Dampak Covid-19, Mahasiswa Maybrat se-Indonesia minta bantuan langsung tunai

Aksi Mahasiswa dan Pelajar Maybrat DIY di Asrama  Yogyakarta  ketika menyampaikan Aspirasi permintaan bantuan langsung  tunai (Foto: Rilispers/PapuaLives)

Jakarta,Dampak dari pencegahan dan penanganan Covid-19 dibeberapa daerah di Indonesia terutama di kota studi yang mengakibatkan mahasiswa dan pelajar asal kabupatem Maybrat kekurangan bahan makanan dan kebutuhan hidup lainnya, sehingga dengan adanya anggaran Covid-19 Mahasiswa kabupaten Maybrat meminta kepada pemerintah darah (Pemda) dapat memberikan bantuan langsung tunai. Mahasiswa Maybrat memulai aksi tuntutan pada pukul 11.00 – 12.00 WIB di depan Asrama Mahasiswa Maybrat Yogyakarta. Dikuti oleh sekitar 50 mahasiswa dan pelajar yang tersebar di Yogyakarta.

“Pemerintah Maybrat harusnya cepat menanggapi situasi darurat pandemi Covid-19 dan hadir sebagai pelindung masyarakat justru sangat lambat, lebih sibuk urus birokrasi, menganggap remeh persolan dan menebarkan janji-janji palsu atau Hoax.”Dikatakan Bertolomius Korain, Koordinator Umum Mahasiswa Maybrat DIY dalam Press Release didampingi belasan Mahasiswa asal Maybrat pada kamis (23/04/2020) dari Yogyakarta.

Mahasiswa dan Pelajar Maybrat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam hal ini mewakili seluruh mahasiswa se-Indonesia menerangkan beberapa poin-point penting untuk menjadi perhatian Pemda Maybrat yakni;

1.Mendesak pemerintah kabupaten Maybrat melalui dinas Pendidikan Kabupaten Maybrat untuk memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada mahasiswa Maybrat di Yogyakarta dan seluruh Indonesia.

2.Menuntut pertanggung-jawaban kepala dinas Pendidikan kabupaten Maybrat terkait stetmen dimedia koran Radar Sorong pada tanggal 8 April 2020.

3.Meminta pemerintah kabupaten Maybart transparan terhadap penggunaan anggaran covid-19.

4.Mendesak Pemerintah Kabupaten Maybrat menghentikan operasi Militer di wilyah Aifat Timur dan mendorong pemerintah kabupaten Maybrat bersama pemerintah kabupaten Teluk Bintuni untuk melakukan dialog penyelesaian masalah.

Sementara itu, Mahasiswa asal Maybrat menilai ada teror Covid-19 yang semakin parah di masyarakat Maybrat wilayah Aifat Timur hal inu dikhawatirkan dengan kehadiran militer (TNI-POLRI) dalam jumlah yang besar. Intimidasi, teror, dan ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh aparat TNI-POLRI telah membuat masyarakat hidup dalam bayang-bayang ketakutan.

“Ada yang memutuskan untuk lari ke hutan, ada juga yang mengungsi ke distrik tetangga. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menimbulkan penumpukan jumlah orang yang berpotensi mempercepat penularan Covid-19.”papar Korain kepada media ini sesuai Press Releasenya.

Menurut Informasi dalam Pers Release itu, Tim Gugus Penangnan Covid-19 kabupaten Maybrat juga telah dibentuk, dana 43 miliar juga sudah dikucurkan namun sampai saat ini belum ada laporan resmi terkait hasil kinerja mereka di lapangan. Hampir sebagian besar mahasiswa Maybrat yang sedang melakukan studi diberbagai tempat tidak memiliki pekerjaan sampingan sehingga nasib mereka sangat bergantung dari orang tua.

” Kondisi mahasiswa ini diperparah dengan adanya karangtina wilayah diberbagai kota studi sangat terisolasi dan bertahan hidup seadanya. Dana 43 miliar yang dialokasikan untuk penanganan Covid-19 juga sampai hari ini belum dirasakan oleh mahasiswa padahal sudah dijanjikan oleh kepala dinas Pendidikan pada tanggal 8 April 2020 lalu”katanya.

Berikan Komentar Anda