BALIK ATAS
Empat Aspek Penting Dalam Penamaan Marga bagi Suku Mee di Papua
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 4th Februari 2019
| 410 DIBACA
Felix Degei (Foto:Dok Pribadi)

Oleh Felix Degei*

MEE adalah nama salah satu suku asli besar yang mendiami di daerah Pedalaman Pegunungan Tengah Papua. Secara administratif daerah asal Suku Mee tersebut meliputi tiga kabupaten antara lain: Paniai, Deiyai dan Dogiyai. Suku tersebut memiliki banyak ciri keunikannya sendiri dibanding 250-an lebih suku asli yang berasal dari Papua. Salah satunya adalah Bahasa Daerah. Orang Mee menggunakan Bahasa Mee sebagai ‘lingua franca’ dalam komunitasnya. Uniknya bahasa daerah tersebut memiliki beberapa ciri khas tersendiri dalam penggunaan yang belum tentu dimiliki oleh suku bangsa lain di dunia.

Tulisan ini hendak membahas tentang aplikasi Bahasa Mee terlebih khusus dalam penamaan marga atau fam (family name). Ulasan ini sepenuhnya berdasarkan pengalaman pribadi sebagai anak muda asli Suku Mee (empirical study). Sehingga pembahasannya bisa saja berdasarkan perspektif, pengalaman serta keyakinan dari dan dalam komunitas pribadi penulis (ontology).

Ada empat hal prinsipal yang wajib diperhatikan dalam penggunaan Bahasa Mee. Keempat aspek tersebut sangat berperan penting dalam pembentukan sebuah pengertian. Namun, empat hal ini kadang salah gunakan sehingga membentuk kata ataupun frasa yang membingunkan (ambigu). Untuk itu pembahasan ini akan berfokus pada empat aspek yang mesti diperhatikan dalam Bahasa Mee.

Pertama: Dalam Bahasa Mee Semua Kata Benda Selalu Diakhiri dengan Huruf Hidup (Vokal):(a, i, u, e dan o).

Pembentukan struktur kata benda (morfologi) dengan pola selalu diakhiri dengan huruf hidup (vokal)(a, i, u, e dan o) terlihat sangat jelas dalam penamaan nama marga/fam di kalangan Suku Mee. Sebagai contoh dapat dilihat pada beberapa nama marga/fam yang ada di Daerah Mee Pedalaman Papua. Misalnya, Nawip‘a’, Kobep‘a’, Piga‘i’, Tekeg‘e’, Ukag‘o’, Mot‘e’, Peke‘i’, Edowa‘i’, Dege‘i’, Dumup‘a’, Maga‘i’, Kego‘u’, Dekep‘a’, Kido‘u’dan lain-lain.

Kedua: Dalam Bahasa Mee Tidak Ada atau Tidak Mengenal Lima Huruf Mati (Konsonan):(c, r, s, x dan z).

Tidak ada satu kata ataupun frasa dalam Bahasa Mee yang menggawali dengan lima huruf mati (konsonan) berikut(c, r, s, x dan z). Hal itupun berlaku dalam penamaan marga/fam. Sejauh ini hanya ada satu marga/fam yang menggunkan huruf pertama ‘s’ yakni ‘Semu’. Namun, penulis memiliki dua dugaan sementara atas adanya marga/fam yang unik ini. Pertama, ‘Semu’ adalah marga dari luar Suku Mee yang pada akhirnya diakui sebagai bagian dari Suku Mee. Kedua,Sebutan yang tidak memakai huruf ‘s’tapi seiring jalannya waktu akhirnya menggunakan huruf tersebut. Tentu perluh ada studi lanjut yang berfokus studi tentang asal usul adanya marga/fam ‘Semu’ sebagai bagian dari Suku Mee.

Ketiga: Ada Nama Marga/Fam Dalam Bahasa Mee yang Sering Menambahkan Dua Huruf Mati (Konsonan) di Akhir Kata: Huruf ‘w’ dan ‘y’.

Meskipun dalam Bahasa Mee setiap kata benda selalu diakhiri dengan huruf hidup (vokal), belakangan ini ada beberapa marga/fam yang sering menambahkan huruf mati (konsonan). Ada dua huruf mati (konsonan) yang paling sering ditambahkan dalam penamaan marga/fam antara lain: ‘w’ dan ‘y’. Beberapa contoh marga/fam yang paling sering menggunakan pola tersebut seperti: Piga‘y’, Peke‘y’, Teba‘y’, Edowa‘y’, Dege‘y’, Wake‘y’, You‘w’, Dou‘w’ dan lain lain. Jika ada marga/fam yang masih menggunakan dengan pola ini maka, perluh segera mengklarifikasi dengan pemilik ataupun mereka yang lebih tahu asal usulnya agar konsisten dalam penggunaan.

Keempat: Ada Marga/Fam yang Biasanya Suka Menambah Huruf Hidup (Vokal) Di Setiap Akhir Kata Secara Berulang Kali‘Double.’

Ada beberapa nama marga/fam asli Suku Mee yang biasanya suka menambah huruf hidup (vokal) di akhir kata secara berulang kali (double). Namun, ada dua marga/fam pengeculian dalam kasus ini karena memang sejak awal terdiri dari dua huruf hidup (vokal) di belakang antara lain‘Goo’ dan ‘Doo’. Sementara contoh marga/fam lain yang lazim menambahkan huruf hidup (vokal) terakhir adalah antara lain: ‘Bob‘ii’, ‘Ad‘ii’, Yob‘ee’, Ukag‘oo’, dan lain lain. Jika ada marga/fam yang masih menggunakan dengan pola ini maka, perluh segera mengklarifikasi dengan pemilik ataupun mereka yang lebih tahu asal usulnya agar konsisten dalam penggunan.

Keempat aspek di atas adalah ciri khas khusus yang hanya dimiliki dalam Bahasa Daerah Mee di Pedalaman Papua. Sehingga siapa saja yang menggunakan bahasa tersebut baik dengan mendengarkan (listening), membaca (reading), menulis (writing) maupun berbicara (speaking) harus peka terhadap pola di atas. Hal ini penting untuk merawat makna pesan sebenarnya agar tidak terjadi salah paham (misunderstanding) antara pembicara (speaker) dan pendengar (listener) baik secara lisan maupun tulisan.

Selanjutnya pembahasan khusus tentang keempat aspek dalam Bahasa Daerah Mee ini membutuhkan penelitian yang mendalam oleh para ahli bahasa (linguists) ataupun sosilog dan antropolog. Namun, guna mengantisipasi adanya bias penelitian tersebut hendaknya harus dilakukan oleh orang atau penutur asli.

Akhir kata, kita merawat dan manjaga keaslian nama marga/fam kita dengan baik dan benar sama halnya dengan memuji dan memuliakan kebesaran nama Sang Khalik. Karena sesungguhnya setiap kita adalah unik, khas dan tidak ada duanya. Smoga mencerahkan! (KOHA/KOSAA/KOYA/KOYAO/AMANAIEE).

Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Asli Tanah Papua yang sedang Kuliah pada Jurusan Master of Education di The University of Adelaide Australia Selatan.

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM