Scroll to Top
Filosofi Hidup Orang Mee yang harus Dipertahankan: “Dou, Gai dan Ekowai”
Posted by Redaksi on 17th September 2018
| 429 views
Pakaian Adat Suku Mee Paniai (Foto:Dok.PapuaLives)

Oleh. Felix Degei*

MEE adalah nama salah satu Suku Asli di Tanah Papua yang mendiami di sekitar dataran Wiselmeren Paniai mulai dari Kegata sampai Makataka. Kini daerah tersebut termasuk dalam wilayah kerja pemerintahan Kabupaten Paniai, Deiyai dan Dogiyai.

Tulisan ini menjadi kebutuhan setelah memahami fenomena meningkatnya angka Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA)yang sangat signifikan belakang ini di Papua akibat kesalahan setiap pribadi yang bersangkutan, terlepas dari bayi yang tertular karena ulah orang tua. Esensi tersebut muncul setelah membaca dan menelaah tulisan di media ini dengan judul: “Angka ODHA sedang Meroket di Papua: Salah siapa?”

Dalam artikel tersebut, memuat tentang beberapa data dan fakta menyangkut angka Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) di Papua selama tiga tahun terakhir (2016-2018) dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Hasil analisis dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok usia 25-49 tahun adalah kelompok orang yang selalu mendominasi angka ODHA pada setiap tahun. Padahal mereka adalah usia produktif yang harus menjadi tulang punggung bangsa dan negara.

Salah satu cara untuk meminimalisir potensi setiap orang terjerumus kedalam sebuah masalah adalah dengan membangun kesadaran bersama.Ada banyak sumber informasi yang mampu membentuk kesadaran diri setiap orang. Misalnya dengan membaca kitab suci sesuai keyakinan agamanya masing-masing. Selain itu, hampir setiap suku bangsa di dunia ini memiliki falsafah atau pandangan hidup. Sebagaimana Bangsa Indonesia memiliki Lima Sila (Pancasila) dan Confucius bagi Orang China.

Oleh sebab itu, tulisan ini secara khusus hendak membahas tentang falsafah atau pandangan hidup yang dimiliki oleh Suku Mee di Pedalaman Papua yakni “‘DOU’ (Melihat-Look), ‘GAI’ (Berpikir-Think) dan ‘EKOWAI’ (Bertindak-Act)”. Hal ini dirasa manjadi kebutuhan karena kini banyak orang yang hidup tidak sesuai dengan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam falsafah hidupnya. Salah contoh akibatnya adalah kini Angka ODHA semakin meroket di Papua.

Perlu diketahui bahwa ketiga nilai hidup Orang Mee di Pedalaman Papua ini telah ada dan diwarisi secara turun temurun sejak jaman nenek moyang. Hal ini berarti bahwa ia telah ada sebelum agama dan pendidikan masuk di wilayah tersebut. Berikut penjelasan dari setiap nilai hidupnya.

Pertama: DOU (Melihat – Look)

DOU adalah kata kerja (verb) dalam Bahasa Mee yang artinya ‘melihat’–‘look’. Kata tersebutdalam aplikasinya memiliki konotasi yang lebih luas dan dalam. Sehingga, kata tersebut tidak mengacuh hanya pada aktivitas melihat yang dilakukan oleh indra penglihatan atau mata. Akan tetapi, ia memiliki makna melihat sembari membaca situasi yang tak terlihat oleh mata. Kata ini lazim dipakai dalam konteks pemberian saran atau wejangan kepada seseorang agar tidak terjerumus kedalam sesuatu yang tidak diingin.

Kedua: GAI (Berpikir – Think)

GAI adalah kata kerja (verb) dalam Bahasa Mee yang artinya ‘berpikir’ – ‘think’. Orang Mee pada umumnya meyakini bahwa setelah melakukan aktivitas ‘melihat’ tidaklah cukup untuk memahami suatu objek dengan saksama. Maka, selanjutnya setiap orang membutuhkan yang namanya ‘berpikir’dengan memberikan penilaian terhadap apa yang telah dilihat oleh mata. Hal ini sangat penting agar seseorang mendapatkan pemahaman yang baik dan benar terhadap objek yang telah diamati. Kata berpikir ini juga selalu diucapkan orang saat memberikan saran dan motivasi serta wejangan kepada seseorang agar apa saja yang mau dilakukan berjalan dengan lancar dan baik tanpa menganggu keamanan dan kenyamanan pihak lain yang ada di sekitar.

Ketiga: EKOWAI (Bertindak – Act)

 EKOWAI adalah kata kerja (verb) dalam Bahasa Mee yang artinya ‘bertindak’ – ‘act’. Orang Mee sejak jaman nenek moyang meyakini bahwa sesuatu yang dilakukan atau dikerjakan tanpa ‘melihat’ dan ‘berpikir’ serta ‘memahaminya dengan seksama’, maka kemungkinan besar aksi tersebut akan gagal ataupun mendapatkan hasil yang tidak maksimal. Bahkan aktivitas tersebut bisa saja membawa malapetaka terhadap diri sendiri juga orang lain di sekitar. Oleh sebab itu, keterlibatan aktivitas ‘dou’ (melihat-look), dan ‘gai’ (berpikir-think) sebelum ‘ekowai’ (bertindak-act)menjadi syarat yang mutlak agar mendapatkan hasil yang baik dan tidak mengganggu hak asasi orang lain.

Itulah ketiga nilai hidup dasar (falsafah) Orang Mee yang diwarisi sejak jaman nenek moyang sebelum agama dan pendidikan masuk di Tanah Papua. Jika dilihat dari asal muasalnya, maka ia lahir murni sebagai produk hasil daya, karya dan karsa manusia. Sehingga setiap orang hendaknya hidup mengacuh padanya karena ia sangat berkaitan erat dengan akal budi dan hati nurani. Dengan cara demikian tentunya setiap pribadi akan jauh dari segala malapetaka termasuk Penyakit HIV-AIDS yang belum ada obatnya hingga saat ini.

Guna mengakhiri tulisan ini penulis hendak mengutip pernyataan dari dua tokoh berbeda.

“‘Dimi Akauwai Awi’(Jadikanlah pikiranmu sebagai kakamu. Artinya lakukanlah segala sesuatu atas dasar perencanaan yang baik dan matang)” Ujar Alm. Manfred Mote, S. Fil.

“‘Begin with the End in Mind’(Mulailah mengerjakan sesuatu dengan ide yang muncul diakhir dalam pemikiranmu. Artinya sebelum melakukan segala sesuatu hendaknya kita berpikir dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya). Ujar Dr. Stephen R. Covey.

*Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Asli Tanah Papua yang sedang Kuliah pada Jurusan Master of Education di The University of Adelaide Australia Selatan.

Berikan Komentar Anda