama kemudian ia
menemukannya di tempat penyimpanan keluarga. la menoleh ke kanan dan ke
kiri, ia tidak melihat manusia lalu secara gaib bulunya dikenakannya
kembali ke tangannya. Bulu-bulu sayap sudah utuh kembali lalu ia berubah
men¬jadi burung cenderawasih dan terbang ia ke tempatnya semula.

Ketika hari mulai senja, anak yatim sudah pulang dari hutan. Keadaan
rumahnya kosong, tidak ada seorangpun yang dijumpainya. la menanyakan
orang-orang kampung tetapi seorangpun tidak dapat memberikan jawaban
yang pasti. Anak yatim itu bergegas kesana-kemari sambil
memanggil-manggil isterinya tetapi sayang tidak ada yang membalas
panggilannya. Kembali lagi ia ke rumah dan apa yang dilihatnya ? Tempat
penyimpanan keluarga telah berantakan dan bulu sayap isterinya telah
tiada. Karena tidak melihat bulu sayap isterinya, ia memastikan bahwa
isterinya telah berubah menjadi burung dan sudah terbang kembali ke
hutan, tempat di mana mereka bertemu. Anak yatim sangat sedih dan ia
pergi menyusulinya ke hutan. Setelah sampai di hutan, anak yatini
mencari-cari isterinya tetapi ia tidak menemukannya. la tidak patah
semangat, dicarinya kesana-kemari. Begitulah, beberapa hari lamanya ia
terlunta-lunta di hutan.

Pada suatu hari ia mendengar
sayup-sayup suara isterinya. Suara makin lama makin jelas dan tiba-tiba
ia melihat burung cenderawasih sedang menatap dirinya. Burung
cenderawasih itu tak lain tak bukan adalah isteri- nya. Burung itu
berkata : ” Hai suamiku yang baik hati, engkau sudah banyak mangabdi
kepada diriku tetapi bangsamu selalu memperguncingkan aku. Oleh karena
itu aku meninggalkan engkau dan pergi ke hutan, menjadi burung lagi.
Kita boleh saling menatap tetapi tidak lagi saling bercumbu.

Anak yatim membalasnya : ”Engkau dahulu berjanji untuk mendampingi aku
sampai akhir hayatku. Nyatanya engkau telah mencuri bulumu di tempat
penyimpanan dan kini engkau telah berubah menjadi burung cenderawasih.
Terbanglah engkau menurut kehendakmu, aku menjalani hidup ini dengan
derita dan selalu mengeluarkan air mata sepanjang masa. Itu semuanya
adalah nasibku. Setelah anak yatim itu berbicara lalu berpisahlah mereka
untuk selama-lamanya.

By. AR, Koleksi: Sumber Cerita Rakyat 5

Referensi : Facebook.com
Berikan Komentar Anda
Link Banner