BALIK ATAS
Emawa; Pusat Pemerintahan Adat Meeuwo
PENERBIT:PPWI MEDIA Redaksi PAPUALIVES.COM 24th Maret 2016
| 1045 DIBACA
SAMSUNG DIGITAL CAMERA
Yameuwa (Rumah Adat Laki-Laki) di Kabupaten Paniai , (Foto:Ist)

Oleh: John NR Gobai

Pengantar

Emawa (Bhs Mee/Ekagi); Nduni (Bhs Moni); Ndone (Bhs Wolani); Pilamo(Bhs Dani); Isorei (Bhs Damal/Amungme); Kince ( Bhs Nduga), Kunume (Bhs Lani) biasanya di kenal sebagai Rumah Laki-laki. Dalam budaya suku-suku ini tempat ini biasanya digunakan sebagai tempat mereka melakukan Musyawarah, melakukan Praktek Demokrasi dalam usaha mencapai suatu kesepakatan bersama, dalam bahasa Mee/Ekagi dikenal dengan istilah Mana Enaimo Wegai, hal yang serupa juga biasanya dilakukan oleh suku-suku lain di Papua.

Emawa Pusat pemerintahan asli

Proses musyawarah memang bukan suatu proses singkat sebab semua pihak perlu mengutarakan pendapat-pendapatnya sebagai alternative dan tambahan maupun sumbangan pemikiran dalam menentukan arah dan wujud dan cara untuk pemecahan masalah sebagai media untuk mencari kebenaran atau pengambilan keputusan. Berdemokrasi atau bermusyawarah dalam Budaya Suku Mee/Moni/Wolani, Dani Nduga dan Damal adalah untuk membantu memancing masukan-masukan pendapat dari anggota masyarakat, dalam Emawa/Nduni/Ndone/Honai/Isorei demokrasi yang mereka anut adalah demokrasi bercirikan “saling mendengarkan atau dengar pendapat”. Emawa/Nduni/Ndone/Honai/Isorei adalah Tempat Musyawarah atau Tempat Melakukan Praktek Demokrasi dalam bahasa moni di kenal dengan istilah Muna; dalam Bahasa Mee/Ekagi dikenal dengan nama Mana Wegai, ditempat ini segala hal baik hal yang baik maupun tidak baik mereka bicarakan antara lain: Pembicaraan tentang pelestarian nilai-nilai adat, Perkembangan budaya, Marga, kehidupan dalam masyarakat, penyelesaian masalah serta hal-hal lain tentang nilai-nilai yang datang dari berbagai pihak, yang datang kepada Masyarakat Adat. Emawa/Nduni/Ndone/Kunume/Isorei juga mereka jadikan sebagai Tempat Pendidikan, bagi Generasi-generasi Muda/Anak-anak mengenai nilai-nilai dan norma-norma hidup agar dapat hidup lebih baik, dalam pendidikan nilai adat itu juga diajarkan untuk memahami Larangan-larangan dan Perintah-perintah dalam melaksanakan hidupnya, tempat itu juga dijadikan sebagai tempat untuk menceritakan hal-hal tentang sesuatu melalui dongeng-dongeng. Emawa/Nduni/Ndone/Honai/Isorei juga merupakan Tempat Tuan Rumah (Emawa/Nduni/Ndone/Honai/Isorei untuk Menjamu Tamu dari Emawa/Nduni yang lain, Kampung yang lain, dari Daerah yang jauh. Emawa merupakan kekayaan yang haruslah tetap dipertahankan karena ia merupakan sebuah Rumah Kebenaran, oleh karena dari dalam Rumah Kebenaran itu akan terpancar Touyemana (Ajaran tentang hidup)

Oleh karena itu ia sangat akrab dan merupakan hal yang hakiki/mendasar sehingga sampai kapanpun selama Masyarakat adat papua berada diatas muka bumi ini, ia tidak boleh hilang tetapi harus menjadi bagian yang Integral dalam hidup manusia Relevansi Emawa saat ini Emawa/Nduni/Ndone/Kunume/Isorei adalah Tempat Musyawarah atau Tempat Melakukan Praktek Demokrasi, ditempat ini segala hal baik hal yang baik maupun tidak baik mereka bicarakan antara lain perkembangan marga, kehidupan dalam masyarakat, penyelesaian masalah serta hal-hal lain tentang nilai-nilai yang datang dari berbagai pihak yang datang kepada masyarakat adat. Oleh karena itu agar pembangunan dapat berjalan dengan baiak maka Emawa haruslah dapat dijadikan sebagai basis Tempat Perencanaan Pembangunan di Kampung, Tempat membicarakan tentang sebuah rencana atau proyek yang akan dilaksanakan oleh pihak-pihak baik swasta social atau profit di kampung atau distrik sehingga terwujud dan nyata pelaksanaan Pembangunan Partisipatif sehingga Masyarakat Adat betul akan menjadi Subyek Aktif dalam Pembangunan. Sejalan dengan itu agar supaya Masyarakat Adat Paniyai menjadi akrab atau merasa tidak terpisahkan dalam hidup dengan Pemerintahan dan Pembangunan di daerahnya, maka baik juga jika Kampung atau RT di kampung di rubah namanya dengan Emawa/Nduni/Ndone seperti; Nagari yang ada di daerah Padang, Sumatra Barat, sehingga masyarakat merasa memiliki atau merupakan bagian yang integral karena yang ditetapkan adalah nama menurut budayanya sendiri, karena Emawa/ Nduni/ Ndone merupakan perpangkalannya Masyarakat Adat Paniai. Hal ini merupakan hal yang sangat penting, sehingga akan sangat baik jika Emawa yang pernah ada menurut marga dipakai sebagai dasar Penataan Pemerintahan Kampung, sehingga Pembangunan haruslah dimulai dari perpangkalan atau dari Rumah Adat (Emawa/Nduni).

Dalam Emawa/Nduni/Ndone/Honai/Isorei juga mereka jadikan sebagai Tempat Pendidikan bagi generasi-generasi muda/anak-anak mengenai nilai-nilai dan norma-norma hidup agar dapat hidup lebih baik dalam nilai-nilai itu mereka juga diajarkan untuk memahami larangan-larangan dan perintah-perintah dalam melaksanakan hidupnya, dengan mengajarkan tentang pelestarian tanaman asli sebagai simbol atau identitas dari keaslian masyarakat adat Penutup Emawa/Nduni/Ndone/Kunume/Isorei adalah Rumah Kebenaran, kami akan menemukan satu kebenaran jika semua orang, marga membangun Emawa/Nduni/Ndone/Kunume/Isorei dikampungnya ditempat bekas orang tuanya Untuk itu marilah kita membangun Gerakan kembali kepada Rumah Kita karena itulah perpangkalan kita, asal kita dan pusat dari hidup kita. Semoga Gerakan ini menjadi gerakan kita semua.

*Penulis adalah Ketua Dewan Adat Paniai dan Aktivis Hak-Hak Masyarakat Adat.

Berikan Komentar Anda