Balik Atas
Di Wamena,Noken Sambut Bayi Lahir
 
Pewarta: Redaksi Edisi 03/03/2015
| 3168 Views

Noken Sambut Bayi Lahir    Foto: Ronny
Bagi Wanita Lembah Baliem Wamena, Wajib Hukumnya sumbang Noken kalao
seorang bayi dilahirkan. Mereka bahkan sudaa merajut noken sejak bayi
masi dalam kandungan sang ibu. Tradisi ini memiliki makna bahwa seorang
bayi yang lahir polos tanpa busana ini harus dibungkus dengan noken
sebagai tempat tidur dan untuk digendong saat beraktifitas. Seorang Ibu
dianggap tidak tau adat kalo menjenguk bayi tanpa dibekali sebuah Noken.
Noken merupakan warisan suku-suku yang termasuk ras Melanesia yang ada
di tanah Papua. Setiap suku di Papua memberi nama sendiri untuk tas
multifungsi ini ke dalam bahasa daerah masing-masing. Masyarakat Lembah
Baliem Kabupaten Jayawijaya menyebut Noken dalam bahasa daerah adalah
Su..
Layaknya wanita didunia yang menyukai tas, tak terkecuali
Wanita di Wamena. Para Wanita di wamena merasa tidak lengkap kalau tidak
menggunakan noken atau su, pada saat mereka melaksanakan acara- acara
adat dan pesta pesta adat dan juga acara pernikahan wanita , bahkan
kemanapun mereka pergi harus menggantungkan noken dikepala, karena jika
mereka tidak menggunakan noken merasa tidak lengkap. Inilah yang
membuat wanita di wamena sangat identik dengan Noken atau Su,
Noken
atau Tas tradisonal ini memiliki banyak manfaat bagi masyarakat
Jayawijaya dan pegunungan tengah Papua, antara lain membawa hasil kebun,
kayu api, atau ternak yang dipanen dari kebun untuk dijual di pasar
atau sebaliknya. Pelajar dan mahasiswa juga banyak yang menggunakan
Noken, berukuran kecil, untuk membawa buku dan alat tulis. Bahkan di era
sekarang di Wilayah Pegunungan Papua, Noken menggantikan peran kotak
suara pada pemilihan Umum.
Dari semua manfat Su tersebut yang
paling penting bagi masyarakat Lembah Baliem Wamena adalah Su yang juga
memiliki nilai budaya yang masih sangat tinggi dan melekat di wamena.
Pada pesta adat tertentu Suh berperan penting sebagai alat barter atas
sumbangan ternak babi yang diberikan keluarga pada pesta adat tersebut.

Nilai budaya lainnya dari Su atau Noken yang hingga saat ini masi
berlaku bagi masyarakat Lembah Baliem Wamena adalah saat seorang bayi
yang baru dilahirkan. Bagi masyarakat pribumi Wamena wajib hukumnya
kalo seorang bayi dilahirkan keluarga dari sang ayah dan ibu si bayi
tersebut harus menyambut bayi itu dengan Suh atau Noken. Mereka bahkan
suda mulai merajut Su semenjak bayinya masih dalam kandungan si Ibu.
Masyarakat wamena akan dianggap tidak tau malu dan tidak tau adat jike
menjenguk bayi tanpa membekali hadiah sebuah noken. Ini sebuah tradisi
yang suda ditanamkan sejak moyang yang artinya seorang bayi yang baru
lahir dengan polos dan tanpa busana ini harus di bungkus dalam Noken,
sebagai tempat tidur, dan untuk digendong oleh sang ibu saat
beraktifitas. Ketika masyarakat mendengar kabar jika keluarganya yang
sedang hamil telah melahirkan, mereka akan menjenguk sambil membawa Suh
atau Noken yang telah disiapkan sebelumnya.
Su yang disumbang
kelurga ini jumlahnya bisa mencapai 50 hingga 100 Noken bahkan lebih
tergantung jumlah keluarga sang ayah dan ibu dari bayi baru lahir
tersebut.
Lalu apa yang akan dilakukan setelah noken-noken ini
terkumpul? tentu akan digunakan untuk mengisi bayi . Tapi sebelumnya
sebagian dari Su ini akan diserahkan kepada keluarga bapak dari sang
bayi yang oleh masyarakat wamena menyebutnya su korok. Korok (melepaskan
dari gantungan) artinya melepas noken dari gantungan dan menyerahkan
kepada keluarga sang aya dari si bayi, sebagai bentuk melepaskan beban.
Korok harus diserahkan kepada keluarga ayah bayi baru lahir tersebut
tidak meneruskan marga atau fam kelurga Wanita melainkan keluarga
laiki-laki sehingga Korok harus diserahkan kepada pihak laki-laki.
Setelah sebagaian dari noken atau suh tersebut dibagi sebagai Korok
kepada keluarga Selebihnya su yang telah disumbang keluarga digunakan
sebagai tempat untuk mengisi atau menggendong bayi.
Tradisi mengisi
bayi kedalam noken atau suh tidak serta merta mengisi bayi tersebut
kedalam noken tapi disini ada juga aturannya tersendiri.
Su yang
terkumpul tersebut selanjutnya akan dibagi menjadi 3 bagian untuk
mengiisi bayi, masing-masing “Aleka, A Su” (tempat isi bayi), “salek”
Penutup Lapisan ke dua dan “Asu Lakulik” atau penutup paling luar.
Ketiga lapisan ini masing-masing akan disisipkan 4 lembar Su.
4
noken Pada lapisan pertama atau yang disebut dengan Aleka Su / Asu akan
disatuhkan dan diikat sebagai tempat untuk mengisi bayi. sebelum
mengisi bayi pada bagian ini, dahulu sebelum adanya pemerintah akan
disi daun pisang dan beberapa daun lain sebagai alas. Namun dierah saat
ini, lapisan ini akan dimasukan kain dan bantal menggantikan daun pisang
tersebut.
Sementara 4 Noken lainnya dilapisan ke 2 yang disebut
Salek sama halnya dengan Aleka Su, bagian ini juga akan diikat jadi
satu, tapi salek tidak bisa mengisi bayi, karena 4 lembar noken tadi
bukan disatukan layaknya 4 Su Pertama melankan disusun.
Selanjutnya
Lapisan paling luar adalah Suh Lakulik. Bagian ini yang biasanya harus
pilih Su atau noken yang warnanya menarik, bagian paling luar ini tidak
bisa dipasang sembarang noken. Biasanya akan dipilih oleh para ibuh yang
suda cukup berpengalaman untuk menentukan warna maupun kualitas dari
noken tersebut,
Setelah dipilih empat Noken, sama halnya lapisan
pertama dan ke-2, Lapisan ini juga akan diikat jadi satu. Tapi cara
mengikatnya tidak seperti lapisan-lapisan sebelumnya. Caranya setiap
pegangan dari ke-4 noken tersebut akan dililit jadi satu sampe tidak
kelihat bagian pangkal bawa sehingga orang awam akan sulit membedahkan
bagian pangkal dan ujung atau pegangan dari Noken tersebut.
Dalam
penggunaannya lapisan ini sewaktu-waktu bisa dirubah –penampilan
luarnya. Dalam hal ini dari 4 noken pada lapisan ke-3 tersebut sang ibu
dari si bayi sewaktu- waktu bisa gonta-ganti noken dengan warna yang
berbeda setiap saat jika ingin menggantinya.
Setelah semua tahapan
ini dilalui, selanjutnya si bayi baru lahir akan di sisi kedalam Su
Noken sebagai tempat tidur tetapi juga sebagai tempat gendong saat sang
ibuhnya beraktivitas. Cara menggendongnya bukan di lengan sebagaimana
penggunaan tas modern melainkan di kepala. Dari kepala posisi noken
menggantung ke bagian belakang dan posisi bayi persisi di bagian
Punggung ibu.
Meski saat ini masyarakat tidak lagi merajut Noken
dari bahan alami (kulit beberapa jenis kayu) melainkan noken yang
dirajut dari benang modern tapi Tradisi ini masih berlaku bagi
masyarakat Bribumi Lembah baliem – Wamena. Keluarga akan mara jika
seorang ibu yang menggendong anaknya tidak dengan Noken/ Su. Naik Motor
pun mama di Wamena tetap menggantung Su yang berisi bayi di kepala
menggantung ke bagian punggung 

Ronny Hisage

 Tulisan ini Saya
mencoba untuk mengulas salah satu Manfaat Noken Bagi Masyarakat Lembah
Baliem Wamena. barangkali anggota Group JW noken, ada yang belum tau apa
makna dan nilai budaya serta manfaat Noken, Tulisan ini semoga
memberikan gambaran apa itu noken kepada anda semua Salam.

Berikan Komentar Anda