Balik Atas
Dialog Damai : Sebuah Refleksi Teologis
 
Pewarta: Redaksi Edisi 13/09/2019
| 295 Views

Oleh Zeperino Juan Izako

Perjuangan Dialog Damai
Masih terekam dalam memori tentang dialog damai yang diprakarsai Pater Dr. Neles Kebadabi Tebai Pr. Semangat dan konsistensinya mempelopori perdamaian di Tanah Papua menghantar beliau sampai ke istana negara 2017 silam. Dihadapan Presiden Joko Widodo, Pater Neles menyuarakan gagasan dialog sebagai jalan penengah konflik di Papua. Beliau menyadari bahwa terdapat dua kubu yang sama-sama memperjuangkan prinsip harga mati di Papua. Ada yang menggaungkan “NKRI harga mati!” Ada pula teriakan balasan “Merdeka harga mati!”. Bila selamanya tak ada titik temu, maka kematianlah yang akan selalu terjadi (Neles Tebay : 2015).
Wacana dialog Jakarta – Papua sebenarnya telah dikampanyekan oleh Jaringan Damai Papua bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak 2009 hingga kini. Dialog bukanlah solusi melainkan sebuah sarana demi mencari, mengidentifikasi masalah-masalah dan merumuskan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah di Papua (Jubi, 25/8/2018). Terutama dialog perlu dipandang sebagai sarana yang tepat untuk menyelesaikan konflik tanpa pertumpahan darah. Dalam hal inilah, bagi sosok Neles Kebadabi, dialog bukan soal mencari siapa benar dan siapa salah.

Demi maksud mulia tersebut, selain sebagai dosen di STFT “Fajar Timur”, selama hidupnya ia rela menghabiskan seluruh waktu, tenaga dan pikirannya hanya untuk mewujudkan dialog. Menurutnya, dialog adalah sarana untuk menjembatani kedua pihak; mendiskusikan dan merumuskan solusi dalam tataran kesederajatan sebagai sesama manusia. Dialog adalah pemenuhan nilai kemanusiaan demi mengakhiri konflik, mengangkat martabat dan menjamin kesamaan derajat. Semuanya demi terciptanya Papua Tanah Damai.
Figur P. Neles bukanlah sosok single fighter. Demi mencapai tujuannya, beliau menggandeng berbagai NGO baik di dalam maupun luar negeri, denominasi gereja, tokoh masyarakat, tokoh adat, pemuda dan perempuan. Ia melakukan berbagai pendekatan dengan pihak pemerintah di Jakarta sekaligus juga dengan orang Papua yang terus – menerus memperjuangkan kemerdekaan Papua.
Bercermin pada Allah
Dalam terang iman kristiani, Allah yang satu hadir dalam rupa tiga pribadi. Ketiga pribadi itu bersifat satu, tidak terpisah dan tidak terceraikan. KetigaNya menciptkan segala sesuatu dalam kesatuan dan segala sesuatu lahir melalui dialog. Kitab Kejadian menyebut ungkapan “Baiklah Kita” (Kej 1:27), sebagai ungkapan pembuka dari rentetan panjang karya agung Allah (Opus Magnus). Di akhir penciptaan, Ia bersabda bahwa kesemuanya itu “baik adanya” (Lih. Kej 1:31). Pada tahap inilah kita menyadari bahwa segala kebaikan yang diciptakan Allah muncul berkat adanya dialog dalam kesatuan di antara ketigaNya.
Allah yang selalu berdialog juga hadir dalam tindakannya yang ingin selalu dekat dengan manusia (Allah yang Imanen). Di taman firdaus, Allah bergaul mesra dengan manusia. Sekalipun ada periode jatuh-bangunnya manusia, Allah tidak lepas dari tanggung jawabnya sebagai pencipta. Allah terus berusaha hadir dan ingin selalu berdialog dalam dinamika kehidupan manusia.
Ia memberi ruang untuk di-lobby oleh Musa. Ia juga memberi peluang kemungkinan bagi Abraham yang mewakili perasaan umat di Sodom dan Gomora. Sebagai hasil dari dialog, Allah tidak jadi murka terhadap Israel dan Lot diselamatkan dari Sodom dan Gomora. Bahkan puncak dari dialog antara Ilahi dengan Insani hadir dalam diri Allah Putra yang menjadi manusia. Ia hadir dan terlibat penuh dalam suka-duka, kegembiraan dan harapan manusia.
Ketiga pribadi Ilahi yang berdialog dalam kesatuan ketigaNya baiklah menjadi acuan bagi penyelenggara dialog. Dialog harus dimaknai dalam kerangka kesatuan sebagai sesama manusia dan dalam kedudukannya sebagai sesama saudara. Relasi antara pencipta dan ciptaan baiklah juga menjadi acuan bagi insan dialog. Ilahi yang Maha tinggi saja memberi ruang untuk terjadi perjumpaan personal.
Ia yang tak terbatas merendahkan dirinya untuk masuk dalam dimensi rasio manusia. Sebaliknya manusia jadi mahfum arti tindakan Allah. Pemahaman yang mendalam tentang Allah dari pihak manusia dan dinamika perasaan manusia yang dialami langsung oleh Allah baiklah menjadi dasar untuk berdialog. Dialog perlu ditandai dengan keterbukaan diri, menghilangkan sekat-sekat pemisah demi terciptanya saling paham di antara sesama manusia.

Dialog Butuh Keterlibatan Semua Pihak
Upaya presiden Jokowi dalam menggenjot pembangunan sarana-prasarana di Papua memang patut diapresiasi. Beliau berupaya mengejar ketertinggalan Papua yang terkesan jauh dari pembangunan. Namun menurut hemat penulis, pendekatan parsial tersebut belum cukup menjawab kompleksitas persoalan Papua. Persoalan Papua melibatkan banyak lini kehidupan manusia. Dalam hal inilah gagasan Pater Dr. Neles Kebadabi patut dipertimbangkan lagi. Beliau menyuarakan dialog dalam berbagai sektor kehidupan. Dialog sektoral dipandang penting untuk mencabut akar persoalan yang membelenggu kemajuan Papua dalam berbagai bidang kehidupan.
Dialog dipandang penting mengingat dialog adalah bagian dari pendekatan humanistik yang mengedepankan sisi rasa dan bukan lagi sekadar rasio. Hanya melalui dialog martabat manusia diakui dalam tataran kesederajatan yang sama. Kesediaan duduk bersama dan saling mendengarkan adalah tradisi luhur leluhur yang hidup dalam budaya kita. Di samping itu, dialog perlu menjadi suatu gerak bersama yang melibatkan semua aktor yang dianggap kompeten dan memahami benar masalah Papua. Dalam hal ini, patut disebut 9 aktor yang pernah diungkapkan Pater Neles. Aktor-aktor tersebut antara lain orang asli papua, semua paguyuban yang hidup di tanah papua, penyelenggara pemerintahan daerah, Polri, TNI, Semua perusahaan swasta, pemerintah pusat, TPN/OPM, dan orang papua diaspora.

Secara teknis dialog patut dirangkai dalam kesadaraan sebagai sesama saudara. Setiap insan dialog perlu keluar dari dirinya sendiri (dialogue) dan membuka diri untuk masuk dalam alam pemikiran dan perasaan orang lain. Perlu ada kebesaran hati untuk mengakui kekhilafan demi terciptanya jalan keluar yang bermartabat. Suatu jalan keluar yang paling menjawab persoalan Papua yang tujuannya demi terciptanya kebaikan bersama (bonnum comunne). Jangan sampai insan dialog terlalu terkungkung dalam pemikiran yang menitikberatkan pada apa yang sudah kita beri selama ini dan apa yang sudah mereka ambil selama ini. Dialog perlu dipandang dari kacamata Allah demi menciptkan kebaikan yang sungguh-sungguh “baik adanya”.

Penulis adalah Mahasiswa STFT “Fajar Timur” Abepura.

Berikan Komentar Anda