BALIK ATAS
Gereja di Papua
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 8th Juni 2019
| 499 DIBACA
Maximus Sedik (Doc Pribadi)

Oleh : Maximus Sedik

Peran gereja terhadap masalah yang dihadapi masyarakat papua masih dalam retorika belaka melalui mereka yang diberi gelar sebagai representasi dari mesias yang diutus untuk membebaskan umatnya. Peran mesias-mesias di papua terhadap apa yang dialami umatnya masih dalam sandiwara Pontius Pilatus dalam istana kejayaan. Gereja yang Nampak hari ini di tanah papua adalah gereja konstitusi dalam seluruh urusan gereja berada dalam politik dan sistem yang  dibangun dalam kekuasaan sehingga, seluruh persoalan yang terjadi seharusnya gereja melalui ajaran sosial gereja maupun peran pejabat gereja dalam hal ini.

Banyak masalah yang seharusnya menjadi kebutuhan dan agenda gereja untuk mencari jalan kedamaian dan keadilan yang berdasarkan prinsip injil itu sendiri. Gereja seharusnya menyediakan ruang-ruang untuk melihat dan mengkaji seluruh persoalan yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat  papua. Gereja harus melihat papua secara luas baik dari sudut pandang ekonomi-politik maupun sosial-masyarakat, bukan hanya menari diatas penderitaan melalui cara konspirasi politik. Setiap saat masalah baru yang muncul di papua apa peran gereja secara organisasi Iman untuk memberikan komentar terhadap apa yang terjadi.

Gereja secara institusi sedang berpolitik di Papua. Gereja secara imani lagi kesepian di Papua.

Oleh karena itu Gereja selalu membisu dalam hal apapun tentang eksistensi masyarakat Pribumi Papua. Suara kenabian dan imam dari Gembalanya sepi ditengah padang pasir yang meluas dan dombanya mulai kehilangan arah karena semuanya. Orang Asli Papua ke Gereja hanya untuk kesembuhan semua, luka batin yang dialami-Nya. gereja itu orang papua itu sudah ! orang papua anggota dan menjadi tubuh gereja itu sudah !, dan orang papua merasakan penderitaan penderitaan itu sudah !.

Gereja di Papua bersandiwara di tengah krisis yang dihadapi orang papua. lebih berperan pada bergemanya suara suci di alter suci tetapi refleksi kehidupan dan penderitaan menjadi hampa. Kita lihat apa yang dialami masyarakat Timor Leste pada awal perjuangannya, gerakan  katolik maupun protestan menjadi pecandu diatas penderitaan umatnya sendiri. Semua pemuka agama menjadi lidah politik indonesia sehingga, seluruh persoalan tidak berakhir.Gereja di Papua Sama seperti di Timor Leste dulu, gereja-gereja baik Katolik maupun Protestan) sangat peduli dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NkRI). Sehingga kasus yang terjadi mereka diam bahkan menjadi penyelamat. Apa yang menjadi alasan dasar mengapa gereja tidak bersuara secara keras atas kasus yang terjadi sejak papua berintegrasi dengan NKRI melalui Penentuan pendapat Rakyat hingga sekarang. Hanya saja ada kontras yang amat tajam disini. Cacing mereka merasa nyaman dan justru ketika umat mereka dibunuh dan disiksa.

Saya ingat sekitar dua tahun lalu, beberapa seminarian Fransiskan dan suster-suster turun ke jalan untuk menyerukan penghentian pembunuhan dan penyiksaan terhadap anak-anak muda Papua. Bapa Uskup langsung merasa jubahnya terbakar. Kabarnya para frater dan suster ini kena damprat.

Selama beberapa hari ini, saya membaca para intelektual Papua menyuarakan kegelisahan mereka. Karena mereka melihat apa yang terjadi di atas tanah papua terutama seluruh persoalan yang dihadapi masyarakat papua. Gereja di Papua adalah gereja yang amat asing terhadap umatnya. Gereja ini sangat ‘out of touch.’ Inilah gereja para penguasa dan penindas. Tidak sedikitpun dia bicara tentang umatnya. Dia lebih sering hadir di acara-acara Kodam, Polda atau Korem ketimbang di rumah-rumah umatnya yang miskin, bahkan lebihnya adanya menuntut untuk diberi jabatan negaranya kepadanya. Apakah gereja pernah melihat dan bersuara atas berbagai kasus penangkapan aktivis papua yang ditangkap, karena mereka berjuanga atas bangasanya yang menderita sekian tahun diatas tanah leluhurnya sendiri. Saya yakin dan yakin bahwa gereja tidak berpikir dan berbicara untuk apa yang terjadi tidak pernah terlintas dalam gereja penguasa yang berkuasa ini. Mengapa, karena gereja tidak pernah memikirkan dan merasakan bagian dari penderitaan yang dialami orang papua dan menjadi perjuangan orang papua. Rakyat Papua adalah bangsa piatu. Mereka ditinggal tanpa pembela. Bahkan gereja yang seharusnya menjadi ‘rumah singgah’ untuk mendapat penghiburan pun menampik mereka. Rakyat Papua adalah rakyat yang terlunta. Dia ditolak persis seperti Yesus sendiri ditolak oleh pemuka-pemuka agama di jamannya.

Gereja ini telah membiarkan anak-anaknya menjadi piatu!Bukan hal baru, bila umat seringkali berharap Gereja mengambil sikap tertentu di hadapan persoalan-persoalan yang terjadi di sekitar atau yang sedang menjadi wacana publik, terutama yang berkaitan dengan persoalan kemanusiaan. Uskup keuskupan Agast terlihat memberi komentar terhadap kasus penembakan yang terjadi di asmat “ tindakan itu tidak berikemanusiaan” yang dirilis oleh jubi.co.id

”Apa sikap Gereja?” menjadi pertanyaan yang selalu dinanti-nanti jawabannya. Di balik pertanyaan itu secara apriori ada keyakinan seorang penanya, bahwa sikap yang bakal diambil Gereja pastilah menjadi cerminan kebenaran terhadap seluruh penderitaan yang dialami umatnya seperti di papua. Alasannya, sudah lama, suara Gereja dianggap kritis, bersih dari kepentingan-kepentingan pragmatis dan bebas dari intrik-intrik tertentu. Pilihan sikap Gereja dianggap selalu berangkat dari dan tertuju pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Dalam terminologi Kristiani, nilai-nilai yang diperjuangkan Gereja terarah pada konkretisasi Kerajaan Allah.

Namun pesoalannya, apakah Gereja kini masih selalu mau terlibat atau minimal menyatakan sikap di hadapan sejumlah soal yang muncul di tengah masyarakat papua. Entah diakui atau tidak, kadang ada keengganan pihak Gereja untuk mengambil sikap tertentu karena takut mengambil resiko yang kadang memang harus dibayar mahal. Makanya, Gereja terkesan lamban mengambil sikap. Kalaupun cepat, maka selalu penuh dengan kehati-hatian.Karena itu pula, sebagian religius atau anggota hirarki yang dalam arti tertentu boleh dianggap vokal, aktif, berani cenderung dianggap tidak taat dan bergerak di luar jalur. Karena Negara menjadi kontrol utama.

Kesan semacam itu mungkin bisa dibenarkan. Tapi, catatannya, jangan sampai keengganan dalam mengambil sikap membuat kehadiran Gereja tak lagi mendatangan dampak sosial bagi banyak orang. Jangan sampai Gereja hanya berkutat pada urusan ritual, meski itu selalu penting dan urusan politik. Gereja ikut berperan dalam politik sangat penting karena gereja tidak memiliki kepentingan apapun dalam sistem Negara sehingga terjadi adalah pekerjaannya.

Padahal, keterlibatan dalam persoalan konkret masyarakat tempat dimana Gereja hadir perlu dilihat sebagai sebuah imperasi iman juga prasyarat jika Gereja tidak mau kehilangan relevansi kehadirannya. Ini mengandaikan juga adanya kemampuan dan kemauan Gereja sendiri untuk membaca tanda-tanda zaman.

Desakan untuk terlibat juga lahir dari kenyataan, dunia kita makin jauh dari tatanan ideal. Penyebabnya bermacam-macam. Sekedar menyebut satu fenomena, globalisasi yang diagung-agungkan ternyata berwajah ganda, mendatangkan berkah sekaligus kutuk.

Di satu pihak, globalisasi mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, di pihak lain, globalisasi yang juga ditandai perubahan cara berpikir menjauhkan kita dari tatanan hidup yang baik, ketika dalam masyarakat terjadi pembalikan nilai.

Misalnya, cita-cita mencapai keadilan sosial gagal ketika yang terjadi adalah ketidakadilan, ketika gerak ekonomi berada sepenuhnya di tangan pemodal sedangkan masyarakat kecil terus dililit kemiskinan. Cita-cita menciptakan perdamaian pun gagal ketika kita berhadapan dengan fakta permusuhan yang menyebar dimana-mana.

Penghormatan terhadap lingkungan juga makin jauh dari kenyataan. Sementara itu, pemerintah sebagai penentu kebijakan publik, de facto, tidak memainkan perannya secara bertanggung jawab.

Kasus-kasus kejahatan datang silih berganti di papua . Dan acapkali persoalan yang satu belum selesai, lahir lagi persoalan berikut terus  menerus di seluruh tanah papua.Kondisi ini makin parah karena dalam tatanan hidup bersama tercipta sebuah gejala darwinisme sosial,yaitu ideologi dan pola politik yang menyingkirkan orang miskin dan lemah tanpa mengenal ampun.

Tampaknya prinsip survival of the fittest (yang kuatlah yang bisa bertahan) sudah sedemikian memasuki ranah kehidupan sosial masyarakat. Solidaritas luntur. Individualisme pun tetap berkembang. Ini sekilas gambaran situasi kehidupan bersama kita, di mana Gereja juga adalah bagian yang sama sekali tidak terpisah dari fakta seperti ini. Tentu saja, Gereja tidak bisa lagi lari dari dunia atau hanya fokus pada urusan di sekitar altar. Gereja pun tidak bisa lagi mengajarkan rekonsiliasi di mimbar tanpa komitmen jelas dan pemihakan tegas pada perjuangan membela mereka yang ditindas, dipinggirkan dan diperas.

Pembongkaran budaya represif tidak bisa lagi hanya terjadi lewat khotbah-khotbah. Tetapi pembongkaran itu hanya mungkin berhasil di tengah perjuangan kemerdekaan  masyarakat yang menjadi korban. Bentuknya, antara lain lewat upaya-upaya nyata yang memberdayakan, entah karya sosial karitatif maupun advokasi bagi masyarakat-masyarakat yang haknya dilanggar demi kepentingan sekelompok orang.Gereja perlu memadukan altar, tempat ia menimba kekuatan untuk berkarya dan konteks tempat dimana Gereja mengalami perjumpaan langsung dengan kehidupan masyarakat.Tuntutan keterlibatan Gereja perlu diberi catatan berikut: dalam melibatkan diri, bukan mentalitas proyek yang dibangun. Mentalitas proyek bisa menggiring perjuangan pada cara-cara pragmatis.

Perjuangan perlu ditempatkan dalam kerangka aktualisasi pilihan untuk menghadirkan kerajaan Allah. Artinya, keberhasilannya bukan semata-mata berdasarkan parameter kuantitatif, tetapi juga dan terutama pada kesetiaan dengan komitmen untuk menjalankan peran profetis.

Gereja tidak akan berperan sebagai penggerak pembaruan tanpa terlibat langsung. Hanya setelah terjun dan melibatkan diri Gereja bisa makin menemukan arti penting kehadirannya. Karena itu, tidak ada cara lain selain ia merefleksikan dan mengambil langkah nyata berhadapan dengan persoalan-persoalan konkret kini dihadapi masyarakat papua.Tanpa itu, Gereja akan terus didera oleh persoalan insignifikansi internal dan hubungan eksternal. Artinya, ke dalam ia tak lagi membawa pembaruan dan ke luar pun ia sama sekali tidak menyumbangkan apa-apa.

Jadi jawaban terhadap judul catatan ini, ”Haruskah Gereja Terlibat Dalam Masalah Sosial?”, perlu tegas, Ya! Alasannya, itu merupakan bagian dari peran profetis dan imperasi iman akan Allah yang juga sudah memilih terlibat dan solider dengan kita sebagai manusia.

Jika menurut pandangan Kristen yang menjadi popularitas utama papua kekerasan  bisa diatasi hanya dengan  bimbingan Roh Kudus dalam masyarakat orang-orang beriman, maka munculah pertanyaan selanjutnya, apakah paling tidak terdapat etika universal untuk meredutksi wilayah public dan politik. Tinjaun sejarah bisa membawa kita menemukan jalan untuk menjawab pertanyaan ini. Yesus Kristus tidak pernah mengklaim kekuasaan politik nampaknya ia berpendapat bahwa para penguasa menindas rakyat mereka dan mereka menyalahgunakan kekuasaannya.

Pandangan saya ini, memberi gambaran umum dan menjadi dasar keluhan dan keresahan masyarakat papua terutama kaum intelektual Papua yang semakin memahami realitas yang terjadi di setiap sendi kehidupan orang Papua dan gereja mereka sendiri. Semua orang papua merindukan budaya keadilan  dan cinta. Kebudayaan Hak asasi manusia (HAM) tidak cukup, meskipun ia merupakan syarat minimum dan permulaan dan cinta. Tetapi orang papua merindukan untuk diterima dan lihat secara keseluruhan tanpa pandangan status apapun. Dan mereka diterima dengan apa adanya, dan nilai kasih terhadap sesama menjadi benih kehidupan seluruh orang papua. semuanya nilai kehidupan menjadi hukum utama dalam membangun kehidupan,yang manusiawi pada akhirnya adalah kebudayaan cinta dan ini tidak bisa disandarkan pada dogma apapun atau dijadikan sebagai produk hukum. oleh karena itu gerakan gereja-gereja tidak tercabut dari akarnya-akarnya yang sejati dengan cara tidak manusiawi, adalah salah satu kekuatan yang paling dinamis dalam kebiasan kemanusiaan. Tanpa kemanusiaan kristen, gerakan dan agama Kristen tidak akan mempunyai kedudukan di masa mendatang, tetapi kemanusiaaim dan akan layau denga dengan sendirinya gereja dalam ajaran. Dalam gereja terdapat teks kitab suci yang berakar dalam injil yesus kristus sebagai tuhan dan putra manusia yang datang sebagai hakim dunia, terdapat sumber kekuatan yang tidak akan pernah kering bagi tindakan etis budaya manusia yang lebih memperhatikan kemanusiaan bagi semua orang.

Kepustakaan: Wim Beuken Karl-Josef Kuschel, et al  (2003) Agama sebagai sumber kekerasaan

Penulis mahasiswa Papua kuliah di Yogyakarta dan sebagai Pengurus perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) bagian kajian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dan aktif di berbagai diskusi- diskusi tentang papua dari berbagai segmen.

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM