BALIK ATAS
Firman Tuhan dan Sapu : Yohanes 15:1-8
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 3rd Agustus 2014
| 1055 DIBACA
Foto : ilustrasi Firman Tuhan / ist
Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu (ayat. 3)

Menghasilkan buah yang banyak ketika tinggal terus pada pokok anggur
sesungguhnya bukanlah perkara yang susah. Mengapa? Karena demikianlah
biasanya terjadi ketika ranting-ranting tetap tinggal pada pokoknya, hal
ini bisa kita konfirmasih pada dunia perkebunan.


Cara
berpikir seperti ini cara berpikir yang lumrah dalam dunia perkebunan.
Yesus memang tidak memakai contoh yang rumit tetapi sangat mudah supaya
kita lebih paham apa inti keinginan-Nya. Inti keinginan-Nya sederhana,
yaitu kita tetap tinggal di dalam Dia maka kita akan semakin
menghasilkan buah yang banyak. Hal yang perlu kita tepis dari
pikiran kita adalah saya tidak bisa berbuah banyak bagi Tuhan karena
peran saya sekarang bukanlah peran yang besar sehingga buah yang saya
hasilkan juga tidak banyak berpengaruh kepada orang banyak. Jadi,
yach—begitu-begitu saja.
Ingat bahwa Yesus tidak berbicara
posisi atau jabatan untuk berbuah banyak tetapi Yesus berbicara hal
tetap tinggal di dalam Aku. Tinggal di dalam Dia tidak ada kait mengait
dengan posisi atau jabatan. Tinggal di dalam Dia berhubungan langsung
dengan hidup di dalam Dia, menetap terus di dalam Dia. Jadi persoalan
berbuah banyak bukanlah persoalan posisi atau jabatan tetapi persoalan
tinggal tetap pada Pokok Anggur itu sendiri.
Tinggal ini adalah
masalah klasik. Artinya bahwa seseorang harus berani mengambil tindakan
untuk pindah dari rumahnya ke rumah lain. Rumah lama memang telah
memberikan tingkat kenyamanan tetapi cara berpikir Yesus jelas bahwa
Tempat Tinggal yang baru yaitu diri-Nya adalah Rumah Baru yang penting
untuk dihuni.
Karena itu kita perlu memikirkan hal ini dengan
serius. Apakah Yesus telah menjadi “Rumah kita” untuk kita menetap?
Apakah Yesus telah menjadi “Rumah yang nyaman” bagi kita?

Persoalan orang Yahudi saat itu bukan masalah pada apa yang Yesus
ajarkan dan lakukan tetapi bagaimana mereka bisa membiarkan diri mereka
menetap tetap di dalam Yesus Kristus. Ini inti persolan mereka. Apa
akibatnya? Akibatnya mereka kuat di dalam tradisi mereka tetapi tidak
sepenuhnya beriman kepada Yesus Kristus sebagai Mesias.

Persoalan kita dewasa ini bukan lagi persoalan percaya atau tidak
percaya kepada Yesus sebagai Mesias atau Rumah untuk kita menetap
selamanya. Hal itu pasti kita sudah miliki. Tetapi persoalan kita dewasa
ini adalah bagaimana firman Tuhan itu benar-benar menyapu bersih diri
kita dari segala hal yang tidak dikehendaki Allah. Itulah inti masalah
kita dewasa ini. Ayat 3 Kamu memang telah bersih melalui firman
yang telah Kukatakan kepadamu. Firman itu ibarat sapu yang membersihkan
berbagai kotoran atau sampah yang masih tertimbun dalam diri kita.
Marilah kita membiarkan Firman Tuhan menyapu bersih ruang-ruang diri
kita yang masih menyimpan sampah. Dengan demikian kita dapat
menghasilkan buah yang banyak dan memuliahkan Bapa di Surga.
Firman Tuhan ibarat Sapu yang menyapu bersih kotoran dan sampah dalam diri manusia
Pnt. Alfred Monim
Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM