Balik Atas
Intuisi , Tujuan Hidup dan Menjadi Seperti Rajawali
 
Pewarta: Redaksi Edisi 10/07/2014
| 927 Views
Foto : Believe You Can / ist
Seorang
teman beretnis jawa (saya tidak bermaksud rasis) bertanya apamaksud
pernyataan saya: “sejarah dibangun oleh dialektika”. Jawaban
saya: Sejarah dibangun di atas pertentangan tesis dan antitesis,pro dan
kontra, karena itu tidak bijak jika kita memandang sejarah
sebagaikebenaran mutlak. Penting untuk memandang sejarah dari sudut
pandang tesis danantitesis supaya
pemahaman kita lebih komprehensif. Misalnya, anda orang jawa,kita bisa
lihat kejawen dari perspektif tesis dan antitesis. Pandangan tesisakan
mengatakan kejawen adalah nilai luhur, pandangan kontra akan
melihat

nyasebagai animisme dan bagian dari peradaban yang harus
ditinggalkan. duapandangan yang bertolak belakang inilah yang
menyebabkan budaya kejawen terushidup dan bergerak menyesuaikan diri
dengan perubahan. Atau dengan singkatkata: Tidak ada pahlawan tanpa
adanya pecundang. Bagaimanacara mempelajari Intuisi? Dengan cara yang gaib, atau rasional? Intuisiadalah
salah satu fondasi yang membangun filsafat Fenomenologi. Bergaul
denganRajawali, jadi Rajawali. Identifikasi orang-orang yang menurut
kita memilikikemampuan intuitif, lalu memberi waktu secara teratur
bersama mereka. Dengansendirinya, transfer skil akan berlangsung.
Rasional bukan? Jadi, intuisi yangsenantiasa mendahului rasio dapat
diajarkan dengan cara yang rasional. Samaartinya dengan kita bermimpi
yang gila tetapi berusaha untuk mencapainya dengancara yang waras. Sejak
2004, saya sudah wacanakan bahwa generasi Papua suatusaat akan memimpin
Republik ini. Saat itu, hingga sekarang, masih banyak orangyang
menganggap saya gila. Mimpi itu memang gila, tetapi bisa dicapai
dengancara-cara yang waras. Siapa pun yang berkata mimpi tersebut tidak
mungkintercapai, sebenarnya sedang menuhankan dirinya.

Coba pelajari
Marx. Marx punya gagasan besar tetapi tetap bertahan dalamkemiskinannya
dan senantiasa berharap dari kiriman sahabatnya Engels. Mungkinsaja
saat itu tawaran datang dari penguasa struktur kekuasaan.
Pertanyaannya,mengapa Marx tetap bertahan? Mengapa Marx tidak menjual
mimpi dan visinya?Menurut saya: Marx sangat percaya pada intuisinya.
Intuisi membuat parapemimpin tegar dalam pendirian. Mengapa tegar sebab
mereka melihat sesuatu ygtdk dilihat oleh orang lain. Intuisi adalah
fondasinya visi. Satu hal ygmembedakan pemimpin biasa dan pemimpin luar
biasa adalah intuisi.
Sejak2004 saya melempar visi Menjadi Seperti
Rajawali. Tentu banyak yang bertanya,apa makna visi tersebut? Menjadi
seperti rajawali bermakna memahami tujuanhidup dan membantu orang lain
menemukan tujuan hidupnya.
Pertanyaannya,apa itu tujuan hidup?
Tujuan
hidup adalah dimensi terdalamdari diri kita-hakikat inti dari
keberadaan kita-dimana kita memiliki suatukesadaran yang mendalam akan
siapa diri kita, dari mana asal kita, dan kemanaakan kita menuju. Tujuan
hidup adalah kualitas yang kita pilih untuk membentukkehidupan kita.
Tujuan hidup adalah sumber energi dan arah.
Tujuan
sudah ada di dalam diri kita,dan menanti untuk ditemukan. Jika kita
membuka apa yang ada di dalam diri kita,kita akan menemukannya. Dan
begitu menemukannya, kita akan berupaya untukmencapainya sekalipun
tujuan tersebut tampaknya sama sekali tidak realistis.
Tujuan
tergantung intuisi kita.Intuisi adalah suara lirih yang memimpin kita
kepada tujuan kita. Instuisiadalah indera keenam kita-sebuah kepekaan
akan sesuatu yang belum diketahui.Instuisi tidak tergantung pada
penalaran secara sadar. Kadang-kadang kita tidakbisa menjelaskan
bagaimana kita mengetahui sesuatu, yang jelas kitamengetahuinya. Untuk
menemukan tujuan kita, kita harus mempercayai intuisikita.
Tujuan
bukanlah sesuatu. Tujuan tidakpernah merupakan sebuah kondisi yang
statis yang bisa kita pertahankan. Tujuanadalah sebuah aktifitas yang
berkesinambungan, pertanyaan-pertanyaan yang selalukita ajukan. Tujuan
adalah sebuah proses yang kita jalani setiap hari. Tujuanadalah sebuah
proses mendengar dan membentuk kisah hidup kita.
Anda tidak harus Menjadi SepertiRajawali seperti saya, tetapi anda harus menjadi sesuatu.
Habelino R S Sawaki
Berikan Komentar Anda