Balik Atas
Gempha bersama Yadupa Menggelar Lomba Debat Mahasiswa di Merauke
 
Pewarta: Redaksi Edisi 22/09/2018
| 506 Views
Foto bersama Dewan Juri,Direktur Yadupa dan Ketua Gempha (Foto:Dok.PapuaLives)

Merauke,Lomba Debat Mahasiswa Se-Kabupaten Merauke, yang diselengarakan oleh Generasi Muda Papua untuk Hak Adat (Gempha) Papua bekerjasama dengan Yayasan Anak Dusun Papua ( Yadupa) berlangsung  di Aula KPG khas Papua merauke (20/09/2018) kemarin.

Dengan mengusung tema Kearifan lokal budaya papua sebagai modal dasar pembangunan, Debat tersebut diikuti oleh sekitar 15 tim Perwakilan Mahasiswa/i Se-Kabupaten Merauke.

Ketua Gempha Papua Decler Yesnath Menyampaikan bahwa kegiatan lomba debat mahasiswa, sudah laksanakan 4 kali, awalnya di jayapura tahun 2014, 2015, 2016 dan di tahun 2018 kita selengarakan dua tempat, di jayapura dan Merauke, di tahun 2019 akan diselengarakan di manokwari.

“kegiatan ini juga di selengarakan dengan tujuan mengadvokasi isu-isu budaya yang semakin merosot dikalangan generasi muda papua. mewakili organisasi Gempha menyampaikan banyak terima kasih kepada panitia yang sudah mensukseskan kegiatan ini , terutama untuk Pmkri Cabang merauke yang dengan kesadaran membantu mensuskseskan kegiatan lomba debat ini” kata Decler  (20/09/2018) kepada media papualives.com

Kesempatan yang sama, Direktur Yadupa Leonard Imbiri, menuturkan bahwa kegiatan-kegiatan yang memotifikasi generasi muda papua untuk kembali belajar tentang budaya, adat istiadat dan tentang dirinya sendiri, kenapa karena pendidikan formal kita sedikit sekali memberi ruang bagi generasi muda untuk tahu tentang tentang kearifan lokalnya.

“hal kecil saja yang di tanya oleh salah seorang juri “bapak Yosaya Ndiken” wilayah adat masyarakat malin saja mahasiswa tidak tahu, karena mereka tidak pernah di ajarkan tentang wilayah disini. Sebenarnya kegiatan-kegiatan seperti ini di kordinir semaksimal akan memberi ruang bagi generasi mudah untuk mencintai dan kembali belajar, paling tidak kegiatan seperti ini memberi manfat bagi generasi mudah untuk pembangunan masa depan papua”tutur Imbiri yang juga menjabat Sekretaris Dewan Adat Papua (DAP) Papua.

Koordinator Jaringan advokasi dan pendidikan budaya (Jadbu) Lembaga Yadupa, Wehelmina Morin mengatakan kegiatan ini di lakukan dari tahun 2014 hingga 2016, untuk tahun 2018 baru pertama kali di merauke, kegiatan ini adalah kegiatan penyadaran dan membuka ruang bagi generasi mudah papua untuk mendiskusikan isu-isu masyarakat adat pada dampak pembangunan di papua secara khusus di merauke.

“Melihat sejauh mana partisipasi mahasiswa melihat persoalan yang terjadi di papua dan khusus di merauke, kami berharap setelah kegiatan ini mahasiswa yang ikut lomba debat malekukan aksi-aksi strategis melalui forum-forum yang ada di merauke”harap Welly.

Dalam kesempatan itu, Dosen Fakultas Hukum Musamus Nasri Wijaya mengungkapkan bahwa kegiatan seperti ini perlu di lakukan, menarik terutama dalam hal-hal yang membahas otonomi khusus papua, secara tidak langsung kita menanamkan jadi diri dan hak-hak orang asli papua.

“Begitu pula dapat merangsang mahasiswa yang ada di merauke terkait otsus. Walaupun biasanya mahasiswa lakukan diskusi itu hanya di kalangan mereka saja, tapi kali ini suatu bentuk diskusi politik, karena di hadapan juri yang pakar akan politik, hukum, bahasa, dan budaya sehingga apa yang salah akan di luruskan”terangnya.

Dalam Sesi yang sama Kepala Seksi Promosi Seni dan Budaya Kabupaten Merauke Isaias Ndiken Mengemukakan bahwa kegiatan seperi ini perlu dilakukan setiap tahun karena memberi pencerahan para generasi mudah, mereka sedang menyebut otsus , tapi mereka tidak paham isi dari otsus.Sebetulnya instrumen otsus dibuat secara terperinci sehingga jelas seperti anak-anak yang orang tuanya dari luar papua, sehingga tidak ada kecemburuan pada pembagian hak. Pengetahuan dari generasi mudah di merauke masih sangat terbatas, sehingga perlu dipertegas untuk pembelajaran di kampus.

“Eksistensi orang papua, terutama anak-anak papua, harus diperdayakan atau perlu pendampingan yang serius terhadap pemberlakuan untuk orang papua, maka harus implementasi dari akademik itu menjelaskan terkait keberhakan, karena mereka ini subjek pembangunan masa depan papua. Dari sisi budaya anak-anak mudah papua, terlalu jauh dari nilai-nilai budaya mereka sehingga banyak unsur budaya yang hilang dari pandangan mereka. Saya sebagai tokoh budaywan papua di merauke meminta kepada pihak Gempha dan Yadupa agar tahun depan harus dilakukan lagi di merauke”Jelas Ndiken.

Salah satu Mahasiswa Peserta Lomba dari Sekolah Tinggi Santo Yakubus Merauke Natalis Koyaka menyatakan setelah kegiatan lomba debat ini kami akan mengorganisir mahasiswa, pemuda melalui forum-forum yang ada, PMKRI, GMKI, HMI, dan oranganisasi BEM yang ada di 11 kampus di merauke.

“perlu ada penjelasan atau implementasi lebih lanjut sehingga membangun kesadaran mahasiswa dalam memahami budaya atau adat itu sendiri”kata Natalalis kepada media ini.

Weyambur

Berikan Komentar Anda