Balik Atas
Coklat dan Cahaya
 
Pewarta: Redaksi Edisi 31/10/2014
| 782 Views

Oleh, Mikael Kudiai

Tidak
jauh beda dengan kehidupan sosial masyarakat kita pada umumnya.
Kehidupan yang bertepuk sebelah mata, terjalani dengan penuh kompromi,
entah kehidupan yang tak sesuai dengan sistem dan peraturan di sekolah
itu.

Sebuah sekolah berbasis campuran, dengan berbagai
siswa etnis dan ras dari berbagai daerah tepat di Parkmont High School
Amerika Serikat. 
Terbayang sejenak. Amerika yang juga merupakan
negara paling maju di dunia memiliki kualitas kehidupan yang cukup layak
dan cukup aman untuk di tempati.
Coklat dan cahaya sebuah
slogan yang mempunyai makna yang sangat besar. Slogan itu memberikan
pencerahan yang lebih kepada kita semua tentang bagaimana inovasi
pendidikan yang perlu kita terapkan sesuai dengan apa yang diinginkan
para siswa dalam kelas dan dalam lingkup sekolah dan universitas yang
kita tempati.
Berawal dari judul diatas, seorang guru yang
sangat ideal Detriment Louanne Johnson namanya. Dia seorang pasukan
marinir, tetapi keadaan yang membuatnya harus mengajar. Ketika dtawari
gaji sebesar 24.700 dolar per tahun, Louanne langsung menerimanya dengan
senang hati. Louanne senang karena langsung diterima di sekolah
tersebut.
Kebetulan dia di tempatkan di kelas yang
dahulunya dia sendiri tidak tahu kondisi dan situasi dalam kelas itu.
Situasi yang benar-benar mencekam dan panas.
Hari pertama
mengajar membuatnya panik, hingga Louanne diusir dalam kelas oleh
murid-muridnya sendiri. Tak heran, sekelas hanya ada saru ras yang
mengampu pendidikan dalam kelas itu. Rata-rata kulit hitam, kelas yang
dikategorikan di sekolah itu sebagai kelas paling kacau dan tidak beres
pada saat itu.
Karena tidak tahan emosinya, Louanne
langsung menghadap kepala sekolah dan para lembaga sekolah  untuk
memutuskan untuk pindah di kelas lain.
Kebetulan tidak ada kelas
kosong yang harus dia mengisi. Satu-satunya kelas itu yang masih
tersisa. Dan perlu untuk dia masuk dan mengajar kepada mereka.
Mau bagaimana lagi!. Terpaksa dengan rasa menyesal melapisi rasa benci yang sangat dalam Louanne menerima akan keadaan tersebut.
Hari
kedua. Masuk dengan gaya yang berbeda. Mengikuti apa yang diinginkan
para murid-muridnya tersebut. Bergaya seperti preman, jecket para geng,
celana jeans sama seperti para preman jalanan, dengan memakai tas ransel
bermerek jeans yang dikenakan dalam kelas.
Tetapi pada
akhirnya penyesalan seperti hari pertama pun diterimanya. Tetapi dari
kegagalannya, semakin dia di lawan oleh anak muridnya, semakin juga dia
termotivasi dengan hal seperti itu untuk lebih semangat mendidik mereka.
Satu
hal yang membuat Louanne ingin untuk merubah mereka adalah dengan
membagi-bagikan coklatnya kepada mereka hanya dengan menjawab
pertanyaan, jika pertanyaan yang dia berikan kepada mereka sesuai dengan
apa yang dia tanyakan kepada mereka.
Semangat itu
bergulir hingga mereka ingin dan ingin untuk belajar. Beberapa masalah
yang terus dia hadapi, mulai dari anak muridnya yang sekolah tetapi
hamil di luar nika, hingga anak muridnya sendiri yang berkelahi hingga
meninggal karena perkelahian di luar sekolah.
Mereka ingin
dan sangat termotivasi dengan inovasi pendidikan yang dia berikan
kepada mereka. Pendidikan yang dimulai dari hal kecil, hal yang
sebenarnya mereka tidak tahu, hingga pendidikan yang berbasis kurikulum
dalam sekolah itu.
Hal
yang menarik, ketika Louanne mau di pindahkan dari sekoalh itu. Dia
sempat menawarkan kepada anak muridnya bahwa dalam waktu yang sangat
dekat ini, dia akan pidah dari sekolah itu.
Penyesalan
dari penyesalan dialami para murid dalam kelas itu. Mereka sampai
mengancam, kalau Louanne pindah berarti sekolah harus di tutup.
Satu
kata yang membuat saya terinspirasi adalah, sekarang kita yang mau
membagikan coklat kepada Louanne. Coklat yang melambangkan keseriusan
dalam belajar mereka, yang diterapkan Louanne dalam pembelajarannya
dalam kelas.
Motivasi untuk Kita
Sangat menarik ketika kita belajar tentang inovasi pembaharuan pendidikan dalam dunia masyarakat yang serba multikultur.
Menarik
ketika kita bicara soal hal positif yang kita dapatkan dari film
diatas. Bagaimana seseorang yang mampu mengubah mainsef siswanya dalam
kelas tersebut.
“Ketika saya menawarkan kepada mereka
untuk pindah dari sekolah ini, mereka protes dan mengancam untuk
bubaskan sekolah ini. Mereka terhadap saya sudah sebagai ibu dan anak
sendiri,” ujarnya berbincang dengan temannya,
“Mereka sudah menganggap saya sebagai coklat dan saya menganggap mereka sebagai cahaya.” Lanjutnya.
Cahaya dan coklat yang menjadi inspirasi untuk kita semua, terutama sobat mudah Papua yang mengampu pendidikan di bidang-bidangnya masing-masing.
Pendidikan
menjadi sebuah kunci yang sangat besar dalam mengembangkan dan
mensuplaikan pengkaderan manusia dalam memanusiakan manusia lain.
Inovasi pembaharian pendidikan perbasis individualis yang mampu merubah
pola pikir para murid dan mampu untuk kembangkan dalam mempertahanan
eksistensi daya pendidikan kita.
Hal yang menarik ketika
kita memberikan sesuatu yang mampu membuat para siswa tersenyum dan tak
pernah mereka lupakan dalam menempu pendidikan di sekolah dasar hingga
perguruan tinggi.
Kisah coklat dan cahaya memberikan motivasi dan inspirasi bagi kita semua dalam menempu pendidikan. 
Note:
Tulisan
ini terinspirasi ketika nonton bareng tentang film ‘Dangerious Mind’,
tepat  di Arama Kamasan, Gudeg, Tanggal 25 Oktober 2014, sekitar pukul
10:30 WIB. 
Sumber : Facebook.com
Berikan Komentar Anda