BALIK ATAS
Dinkes Papua Tetapkan Status KLB DBD di Kabupaten Mappi
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 10th Februari 2016
| 2116 DIBACA
Kepala Dinas Kesehatan Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes di dampingi sekretaris Dinas dan para kepala seksi saat memberikan keterangan pers di kantor dinas kesehatan Papua di Kotaraja, Rabu (10/2/2016)
Kepala Dinas Kesehatan Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes di dampingi sekretaris Dinas dan para kepala seksi saat memberikan keterangan pers di kantor dinas kesehatan Papua di Kotaraja, Rabu (10/2/2016)

Jayapura,10/02/2015,PAPUALIVES.COM – Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Kesehatan akhirnya menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) penyebaran Demam Berdarah (DBD) di Kabupaten Mappi pada tahun 2016.

Kepala Dinas Kesehatan Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes menjelaskan, penetapan status KLB DBD di Kabupaten Mappi ini karena kasus DBD yang muncul di Kabupaten Mappi itukan cepat dan bersamaan serta jumlah kasus meningkat walaupun tidak ada kematian.

“Jika dilihat dari data Kabupaten Mappi sudah pernah ada kasus DBD di bulan Desember 2012 tetapi belum ada penetapan KLB dan kasus mulai meningkat di tahun 2015 pada bulan November 3 kasus dan Desember 10 kasus hingga bulan februari terdapat 36 penderita DBD, 12 orang positif dan 24 orang demam dengue dengan gejalan yang sama DBD,” kata Kadinkes Alo Giyai yang didampingi Sekretaris Dinas dan para kepala seksi saat memberikan keterangan pers di kantor Dinas Kesehatan Papua, di Jayapura, Rabu (10/2/2016).

Lebih lanjut, kata Alo, walaupun Papua tidak masuk dalam 7 Provinsi yang ditetapkan status KLB DBD secara nasional, namun potensi demam berdarah bisa berkembang biak di 29 Kabupaten/Kota di Papua.

Penetapan status KLB DBD di Kabupaten Mappi ini sesuai surat pemberitahuan KLB dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mappi dan surat keputusan Bupati Mappi menetapkan status KLB DBD 2016. “Papua juga berpotensi KLB kalau kita lihat dari beberapa daerah sudah mulai ditemukan beberapa kasus yang agak kehilatan seperti di Kabupaten Mappi,” jelasnya.

Berdasarkan data kasus Dinas Kesehatan Provinsi Papua pada bulan Januari 2016 sampai dengan minggu ke 6 kalender epidmiologi terdapat 47 kasus dan 1 kasus meninggal dunia.

“rinciannya, bulan Januari 37 kasus, februari 10 kasus, Jadi total kasus diawal tahun 2016 47 kasus dari 4 Kabupaten endemis DBD diantaranya, Kota Jayapura 20 kasus, Kabupaten Jayapura, 1 kasus, Keerom 8 kasus, Sarmi 3 kasus dan Kabupaten Timika 3 kasus,” ungkap Alo.

Sebenarnya, kata Kadinkes, penetapan status KLB di Kabupaten Mappi terlalu cepat tapi lebih baik kita lakukan ini supaya kita bisa konsentrasi penuh agar tidak menyebar lebih luas lagi. “Jadi, kalau kasus DBD itu muncul pada daerah yang belum pernah mengalami DBD itu sudah termasuk KLB walaupun cuma satu kasus,” ujarnya.

Untuk menekan penyebaran DBD di Papua lebih luas, lanjut Giyai, saat ini pihaknya telah membentuk tim penanggulangan DBD di Papua dan Kabupaten Mappi dengan melaksanakan penyuluhan perorangan, kelompok dan massal melalui mobile promosi kesehatan dan pembagian leaflet, brosur serta poster.

“Jadi, saat ini alat fogging di Kabupaten Mappi ada 7 yang difokuskan pada daerah penyebaran DBD di Distrik Obaa dan Nambiyoman Bapay,” kata Giyai.

Tapi yang lebih lagi, lanjut Alo, penularan penyakit DBD di Papua juga terjadi setelah anak-anak sekolah pulang libur atau berpergian ke daerah lain itu biasa dia bawa bibit penyakit BDB.

“Kita sudah punya protap dan telah berkoordinasikan dengan semua Dinas kesehatan Kabupaten/Kota dan RSUD supaya protap yang ada itu segera dilaksanakan sesuai aturan,” bebernya

wiyainews.com

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM