BALIK ATAS
Hati-hati netizen, kini ada 18 media siluman di Papua!
PENERBIT:PPWI MEDIA Redaksi PAPUALIVES.COM 9th Januari 2019
| 541 DIBACA
Ilustrasi media siluman yang beroperasi di Papua – Tirto dan Jubi

Oleh Felix Degei

“Media Online tirto.id dan tabloidjubi.com tertanggal 6 Desember 2018 secara resmi merilis setidaknya 18 media siluman di Tanah Papua. Keberadaan sederetan media tersebut untuk menyaingi beberapa media asli lokal yang selama ini menyuarakan suara-suara dari kaum tak bersuara (voice of the voiceless) di Papua atas izin Dewan Pers. Selanjutnya tentu banyak orang yang akan bertanya tentang eksistensi dan motivasi adanya beberapa media yang tidak kredibel itu”.   

Untuk itu, tulisan ini hendak membahas empat hal penting. Pertama, mengapa disebut sebagai media siluman? Kedua, apa saja nama media yang diketahui sebagai media siluman di Papua? Ketiga, apa saja misi pemberitaan dari media siluman di Papua tersebut? Keempat, Bagaimana contoh proses pemberitaan selama ini oleh media siluman?

Mengapa disebut sebagai media siluman?

Media tirto.id (6/12/18) mengungkap ada empat alasan mendasar mengapa beberapa media online yang selama ini beroperasi di Papua termasuk kategori media siluman. Keempat karakteristik tersebut antara lain: 1). Media yang bersangkutan tidak memiliki susunan redaksi yang jelas; 2). Tidak memiliki kantor dan alamat kontak yang jelas; 3). Selalu mendompleng atau duplikasi pada nama dan berita media arus utama; dan 4). Selalu menyertakan narasumber yang fiktif.

Selain itu, hasil analisis dari Tirto dan Jubi menyimpulkan keberadaan 18 media siluman tersebut hanya mau membangun opini publik jika di Papua selama ini tidak ada pelanggaran HAM, kelompok pendukung Papua Merdeka adalah kriminal yang melakukan kejahatan, tentara dan polisi telah melakukan tugasnya dengan baik, dan sebagainya. Kehadiran sederetan situs media siluman tersebut sungguh meresahkan para jurnalis dan media asli yang bekerja sesuai dengan Undang-Undang Pers atau Kode Etik Jurnalistik di Papua selama ini.

Media-media siluman di Papua

Berdasarkan hasil penelusuran dari Tirto dan Jubi (6/12/2018), ada 18 media siluman yang sedang beroperasi di Tanah Papua. Berikut daftar 18 media online yang dikategorikan sebagai media siluman: kitorangpapuanews.com, papuanews.id, westpapuaupdate.com, westpapuaterrace.com, onwestpapua.com, freewestpapua.co, freewestpapua.co.nz, westpapuaarchieve.com, cenderawasih-pos.com, tabluidjubi.online, harianpapua.com, kabarpapua.net, freewestpapua-indonesia.com, papuatoday.id, detikpapua.online, papuainframe.co.id, papuamaju.com dan kabarpapua.online

Misi pemberitaan dari media siluman di Papua

Media Tirto.id juga mengungkap jika 18 media siluman tersebut memiliki motivasi framing pemberitaan yang sama tujuannya. Ada enam motivasi utama dari pemberitan media siluman yakni untuk meyakinkan pada pembaca jika: 1). Tidak ada pelanggaran HAM di Papua; 2). Pemerintah Indonesia selalu melakukan hal-hal baik di Papua; 3). Campur tangan negara lain diperlihatkan sebagai upaya menjajah Papua; 4). Tentara dan polisi melakukan tugasnya dengan baik; 5). Masyarakat Papua hidup aman, damai, dan baik-baik saja; dan; 6). Kelompok pro-Papua Merdeka adalah kriminal.

Proses pemberitaan yang dilakukan media siluman di Papua

Ada dua pola pemberitaan yang paling sering ditonjolkan oleh media siluman. Pertama, mereka mendompleng ataupun duplikat nama dari media asli yang memiliki izin pemberitaan; Kedua, mereka juga menggunakan narasumber yang fiktif. Berikut ada beberapa contoh kasus yang diliput Tirto (6/12/2018).

Kasus pertama adalah pendomplengan atau duplikat nama media. Misalnya ada nama Tabluidjubi.Online yang mirip dengan tabloidjubi.com. Kemiripan dibuat tidak hanya nama, tetapi juga logo dan tagline dengan font ukuran yang sama bertuliskan Portal Berita Tanah Papua No. 1. Contoh lain, ada Detikpapua.online yang mendompleng nama dari Media Detik.com. Selain itu, ada dua media yang menggunakan nama Papuatoday: papuatoday.id dan papuatoday.online.

Pemimpin redaksi koran Cenderawasih Pos (Cepos), Lucky Ireeuw, juga ikut kesal karena ada media siluman yang menggunakan nama mirip koran cetak terbesar dan pertama di Papua itu. Ia sebut ada media siluman dengan nama cenderawasih-pos.com.

Berdasarkan keterangan persnya, media tersebut bukan milik Cepos–yang merupakan grup Jawa Pos di Papua. Lebih lanjut, Ireeuw yang juga Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jayapura itu mengakui pihaknya kerap mendapat sorotan atas pemberitaan miring atau tidak berimbang dari media abal-abal cenderawasih-pos-com itu.

Sementara contoh untuk menggunakan narasumber fiktif pernah dilakukan oleh dua media siluman yang berbeda papuainframe.co.id dan detikpapua.online. Anehnya kedua media tersebut menggunakan satu nama narasumber fiktif yakni Dr. Etinus Murib, SH., M.H. Kedua media tersebut mengklaim bahwa Etinus Murib sebagai seorang doktor dan pemerhati mahasiswa Papua yang kuliah di luar Papua.

Papuainframe.co.id  (15/8/2018) pernah menulis berita atas kejadian bentrok antara mahasiswa Papua di Surabaya dengan organisasi masyarakat. Media tersebut pernah memuat berita dengan judul “Etinus Murib: Mahasiswa Papua Jangan Buat Aturan Sendiri Kalau Tidak Mau Ditindak.”

Nama Etinus juga kerap kali digunakan untuk membenarkan tindakan aparat keamanan dan menyalahkanmahasiswa Papua. Salah satu berita yang pernah mengkutip komentar dari narasumber fiktif tersebut berjudul “Etinus Murib: Tindakan Aparat Terhadap Kejahatan Rusunawa Sangat Tepat” sebagaimana dimuat pada detikpapua.online.

Melihat kedua komentar dari narasumber di atas, Angela Flassy selaku pemimpin redaksi Koran Jubi dan tabloidjubi.com pernah mencari tahu siapa Dr. Etinus Murib itu dengan bertanya kepada banyak orang di daerah asal marga/fam Murib juga via google search, tetapi ia tidak pernah menemukan nama itu. Padahal, orang Papua yang menyandang gelar doktor tidak begitu banyak, sehingga sangat mudah untuk mengetahuinya. Dengan demikian, Tirto.id dan Tabloidjubi.com berkesimpulan bahwa salah satu corak dari media siluman di Papua adalah menggunakan narasumber fiktif atau tidak jelas.

Media Tirto.id juga mengklarifikasi bahwa enam dari 18 media siluman di atas berbahasa Inggris, antara lain freewestpapua.co, freewestpapua.co.nz, westpapuaupdate.com, onwestpapua.com, westpapuaterrace.com, dan westpapuaarchieve.com. Sementara aktor yang bermain di balik keenam media tersebut adalah seorang Tenaga Ahli Komisi I DPR RI cum Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berinisial AS. Tujuannya untuk memperbaiki citra Indonesia di mata dunia.

Keberadaan sederetan media siluman di Papua ini sungguh sedang mengancam eksistensi dari media lokal asli yang sesungguhnya telah resmi mendapat izin operasional dari Dewan Pers. Buktinya data peringkat website Alexa mencatat dari 18 media siluman di atas, kabarpapua.net berada pada peringkat paling tinggi, yakni 30.937 se-Indonesia per-04 Desember 2018.

Padahal menurut Cunding Levi selaku pemimpin redaksi kabarpapua.co mengaku, media kabarpapua.net adalah domplengan dari media asli kabarpapua.co. Tidak hanya itu, sang redaktur ini juga menyebut ada beberapa media siluman yang menggunakan nama Kabar Papua, di antaranya KabarPapua.net,  KabarPapua.com, dan KabarPapua.co.id. Sementara peringkat tertinggi kedua juga berasal dari media siluman yakni Papuanews.id dengan skor 31.573.

Sungguh aneh tapi nyata, kedua media siluman tersebut berada di peringkat lebih tinggi dibanding dengan media online asli milik koran harian terbesar di Papua, Cenderawasih Pos (Cepos), yakni ceposonline.com, Grup Jawa Pos (peringkat 50.368 di Indonesia). Padahal Cepos adalah media arus utama yang sudah diakui oleh Dewan Pers.

“Hasil peringkat ini sungguh sangat mengerikan,” ujar Angela Flassy, Pemred Jubi (Tirto.id, 6/12/2018).

Akhir kata, semoga ulasan ini menjadi referensi panduan dalam memilah-milah dan memilih-milih mana media yang asli dan siluman. Guna membina prinsip dasar dari politik yakni distribusi keadilan. Kini saatnya keadilan dan kebenaran mesti ditegakkan dengan didukung oleh ketersediaan sumber informasi yang aktual, faktual, kritis dan objektif. Salam perubahan!  (*)

Penulis adalah mahasiswa Pasca Sarjana asli Tanah Papua yang sedang kuliah pada Jurusan Master of Education di The University of Adelaide Australia Selatan.

(Tulisan ini pernah diterbitkan di Tabloidjubi.com dan kembali di terbitkan kembali di media papualives.com  atas ijin dari penulis)

Berikan Komentar Anda