Balik Atas
IKJP Lakukan Pertemuan,Bahasa Penanganan Kekerasan Terhadap Peremuan dan Anak
 
Pewarta: Redaksi Edisi 02/09/2016
| 865 Views
PERTEMUAN IKJP Papua bersama Media Papua
Pertemuan Triwulan IKJP Papua di Timika (Foto:Steven)

Timika,Lembaga USAID Kinerja bersama Media-Media melakukan pertemuan diresto So Yummy, Jalan. Yos Sudarso  sebagai pertemuan rutin pertriwulan Ikatan Keluarga Jurnalis Papua (IKJP) 24/08/2016 beberapa waktu lalu.Sesuai penjelasan dari P2TP2A I Putu Putra Jayanegara, SH bahwa penanganan kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (KTPA) dari bulan Januari – agustus pada saat pertemuan ini sudah 44 kasus yang ditangani, dari 44 kasus ini sudah selesai ditangangi sebanyak 30 kasus dan sisa 14 kasus. Dijelaskan pula dalam penyelesaian kasus KTPA ini penyelesaiannya tidak terlalu banyak kearah mediasi.

Kasus kekerasan dibagi dalam tiga kategori yakni, Kekerasan terhadap perempuan, kekerasan terhadap anak dan kekerasan terhadap laki-laki. Untuk kasus kekerasan terhadap perempuan adalah kekerasan fisik, psikis, penelantaran keluarga, sexsual, dan lain-lain. Kekerasan terhadap anak adalah fisik, psikis, sexsual dan lain-lain. Sedangkan kekerasan terhadap laki-laki ada satu kasus yaitu penelantaran keluarga dan penganiayaan anak yang dilakukan oleh isteri terhadap suami dan anak-anak.

Kendala yang dihadapi dalam penyelesaian kasus ini disebabkan karena kurang respon dari stek holder terkait dalam kerjasama untuk penyelesaian maupun pengambilan keterangan dari korban maupun pelaku, adanya berbagai ancaman dari pelaku atau keluarga pelaku terhadap korban maupun pendampingan dari petugas P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak).

Pada P2TP2A juga sudah ada petugas untuk konseling bagi korban KTPA. Menurut penjelasan dari suster Hartini Sokoy dari Puskesmas Kota Timika sesuai kasus yang ditanganinya sebagai team konseling dipuskesmas sebanyak 37 kasus dengan pembagian adalah Perempuan : 27 kasus, Laki-laki : 7 kasus dan Anak-anak : 3 kasus. Dari berbagai kasus ini juga ada kendala dalam penyelesaiannya, hal itu juga dari stek holder terkait.

Sedangkan menurut pendapat dari Dinas Kesehatan, Bidang Promosi Kesehatan, Yani Sainapapang, harus adanya bantuan hukum atau pelindung bagi petugas yang menangani KTPA tersebut, yang menangani kekerasan fisik dan penyebab perlakuan tersebut bukan puskesmas kota saja tapi bisa semua puskesmas yang ada di areal kota Timika, khusus untuk pelayana KTPA. Harapan para peserta pertemuan agar ada kerjasama yang baik dari semua stek holder yang menangani KTPA di kota ini baik P2TP2A maupun UPPA dalam pemberian data dan penyelesaian kasus agar KTPA semakin berkurang dikota ini dan masyarakat lebih mudah mengetahui dan tidak takut melaporkan tindakan kekerasan yang dialaminya.

Steven Betaubun

Berikan Komentar Anda