Cinta Orang Papua Yang Dikhianati
Pewarta: Redaksi
| 250 Dibaca
EDISI TERBIT: 4 Februari 2020



Oleh : Maksimus Syufi

Banyak orang di luar Papua, memiliki perspektif tentang orang Papua yang bisa dibilang buruk. Yang kerap kali kita dengar dari mereka tentang Papua ialah, orang Papua itu jahat, brutal, orang Papua tertinggal dan berbagai macam pandangan yang melihat Papua itu negatif dengan jembatan emosional.

Melihat berbagai sterotip tentang Papua, awalnya saya ragu dengan pernyataan itu. Namun ketika saya keluar dari Papua, ternyata benar bahwa banyak orang di luar Papua yang beranggapan demikian. Mendengar pandangan yang negatif tentang Papua, saya ingin berbagi cerita tentang perlakuan itu.

Cerita menyakitkan ini lahir saat awal perkuliahan, pada sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Hari pertama, seorang Dosen memasuki ruang kelas, dan memulai percakapan dengan pengenalan. Waktu itu, saya duduk di bangku terdepan, berhadapan dengan meja dosen.Menjelang beberapa waktu kemudian, dosen ini tiba-tiba menanyakan sesuatu yang mengukir luka dalam hati saya dan secara tidak langsung terhadap seluruh ras Melanesia di sudut Timur Indonesia.

“Kamu bisa berbahasa Indonesia?,” pertanyaan dosen yang menciptakan luka bagi orang Papua. Mendengar pertanyaan itu, saya tersenyum dan menjawab dengan luka bercampur tangis dalam hati. “Dosen, kami orang Papua fasih berbicara bahasa Indonesia sejak lahir, dan bahasa ibu kami berada di pintu kepunahan bahkan ada beberapa bahasa ibu di Papua yang sudah punah karena kami menggatikan fungsi bahasa ibu dengan bahasa Indonesia,” membalas pertanyaan dosen dihiasi dengan luka yang terpahat erat dalam hati.

Serupa dengan kejadian menyakitkan ini, di perguruan tinggi yang sama. Cerita ini datang dari teman saya yang menceritakan perspektifnya saat melihat saya sebagai orang Papua. “Saat saya lihat ada orang Papua di sini, saya berpikir bahwa kalian itu jahat dan sebagainya,” ungkapan yang lagi-lagi melukai perasaan saya sebagai orang Papua.

Dengan pancaran senyum demi menutupi perasaan yang sakit, saya mencoba menaggapi pandangan itu. “Jika memang orang Papua itu jahat seperti yang kamu katakana, saya yakin di papua sekarang tidak ada orang non Papua yang tinggal di pulau itu. Orang Papua membuka hati dengan memberikan mereka ruang untuk bisnis, memberikan kedudukan di kursi pemerintahan, ada yang jadi Bupati, Wakil Gubernur, Sekda dan berbagai jabatan terpenting lainnya. Bahkan saking baiknya orang Papua, beberapa daerah di Papua itu, kursi untuk anggota DPRD non Papua melebihi kursi DPRD untuk orang asli Papua,” tanggapan saya terhadap pandangan tadi.

Pandangan semacam ini, akan menimbulkan Pandangan baru bahwa ‘kami bukan bagian dari NKRI’. Saya pun mendengarkan banyak cerita yang bermotif sama dari teman-teman, bahkan saya sendiri pernah alami hal tersebut. Bahwa orang Papua pasti susah mencari kost/kontrakan di luar Papua. Dan pemilik kost/kontrakan pasti memberikan alasan bervariasi agar tidak diterima anak Papua di kost/kontrakannya. Mereka menganggap bahwa, jika diterima di kost/kontrakan mereka, anak papua pasti membuat onar, menciptakan situasi yang tidak nyaman dan sebagainya.

Dalam hati saya berkata bahwa, jangankan kost/kontrakan, di Papua orang Papua bahkan memberikan lahan seluas-luasnya untuk ‘Pendatang’ mendirikan bangunan, berkebun, membuka usaha dan apapun yang diinginkan. Artinya orang Papua ingin merealisasi sila ketiga dalam pancasila “Persatuan Indonesia”, dan kalian malah ingin menciptakan jurang pemisah.

Kenyataan ini, hampir terjadi terhadap semua anak Papua yang merantau. Akhirnya, hal ini dipandang sebagai sebuah peristiwa yang akan terus terjadi pada anak Papua. Banyak anak papua menceratikan hal yang serupa. Artinya sia-sia, orang Papua menyimpan merah putih dalam hati, namun ‘mereka’ tidak pernah menganggap orang Papua bagian dari merah putih itu.

Saya sering mendapatkan pertanyaan dari teman-teman non Papua, “mengapa orang Papua ingin merdeka” dan saya selalu menjawab dengan jawaban yang sama, yaitu “Orang Papua tidak pernah akan mau berjuang untuk merdeka, jika Indonesia tidak pernah mengukir luka bagi orang Papua”. Sebetulnya Negara sendirilah yang membuat rakyat Papua ingin memisahkan diri (merdeka) dari NKRI. Lalu mereka kadang menanggapi dengan mengatakan bahwa, itu kejadian masa lalu dan sekarang mari kita membangun Papua. Memang benar itu masa lalu, namun luka itu akan terus dirasakan turun temurun oleh generasi. Dan semangat untuk bebas dari NKRI, dengan sendirinya akan tertanam pada generasi Papua.

Orang Papua akan berhenti meneriaki kata ‘merdeka’ di bawah terik matahari, jika Indonesia menyembuhkan seluruh luka rakyat Papua, dan berjanji akan merawat rakyat Papua dalam bingkai NKRI. Tidak ada lagi luka pada orang Papua, dianggap dan diperhatikan sebagai anak kandung dalam keluarga Indonesia.

Luka orang Papua tidak dapat disembuhkan dengan ribuan jembatan, rumah mewah atau puluhan bahkan ratusan kilo jalan aspal. Bahkan sia-sia papua diguyur infrastruktur, sementara Negara terus meciptakan luka baru bagi rakyat Papua. “Negara memiliki dua tangan, tangan sebelah untuk membangun infrastruktur di Papua dan tangan sebelah lagi digunakan untuk melukai orang Papua”.

Sadar atau pun tidak atau mungkin juga disengaja, kejadian 50-an tahun lalu yang melukai rakyat Papua, terus terjadi hingga detik ini. Hati orang papua dipoles lagi dengan berbagai macam peristiwa yang melahirkan luka baru. Jangan pernah memaksa orang Papua mengatakan ‘Indonesia harga mati’ jika, Indonesia tidak pernah memberikan obat yang ampuh untuk menyembuhkan luka pada orang Papua. Hal ini yang membuat orang Papua setiap saat meneriaki kata ‘merdeka’. Negara gagal merawat orang Papua dalam rumah merah putih.

Jika suatu waktu saya diberi satu kesempatan untuk bertanya kepada Presiden, maka yang saya tanyakan ialah “Pak Presiden yang terhormat, apa kabar dengan Papua?”, atau “siapakah dokter dan obat apa yang bisa menyembuhkan luka yang kian lama membuat orang Papua merintih di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia?”. Rakyat Papua butuh sosok yang mengerti perasaan paling dalam orang Papua.

Bukan tentang rumah, jembatan atau jalan di papua yang dirusak, jadi Negara mau memenuhinya dengan infrastruktur pula. Namun yang rusak ialah kepercayaan orang Papua terhadap Negara. Jadi, Negara harus mengembalikan kepercayaan yang hilang semenjak 50-an tahun lalu itu.

Berikan Komentar Anda