Balik Atas
DIALOG: Sarana Penyelesaiaan Konflik Yang Paling Humanis
 
Pewarta: Redaksi Edisi 07/06/2019
| 997 Views
Image result for damai vector
Fingers Hand Peace(Foto:pixabay.com)

Oleh: Florentinus Tebai*)

Tanah Papua selain dikenal sebagai tanah yang kaya akan sumber daya alam. Tanah Papua juga dikenal sebagai medan konflik. Konflik itu sudah terjadi sejak lama dan belum diselesaikan secara menyeluruh. Serentetan konflik itu terjadi sejak pemerintah Indonesia menguasai Papua pada 1 Mei 1963. Ada banyak konflik yang sudah terjadi, diantaranya, Operasi Sadar (1965-1967), Operasi Brahtayudha (1967-1969), Operasi Wibawa (1969), Operasi Militer di Kabupaten Jayawijaya (1977), Operasi Sapu Bersih I dan II (1981), Operasi Galang I dan II (1987), Operasi Tumpas (1983-1984), dan Operasi Sapu Bersih (1985) (Tebay, 2015:1).

Konflik demi konflik terus terjadi dalam perjalanan hidup di atas tanah ini. Konflik yang terus terjadi itu sudah mengorbankan banyak warga sipil. Konflik itu juga masih terjadi hingga kini. Satu peristiwa di akhir-akhir ini adalah adanya penembakan oleh TIN/ Porli terhadap masyarakat sipil di Basim ibu kota Distrik Fayit, Kabupaten Agast-Asmat. “Uskup Agast sebut Penembakan di Asmat sebagai tindakan tidak berperikemanusiaan” (Jubi, Minggu, 2 Juni 2019). Selain itu, Penembakan juga terjadi di Kabupaten Deiyai, “Pastor Santon Tekege: Kekerasan Terus Terjadi, Kapan Tanah Papua damai?” (Jubi,  Jumat, 31 Mei 2019). “Kasus Penembakan di Kabupaten Deiyai melukai kaki Melkianus Dogopia dan menewaskan Yulius Mote. Sementara penembakan di Distrik Fayit menewaskan Xaverius Sai (40), Nicolaus Tupa (38), Matius Amunep (16) dan Frederikus Inepi (35) dan melukai  Jhon Tatai (25)”.

Kekeran demi kekerasan terus terjadi hingga kini. Sebagaimana kekerasan sudah terjadi sejak dahulu. Pertumpahan darah bagi jiwa-jiwa terus terjadi di mana-mana di hampir seluruh tanah Papua. Melihat dari realita ini. Maka, Pertanyaannya adalah siapa yang akan mengatasi dan menyelesaikan konflik yang sudah terjadi sejak 1 Mei 1963 dan semua konflik juga yang sedang terjadi saat ini? Bagaimana cara menyelesaikannya? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan pertanyaan amat fundamental dalam upaya menyelesaikan konflik, supaya bersama-sama menciptakan Papua Tanah Damai. Jawaban penting dari pertanyaan di atas ialah bahwa aktor dari konflik itu adalah TNI/PORLI dan Masyarakat sipil yang menjadi korban jiwa. Oleh karena itu, metode yang dapat digunakan dalam upaya menyelesaikan semua konflik, dialog.

Pentingnya Memahami Dialog

Apa itu Dialog?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pada edisi keempat, dialog, dialogis berarti; percakapan, cerita, bersifat terbuka dan komunikatif: Membutuhkan penjelasan untuk masalah tertentu. Jadi, Dialog, dialogis adalah sebuah percakapan atau cerita yang sifatnya terbuka dan komunikatif. Tidak hanya itu, dialog juga berarti perbincangan antara dua atau lebih dalam rangka membahas suatu perihal, masalah dan suatu ide tertentu. Dalam konteks ini, Dialog dipahami sebagai suatu komunikasi yang paling mendalam dan saling menyentuh antara satu dengan lain. Dari hati ke hati. Saling menghargai dan menerima antara sesama, mengenai siap dirinya, tanpa saling menjatuhkan kedubelapihak.

Dialog juga mempunyai kualitas yang tinggi, karena dalam dialog semua orang dilibatkan tanpa terkecuali. Artinya bahwa dalam dialog semua pihak berpartisipasi dan mengambil bagian. Semua yang bertika datang hadir untuk berbicara mengenai apa yang dialami dan dirasakan. Juga mengenai apa yang dilihat dan didengar dari kenyataan yang terjadi. Oleh karena itu, hakikat dari dialog adalah sifat terbuka. Tidak ada yang rahasia. Tujuan akhir yang dicapai bersama dalam dialog adalah suatu kedamaiaan dalam hidup bersama.  

Syarat-syarat dalam dialog

Pertama: Mempunyai maksud dan tujuan. Semua pihak yang bertikai mesti menentukan maksud atau tujuan yang ingin dicapai bersama dalam dialog, supaya ketika pelaksanaan dialog berlangsung semua pihak dapat mengutarakan pendapatnya sesuai dengan maksud dan tujuannya. Kedua: ialah semua pihak yang dilibatkan paling tidak harus mempunyai wawasan yang luas dan menyeluruh mengenai persoalan yang akan dibicarakan dalam dialog, supaya dengan wawasan yang luas semua pihak dapat berbicara sesuai topik persoalannya secara baik dan benar.

Ketiga: Mereka yang dilibatkan dalam dialog mempunyai kehendak baik. Artinya, mereka yang dilibatkan dalam dialog itu tidak boleh ada niat lain, selain datang untuk mencari apa akar persoalan mendasar, sehingga pada akhirnya dapat menemukan suatu kebenaran. Juga semua pihak diharapkan, supaya dapat menjauhkan diri dari adanya rasa saling curiga. Sikap terbuka dan saling menerima juga merupakan hal penting dalam dialog.

Keempat: adalah menciptakan suasana yang aman dan damai. Semua pihak yang bertikai, supaya harus bertekat dan berkomitmen untuk menciptakan suasana yang aman damai. Selain itu, semua pihak mesti menghindari emosi dan jangan merasa diri hebat, tetapi semua pihak yang terlibat dalam dialog harus saling menghargai dan menghormati antara satu dengan lainnya, supaya dalam suanana yang demikian dialog dapat diwujudkan secara maksimal. Kelima: adalah dalam dialog, semua pihak diharapkan, supaya harus mengedepankan sikap jujur, terbuka, rendah hati dan tulus. Juga tidak mencari kelemahan atau kekurangan antara satu dengan lainnya sebagai partner dalam dialog. Tetepi, harus membangun sikap saling percaya antara satu dengan lainnya sebagai partner dalam dialog.

Siapa Yang Mesti ada di dalam dialog?

Tidak lain dari mereka yang mestinya dilibatkan dalam dialog adalah TNI/Por;li dan juga masyarakat sipil sebagai korban kekerasan. Keterlibatan dari keduabelah pihak ini amat penting dalam dialog, karena keduabelah pihaklah yang menjadi aktor juga menjadi korban. Ketika kedua bela pihak sudah terlibat, maka langkah selanjutnya, ialah dengan kepala dingin dapat membicarakan secara bersama mengenai semua konflik yang sudah, dan sedang dialmi oleh kedua belah pihak itu sendiri. Keterlibatan mereka akan menentukan roses selanjutnya, yaitu berunding mengenai apa yang mestinya dibicarakan dalam dialog.

Apa yang Mesti dibicarakan dalam dialog?

Yang harus dibicarakan dalam dialog adalah seluruh konflik yang sudah dan sedang terjadi. Juga berbicara mengenai bagaimani mencapai tujuan atau maksud, yakni menciptakan Papua Tanah Damai. Tanah Papua mesti dijadikan sebagai tanah damai dan bukan medan konflik. Untuk menciptakan damai itu hanya dapat dilakukan melalui dialog dan bukan melalui jalan kekerasan. Almr. Dr. Neles Kebadabi Tebay, Pr pernah mengatakan bahwa“Kita mau berdialog, karena hormat akan nilai kehidupan. Dialog dilakukan untuk menciptakan perdamaiaan di Papua” (Tebay, 2015:26-27).

Dalam kaitannya dengan ini, Yohanes Kayame dan Aris Yeimo juga melalui ulasannya sedikit memberikan wawasan kepada kita bahwa hanya melalui dialoglah jalan terbaik dalam upaya menjadikan Papua Tanah Damai. Dialog: Sarana menuju Papua tanah damai (Jubi, 25 September 2018), Perdamaian harus diperjuangkan (Jubi, 20 Semtember 2018). “Konflik Papua tidak boleh diselesaikan secara parsial, tetapi konflik Papua harus diselesaikan secara bermartabat, yaitu dengan saling menghargai, saling menghormati antara satu sama lain tanpa ada pihak yang dirugikan dalam dialog” (Tebay, 2015:1-2).

Akhirnya bahwa mengedepankan dialog dalam menyelesaikan berbagai konflik apapun di atas tanah ini sangatlah fundamental, karena hanya melalui dialoglah setiap orang merasa saling dihargai dan dihormati sebagai manusia ciptaan Tuhan. Tidak lain dari dialog adalah juga bahwa dialog merupakan sebuah metode atau cara dalam upaya mencari dan menemukan akar konflik. Oleh karena itu, Hal paling penting dalam upaya menjadikan Papua Tanah Damai adalah dialog. Sebagaimana dinyatakan bahwa di dalam dialog itu sendiri mesti dilibatkan semua orang yang bertika, yakni TNI/Porli dan Masyarakat Sipil tanpa terkecuali. Di mana di dalamnya dengan hati dan berkepala dingin membahas soal semua permasalahan  yang sudah terjadi dan sedang terjadi di atan tanah Papua. Sekali lagi bahwa dialog mesti dilasanakan demi menghargai dan menghormati martabat manusia. Oleh karena itu, dialog adalah jalan penyelesaiaan konflik yang paling humanis.

*)Penulis adalah Mahasiswa Semester II pada Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi “Fajar Timur”, Abepura, Jayapura, Papua.

Berikan Komentar Anda