BALIK ATAS
Kampung Sumber Kehidupan
PENERBIT:PPWI MEDIA Redaksi PAPUALIVES.COM 16th Mei 2014
| 933 DIBACA
Ilustrasi (Foto:PapuaLives)

Oleh Natan Naftali Tebai

Kampungku, engkau kini jauh dari ku. Saya masih ingat tetang diri, ketika engkau melahirkan kehidupan dan mewarisinya, sampai saaat ini engkau menjadi bagian dari didiriku. Semua orang tahu diriku hanya
karena identitas itu sejak dahulu engakau tetapkan dan berikan pada diriku. Engaku tahu sekarang aku baru sadar kalau sumua “asal-usul” kehidupa berasal darimu, bukan manusia.Ternyata Namamu, kampung, sesuatu yang unik, engkau memiliki sejarah. Dalam perjalanan ini saya juga berpikir hendak menjadi amanah dari kampong, jadi sumber dari
kehidupan. Untuk membagikan nilai-nilai kehidupa aynjg engkau bagikan, bukan saja kekayaan alam, keindahan, juga penciptaan.Ternyata penciptaan kehidupan akan manusai, alam, juga segala lain semua bermula dari Kampung kini engaku jadi rahim kehidupan. Sekarang dit egah perjalanan saya hidup tapi terlalu jauh hingga lupakan mu kampungku.
Kehidupa engaku berikan, janganlah cepat berlarut dalam siatuasi kini makin banyak ancaman.

Kampung Ancaman
Kini semakin matahari terbit di langit namamu tidka lagi terbit, engkau sekaan tengelam dalam kalbu kesenyapan arus zaman, semua tidak lagi memandangmu sebagai kekautan dari arus perubahan. Engaku di padnagan sesuatu yang momok, tidka layak, kafir, juga isolasi. Slogan itu sekan menendangmu dari mimbar kehormat dan mengantarmu di jalan-jalan berduri, dan orang kampong sekarang mencari api untuk membakar agar nama kampung itu hangus menjadi debu. Menjadi tak rela saya melihat ini suatu perbuatan amoral yang menghilangakn masa depan, kehidupan dan kesempatan dimasa akan
datang.

Kampong nilaimu kini orang kampong nilai dengan nilai uang, uang, seakan uang akan jadikan kehidupann ini menjadi berarti lagi. Jika diriku jadi kampung, maka aku akan marah pada uang sebab tindakan manusi dari kampong terlalu jahat. Memang ini bukan kepetingan saya “kampong” tetapi ini untuk manusia-manusia. Kampong sebenarnya
bukan manusia tetapi manusia itu adalah kampung itu sendiri teapi makin hari saya berpikir kenapa manusia kampong tidak berpikir tentang kampong. Saya sedang bayangkan kalau kampung sekarang sedang meratap,
menangis, juga merindu.
Tindakan penyelamatan kampong, pualng kampung
Sekarang, saya menulis dan berpikir, mesti menelusuri ada apa di kampong. Memangnya kampong itu penting ?. kampung benar menyimpang kehidupan berarti saya mesti cari sumber kehidupann disana. Tidak akan ada sumber kehidupan lain, saya tidak mungkin ke kampung orang lain. Musti kembali ke kampung sendiri. Sang penjaga kampung disana sudah
menanti sejak dahulu tetapi ?. saya berkata pada pekerjaan dan aktitasku, tolong berikan kesempatan “ruang” saya inin pulang kampung.
Pulang kampung. Saya mau meminum air dari kampung, pasti amta airnya jernih, gurih dan menyegar jiwa. Saya mau makan makanan berasal dari kampung karenaakan menguatakn tubuh “otot” dan menguatakan tulang-tulang
agar kaut dan terus berjalan. Saya mau berbicara apda sesame saya “saudara” di ruamhy-ruamha da, beralaskan tanah juga atapnya tertutup dengan dedaunan dari ilalan. Saya mau berbicara dengan langit seerta angin. Kehidupan kampung itu seakansekarang mengecap, aku mau kuat berjalan terus, mulai fokuskan kehidupan pada sumber kehidupan itu

Penulis adalah Mantan Ketua Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Indonesia (AMTPI) Wilayah Papua

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM