Balik Atas
Emawa Dan Owaada; Konsep Penyatu Keberagaman Di Kabupaten Paniai
 
Pewarta: Redaksi Edisi 18/01/2015
| 850 Views
Jhon NR Gobay Ketua DAP Paniai     Foto : IST
PengantarEmawa dan Owaada adalah sebuah nilai budaya yang telah ada sejak dahulu
dan telah hidup dan berkembang bersama Masyarakat Adat Suku Mee/ Ekagi,
sehingga nilai inilah yang telah diyakini menjadi sebuah nilai yang akan
tetap dipertahankan bersama dengan upaya mencari dan menemukan jati
diri.


Emawa dan OwaadaOwaada adalah bahasa Suku Mee/Ekagi di Papua yang artinya Pagar Rumah,
Emawa sebagai rumah laki-laki, namun dalam kehidupan sehari masyarakat
biasanya memahami lebih dalam yaitu Owaada sebagai kebun bagi tanaman
yang diyakini memunyai nilai khusus dalam budaya karena keberadaannya,
sangat terkait dengan Tokoh dalam gerakan mesianis dalam Suku Mee/Ekagi.
Disatu sisi Emawa dipahami sebagai sebuah rumah kebenaran,yang
diartikan dengan: tempat ini adalah tempat pendidikan, tempat membangun
relasi dengan sesama, dan tempat mensyukuri kehidupan dari Sang Pencipta
atau yang disebut Ugatame.


Kehadiran Gereja pada tahun 1938, telah membagi masyarakat ini
menjadi dua kelompok yaitu Katolik dan Protestan, perbedaan ini makin
diperlebar dengan kebiasaan hidup para penyiar agama serta pengaruh
politik di Negeri Belanda. Hal ini juga disebabkan oleh Tokoh Gereja
yang lulusannya Sekolah Teologi setingkat SLTP. Kesadaran akan
pentingnya Persatuan mulai muncul sejak tahun 2005, melalui Musyawarah
Pastoral, Gereja Katolik menggagas hidup menggereja dengan menggali
kembali konsep Emawa dan Owaada, karena konsep ini juga diketahui dan
diyakini oleh Masyarakat Adat Suku Mee yang beragama Protestan. Dewan
Adat Paniai dalam Musyawarah Adat telah membuat keputusan adat dan
diajukan ke Pemda. Sejak itu konsep budaya Emawa dan Owaada menjadi
nilai yang diterima oleh kelompok masyarakat majemuk, sehingga mulai
dibangun Emawa di Gereja- Gereja, sebagai symbol budaya, dan itu adalah
Rumah Kebenaran dan Owaada sebagai Kebun Kehidupan, dengan nilai ini
telah memunculkan sebuah kesadaran bahwa Masyarakat Adat Suku Mee/
Ekagi.

Kesimpulan Konsep budaya Emawa dan Owaada telah menjadi Penyatu dengan
dasar Suku Mee/Ekagi, mempunyai satu Tuhan yang dikenal Ugatame (Sang
Pencipta) dalam perbedaan keyakinan sebagai orang yang beragama Katholik
dan Protestan dan Perbedaan wilayah adat.

Oleh : John NR Gobai

*Penulis adalah Ketua Dewan Adat Paniai dan Aktivis Hak-Hak Masyarakat Adat.
Berikan Komentar Anda