BALIK ATAS
KAMMI :MENGGUGAT KNPI PAPUA
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 15th Januari 2015
| 966 DIBACA
(KAMMI Papua Kelompok Cipayung)


Oleh : Nasarudin Sili Luli

Pada tataran saat ini, terma keadilan disandingkan dengan suatu sistem keindonesiaan, ini berarti bahwa bangunan umat berkeadilan yang dicita-citakan beserta value system yang mendasarinya didorong untuk menjadi pondasi bagi keindonesiaan yang egaliter, demokratis, terbuka dan kosmopolit. Keberhasilan umat yang berkeadilan diukur dari sejauh mana spirit ini juga menopang kondisi Indonesia sebagai negara kebangsaan modern (modern nation-state) yang berkeadilan, baik di wilayah ekonomi, politik maupun kebudayaan.

Sama halnya ketika mensinergitaskan dalam konteks, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) saat dahulu yang masih dibungkus dengan bingkai kesatuan republik Indonesia dengan sebuah landasan pemahaman akan ketertindasan pada saat itu, mempunyai perbedaan yang mencolok dengan keadaan saat ini. Agak sulit saat ini kalau Komite Nasional Pemuda Papua (KNPI Papua) diterjemahkan sebagai sebuah solusi bagi permasalahan berbangsa dan bernegara. Namun sebuah terminology ini sudah terbangun dan membudaya pada kalangan masyarakat secara umum dimana pemuda merupakan sumber solusi bagi permasalahan bangsa. Karena kepemudaan diidentikan dengan perubahan, energi, semangat, dan belum terkontaminasi atau berafiliasi dengan kepentingan individu atau kelompok tertentu.

Harapan dan sebuah pemahaman akan KNPI Papua ini menjadi bumerang untuk kalangan pemuda Papua sendiri. Sebab demi menjaga eksistensi sebuah terminologi yang telah terbangun kepada khalayak banyak harus mampu dipertanggungjawabkan secara transparan. Suara sumbang mengenai kekritisan, inovatif, dan kreatifitas terhadap pemuda-pemudi terdahulu seakan-akan kian menggemuruh kembali pada KNPI Papua saat ini jika dikorelasikan dengan permasalahan Papua. KNPI Papua seakan tak mau tau dan tak akan pernah tau dengan permasalahan Papua saat  ini.

KNPI Papua yang menjadi harapan seakan tergilas dengan zaman dan terhanyut dengan sistem ketatanegaraan yang inkonsistensi. Keluarnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah seakan lebih menengelamkan jiwa kepemudaan yang identik dengan perubahan, kekritisan dan inovatifnya. Bahkan KNPI Papua tidak mampuh menerjemahkan sebuah konsep pemerintahan yang ditawarkan oleh Undang-Undang ini, yang mana maksud dari adanya regulasi ini agar supaya mendekatkan lagi pelayanan pemerintah (government service) terhadap masyarakat sipil khususnya masyarakat Papua (civil society), walaupun sampai saat ini di sebagian besar daerah yang ada di Papua ini belum terimplementasi. Pemahaman akan konsep dasar regulasi ini sering disalah artikulasi oleh kaum pemuda, tetapi dijadikan sebagai ajang untuk mencari sebuah keadikyasaan (power), baik melalui lembaga eksekutif maupun lembaga legislatif..

Keadaan ini mengambarkan bahwa pergeseran paradigma dari KNPI Papua  masa kini sudah tidak mampu mengagregasikan pemikiran sebagai sumber solusi yang inovasi bagi setiap problematika dalam konteks ke-Papuan, malahan terjerumus pada sebuah agregasi kepentingan pragmatisme demi kelompok dan individu. Hal ini terdeskripsi pada setiap permasalahan Papua  akhir-akhir ini, dari kasus pelanggaran  HAM,isu disintegrasi yang masih sulit diredam,sampai pada titik klimaks yaitu  bagaimana seorang ketua KNPI mampu menahkodai atau memimpin dua DPD KNPI sekaligus kota dan tingkat  propinsi,hal ini terdengar paradoks tetapi itulah kenyataan yang ada di Papua. KNPI Papua sering terjebak pada dataran retorika dan dialektika dari para elite politk Papua ini yang memplintir permasalahan-demi permasalahan. Bahkan KNPI Papua tidak melihat pada sebuah strategi konsep atau kajian guna ditawarkan sebagai sebuah solusi bagi setiap permasalahan Papua yang ada.

Saat ini tak sedikit para pemuda yang dalam naungan KNPI Papua yang menjadikan tameng degan setiap permasalah Papua sebagai langkah konsolidasi politik, penguatan kapasitas politik, sampai pada tahapan memainkan isu-isu tersebut sebagai pencitraan politik pribadi. Secara implisit dapat digarisbawahi atau dapat diindikasikan bahwa peran KNPI Papua dalam menjaga Negara kesatuan republik Indonesia yang salah satunya turut menjaga kestabilan politik Negara, telah terdevisit nilai (value) yang sesungguhnya, sehingga peran KNPI Papua dalam mengola kestabilan politik daerah maupun nasional tidak lagi termanifestasikan, tapi mengalami serangan daripada konsep politik itu sendiri, hal ini Nampak dengan terjerumusnya kaum muda pas polarisasi konsep politik itu sendiri yang mengakibatkan kecenderungan pemuda saat ini tidak lagi mengedepankan kepentingan masyarakat banyak tapi terjerumus dengan keadaan ouportunis pragmatisme. Dinamika seperti inilah mengambarkan ralitas KNPI Papua, yang tidak mampu mengakomodir setiap kepentingan (interess) banyak orang. Hal ini menuntut peran lembaga organisasi kepemudaan juga yang seharusnya menjadi harapan sebagai wadah konsolidasi kekuatan (consolidation power), namun saat ini tidak lagi mampu mengakomodir semua elemen pemuda yang ada. Kelembagaan tinggalah sebuah lembaga reunian atau perkumpulan pemuda. Tidak lagi sebagai wadah untuk merumuskan konsep kajian ilmiah sebagai bentuk solusi dari peran KNPI Papua untuk setiap permasalahan.

Dalam berabagai keadaan dan proses dinamika kepemudaan yang telah mengalami pergeseran paradigma serta terdevisitnya legitimasi dari masyarakat. Sudah sepantasnya ada sebuah rekonsiliasi kekuatan (reconciloiation power) generasi muda dalam bentuk formulasi konsep strategi. pertama, Strategi Perubahan (defensive strategy), yaitu strategi pengembangan pemuda yang kondisinya mempunyai banyak sekali kelemahan dan terus mendapatkan tekanan dari pihak luar. Strategi konsep ini dimaksudkan bahwa pemuda sudah seharunya menciptakan kajian konsep dari pemikirannya sendiri dan tidak terbatas hanya pada konklusi retorika.

Kedua, Strategi bersaing (competitive strategy), yaitu strategi pengembangan pemuda yang sudah memiliki kekuatan bersaing, tetapi menghadapi ancaman atau tekanan dari pihak luar. Hal ini diartikan bahhwa pemuda harus siap. Kapanpun waktunya untuk memasuki era persaingan saat ini. Tetapi kemudian juga harus mampu mengidentifikasikan setiap skala prioritas terhadap permasalahan sehingga tidak terjebak pada konstelasi kepentingan elitis. Ketika hal mampu diapartasikan oleh KNPI Papua saat ini maka akan memungkinkan sebuah harapan kepercayaan dari masyarakat kembali untuk para generasi muda.

Nafsu Berkuasa Memimpin KNPI Papua
Kekuasaan dan kepemimpinan terkait integral secara paradoksial. Tidak setiap nafsu kekuasaan menghasilkan kepemimpinan, tetapi setiap kepemimpinan mengisyaratkan kekuasaan. Seberapa hasrat kekuasaan yang dibutuhkan untuk kepemimpinan KNPI Papua sejati? Di sinilah tersembunyi paradoks penting.Paradoks adalah kondisi atau pernyataan yang terdengar bertentangan atau tak masuk akal,tetapi sesunggguhnya menyimpan kebenaran lebih utuh.

Orang yang sangat haus kekuasaan tidak pernah mejadi pemimpin KNPI Papua baik. Sebaiknya,orang ditandai keengganan dan kesangsian yang sehat terhadap kekuasaan biasanya jauh lebih sanggup menjadi pemimpin baik.Sebabnya sederhana.Hanya sosok yang dapat merekaaktifkan atau membuat jarak dari kekuasaan yang sanggup menghidupi tugas agung bahwa kursi kekuasaan KNPI Papua  tidak identik dengan dirinya,tetapi sarana perwujudan mandat.

Ambilah analogi sederhana. Orang yang sedemikian haus uang tak lagi melihatnya sebagai sarana.Siang dan malam ia kesurupan memeluk uangnya dengan cara apa saja.Begitu pula orang yang punya nafsu menggelegak pada tahta.Ia lebih bernafsu mejadi penguasa,bukan pemimpin.Dari proses ini pula kediktatoran dan tirani dilahirkan. Namun,bagaimana benih tirani itu berkembang biak ?
Pada mulanya adalah harapan. Dan,harapan itu amat cemerlang, sama seperti euvoria pemilihan ketua KNPI Papua yang baru. Setelah pergantian beberapa  rezim. Kita menaruh harapan pada rezim yang terpilih.Kita mengira dalam periode pertama rezim itu akan memimpin kita akan menata porak poranda Papua .

Satu-satu tonggak bisa di sebut dan kegemaran akan citra juga berkibar sebagai idiom baru politik.Namun bukan rahasia lagi rezim ini gagal menjaga jantung kultur Papua,yaitu kebinekaan. Terutama lantaran impotensinya mencegah kelompok-kelompok tribal berkeliaran makin ganas dan meremuk siapa saja yang tidak sejalan dengan tafsir kepemimpinan mereka.Bahkan KNPI Papua yang punya mandat konstitusional monopoli kekuasaan lebih sibuk dengan slogan ketimbang kelugasan. Dalam arti itulah sakit jiwa kolektif diperankan lewat cara rezim ini KNPI Papua saat ini memerintah.Maka,para korban semakin mencari-cari sosok pelindung,sedangkan kaum tribal mencari sosok pemaksa.Orang yang bernafsu kekuasaan meledak-ledak untuk menjadi Ketua Umum KNPI Papua beroperasi melalui patologi kolektif ini.Dalam keterjalinan berbagai arus inilah arti ‘tegas ‘lalu tidak dibedakan dengan ‘tangan besi’dan bengis’.

Maka,silakan kepada seluru pemuda yang ada di Papua ini mencermati siapa sosok yang pantas mempin KNPI Papua saat ini ? Mana sosok yang ditandai nafsu menggelegak akan kekuasaan ? Saya berani bertaruh, sosok dengan nafsu kekuasaan yang meledak-ledak tidak akan menjadi pemimpin baik untuk KNPI Papua kedepanya .

Ringkasnya,sosok ini membuat dirinya samadan sebangun dengan kekuasaan.Dan,caranya berkuasa digerakan terutama oleh busungan rasa megalomania.
Betul apa yang dikatakan oleh Wiji Thukul,Dia raja,tapi tanpa mahkota.

Pertama,sosok yang bernafsu kekuasaan meledak-ledak tidak punya keluhuran untuk memimpin KNPI Papua.Kedua,hanya sosok yang telah teruji dan terbukti setia memimpin pada skala KNPI Kota Jayapura lebih kecil juga akan setia untuk memimpin pada sekala yang lebih besar KNPI Papua. Ketiga, hanya sosok yang telah teruji dan terbukti punya habitus luhur kepemimpinan atas lingkup lebih kecil juga sanggup mengemban mandat ketua umum KNPI  Papua dengan habitus kepemimpinan luhur yang sama.

Itulah dasar memilih bagi jalan harapan.Dalam dunia manusia, masa depan bukan hasil ramalan, melainkan kemungkinan untuk dibentuk itulah mengapa di pucuk waktu nanti kita mesti membentuk hari esok  KNPI Papua bukan dengan memilih mesin ketakutan masa lalu, melainkan memilih harapan baru.


Wallahu a’lam bi al-shawab.
Penulis Adalah Humas, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia
(KAMMI DAERAH PAPUA)

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM