Firdaus Papua Jatuh Ke Tangan Penguasa

Ilustrasi Taman Firdaus Foto:IST

Ilustrasi Taman Firdaus                  Foto:IST

Firdaus papua jatuh ke tangan penyamun. Firdaus ini diperlakukan sebagai tanah tanpa pemilik. Kekayaanya dikuras habis, pemilik tanah harta karung ini pun ditindas, dibunuh, disengsarakan dan disingkirkan. Harta karung ini akhirnya menjadi ajang perebutan dari kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik global maupun nasional. Firdaus papua di ibaratkan seprti kancil, dimana kancil terjepit dan mati di tengah perkelahian para gajah. Orang asli Papua terjepit dan mati akibat para algojo, baik dari Jakarta maupun luar negeri yang rebut taman firdaus yang penuh susu dan air madu.Dengan masuknya kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik ke Papua, maka diperkirakan jumlah orang asli Papua yang miskin akan bertambah dan nilai-nilai adat yang diwariskan turun-temurun akan terkikis habis dan peradaban orang papua hilang akibat kehidupan moderen yang sangat konsumtif sehingga muncul sikap ketergantungan atas sumber energi dan pangan dari luar Papua.

Bukan saja itu, tapi juga minuman keras akan bertambah, pengidap HIV/AIDS akan melambung, adu domba masyarakat asli dengan pendatang, pendidikan tidak berbasis budaya Papua, tingkat kesehatan yang terabaikan sehingga tingkat kematian ibu dan anak pun melambung tinggi dan akhirnya, jumlah penduduk asli pun semakin berkurang. Kondisi ini akan mendorong terbangunnya ekonomi perang, di lingkup sosial terjadi penjualan lahan tanpa pemilik, konflik horisontal pendatang dengan orang asli papua terus bermuara dan konfli antara milter dengan pemilik tanah pun bergejolak. Bukan saja itu, tetapi pelanggaran Hak Asasi Manusia pun terus meningkat.

Soalnya, di sana-sini terjadi pembunuhan, penghilangan orang, penyiksaan dan kekerasan seksual di sekitar areal pertambangan. Contoh kasus yang terjadi ketika pemilik Freeport McMorran John Cuuri melakukan perjanjian secara lisan terhadap pemilik kebun emas yaitu Taurek Natkime, bunyi perjanjian seprti ini; : “Kami, Freeport McMoran akan menanam pohon apel di tengah-tengah tanah Mulkini, nanti kalau sudah berbuah anak-anak kita akan memetiknya bersama-sama” (Jika tambang sudah menghasilkan uang, maka kita semua menikmatinya bersama).

Tetapi apa yang terjadi, pemilik kebun emas hanya menikmati penderitaan, mereka hanya disingkirkan dari tempat asalnya, dan selalu dibunuh seprti binatang buruan. Dari kehidupan inilah tertua ada suku Amungme Pemilik tanah Cartenz Emas ( firdaus papua ), Taurek natkime berkata “Saya selalu bertanya kepada Tuhan dalam pikiran dan doa-doa saya setiap hari, mengapa Tuhan menciptakan gunung, batu dan salju yang indah ini di daerah suku Amungme? Apakah karena salju dan gunung-gunung batu yang indah yang kaya dengan sumber mineral yang menarik PT. Freeport, TNI/POLRI, Pemerintah dan orang luar untuk datang ke sini dan mengambilnya demi kepentingan mereka dan membiarkan kami menderita, dan oleh sebab itu kami orang Amungme harus terus-menerus ditekan, ditangkap dan dibunuh tanpa alasan? Jika itu alasan-Mu,

Lebih baik musnahkan kami, punahkan saja kami agar mereka bisa mengambil dan menguasai semua yang kami miliki, tanah kami, gunung kami dan setiap penggal sumber daya kami.” Di mata orang Papua, tambang raksasa ini bukan hanya simbol neo-liberalisme, atau imperialisme bangsa AS, tapi juga simbol kolonialisme Indonesia. Atau lebih tepat, simbol persekongkolan antara imperialisme bangsa AS dengan kelas komprador domestik bangsa Indonesia. Sebab yang mereka lihat dan rasakan adalah bahwa penggusuran suku bangsa Amungme dan Mimika dari tanah dan perairan ulayat mereka, dilakukan oleh aparat bersenjata Indonesia, untuk kepentingan mereka yang menjadi pemegang saham PT Freeport Indonesia. Orang Papua juga bias melihat, mendengar dan membaca, bagaimana aparat bersenjata yang bertugas di daerah konsesi Freeport Indonesia, ikut memperkaya diri lewat perdagangan liar.

Oleh : Johan Rumkorem

Berikan Komentar Anda

PARIWARA

Cara Membuat Situs Iklan Baris