Berita Terkini
EDISI
23 September 2017

KARYA DAN PANDANGAN PASTOR NATALIS HANEPITIA GOBAY, PR TENTANG PENDIDIKAN

Pastor Nato Gobay (Foto: PapuaLives)

Oleh : Huberth Kobepa

Siapa Pater Nato itu? Pater Natalis Hanepitia Gobay, Pr , lebih suka menulis singkatan PNG (bukan Papua New Guinea tapi Pater Nato Gobay). Pertama kali saya betemu tanggal 28 Desmber 1971. Saat itu saya dan beberapa anak 9 orang siap di lapangan AMA Enarotali mau ke Jayapura untuk sekolah di Seminari. Dari kejauhan, dari arah Agadide muncul seekor burung. Lama kelamaan seekor burung tadi berubah menjadi seekor burung besi. Diatas Dagouto burung besi tadi berubah jadi pesawat Cessna. Pesawat ini berputar kearah timur, lewat diatas antara lain kampung badauwo, kampung kehahirannya pater Nato. Dari arah kali Wejadide pesawat ini mendarat dengan mulus dilapangan enagotadi. Pilot Emil yang membawa penumpang dari Jayapura, antara lain pemuda Nato Gobay, yang baru tamat SPG Teruna Bakti Waena Jayapura dan datang untuk menjadi Guru muda di wilayah Wiselmeren khususnya didaerah Moni, kabupaten Intan Jaya sekarang.
Beberapa tahun kemudian pemuda Nato Gobay muncul di STTK Abepura ( kini STFT Fajar Timur) dan kemudian melanjutkan studinya ke Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung pada Fakultas Teologi. Bulan Juli 1988, pada peringatan 50 tahun Gereja Katolik masuk di Pegunungan Tengah Papua Nato Gobay ditahbiskan menjadi imam projo Keuskupan Jayapura dilapangan gereja Katolik Santu Yusuf Enarotali (sebagai pastor ke 3 Suku MEE).
Setelah ditahbisan oleh Mgr. Herman Muniinghoof, OFM Uskup Keuskupan Jayapura sebagai Pastor muda ditempatkan sebagai pastor paroki berturut-turut : Mapurujaya, Timika, Biak dan mulai tahun 2002 di Nabire, khususnya Paroki Kristus Raja Siriwini Nabire, sampai akhirnya 1 Pebruari 2015 Pater Nato Gobay pergi meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya secara mendadak.

Saya tidak bermaksud menulis tentang riwayat hidupnya. Saya hendak menulis tentang pandangan dan kecintaan beliau di bidang pendidikan. Saya telah mendampingi beliau menangani pendidikan Keuskupan Timika ini, yakni sebagai Ketua Komisi Pendidikan selama 8 tahun, sejak Juli 2004 sampai dengan Juli 2012, dan sebagai Ketua Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Tillemans sejak Juli 2004 sampai dengan Pebruari 2015, selama 11 tahun.
Pandangan dan kecintaan beliau dibidang pendidikan kami catat beberapa hal berikut ini. Pertama kali bertugas sebagai guru muda didaerah moni beliau
membentuk Studi Grup untuk guru-guru dan beliau sebagai koordinatornya. Selain pater Nato sendiri, banyak guru diantara mereka berhasil melanjutkan pendidikan di Perguruan tinggi dengan status tugas belajar.

Hal kedua yang kami mau catat adalah jiwa sebagai seorang guru tidak pernah pudar. Selama menjadi Pastor Paroki dibeberapa tempat, bila ada kelas yang kosong dengan alasan guru terlambat datang secara spontan seorang Pater Nato mengajar kelas itu (terutama Sekolah Dasar). Pagi pagi selalu kontrol disekolah jangan-jangan ada kelas yang kosong. Ini dimaksudkan juga untuk memotivai guru-guru supaya datang tepat pada waktunya.
Hal yang ktiga. Setiap kunjungan kerja ke sekolah-sekolah atau pertemuan di wilayah tertentu, begitu sampai belum menyimpan barang-barng atau masuk kamar atau mencari secangkir teh hangat tetapi Pater Nato langsung ke sekolah mengajar dikelas. Apa yanrg diajarkan, apakah anak-anak menjawabnya lancar atau ternyata tidak mampu, ini akan menjadi bahan pembicaraan atau pembinaan dalam pertemuan nanti.

Hal yang sangat kental dengan Pater Nato adalah Pendidikan seimbang. Artinya pendidikan yang diperoleh seseorang dibangku sekolah (semua jenjang) dan yang harus diperjuangkan adalah keseimbangang antara Otak, Hati dan tangan. Brind, heat and hand. Sambil menunjukkan atau dengan gerak tangan tunjuk kepalanya, hantinya dan tangannya. Ini cara beliau untuk mencoba meyakinkan orang lain. Pendidikan tidak boleh menekankan hanya pada pintar otak ( melulu pintar pengetahuan) tetapi harus diimbangi dengan Hati (mental) yang baik dan mau berkotor tangan. Maka amat penting ditekankan pendidikan karakter. Pintar otak saja tidak cukup walaupun itu penting tetapi disini memerlukan berhati baik, dan mau berkotor tangan ( rajin kerja). Kalau 3 hal ini tidak seimbang maka bagaikan sebuah pesawat, terbang miring sebelah (berat kanan atau berat kiri), bisa dibayangkan bagaimana keadaan atau kondisi penumpang didalam. Hal ini selalu diucapkan dari mulutnya pada setiap kesempatan, rapat, pertemuan, sambutan bahkan dalam kotbah hari minggu di Gereja. Harus ada keseimbangan antara otak, hati dan tangan. Kalau tidak maka akibatnya bisa fatal bagi dirinya maupun bagi lingkungan. Pemandangan ini seringkali kita lihat dilingkungan kita masing-masing dalam berbagai hal. Kita mau basmi dan perangi itu ketidakberesan itu.

Maka semua yang dia lakukan ini dan juga yang beliau inginkan atau perjuangkan adalah didorong oleh pikiran besar beliau atau visinya yang besar yakni dunia (terutama dunia Papua) ini hanya bisa dirubah dan dibangun (dimana dan kapan saja) oleh orang-orang pintar, jujur dan rajin.

Artikel ini juga pernah dimuat di Majalah Gaiya ,Keuskupan Timika

Berikan Komentar Anda

Logo

PPWI MEDIA GROUP

Logo

This site is protected by wp-copyrightpro.com