Balik Atas
Karya Luhur Orang Non Mee di Meeuwodide
 
Pewarta: Redaksi Edisi 13/12/2016
| 1018 Views
JHON NR Gobay DAP Paniai
Jhon NR Gobai (Foto: Istimewa)

(Sebuah Catatan untuk bahan renungan)

Oleh: John NR Gobai*)
Pengantar
Daerah paniai baru dikenal oleh pihak luar sejak datangnya rombongan Pater Tilemans ke daerah Modio, Mapia untuk memenuhi undangan ,Auki Tekege bertemu Pater Tilemans, Msc di Kokonao dan telah meminta untuk membangun daerah Paniai.
Tawaran Auki Tekege itu dikabulkan Tilemans Setelah ada Misi Katolik rombongan Pater Tillemans, melakukan kunjungan dengan seorang Antropolog Fisik DR.Bijlmer ke daerah Suku Ekagi/Mee kembali ke Kokenau dan melaporkan perjalanan kepada Pimpinan Gereja di Langgur (Ambon) dan Pemerintah Hinda Belanda bahwa dipedalaman Paniai ada manusia (karena menurut orang saat itu daerah pegunungan tidak ada manusia).
Laporan itu diketahui Assisten Residen Fakfak dan Bestuur Assisten di Kaimana dan meminta Pilot Letnan Dua Laut Ir. F. Jan Wissel untuk menelusuri daerah Pegunungan. Pada awal bulan Februari 1937 Pilot Wissel terbang dari Utara (Serui = Geelvink) ke arah Selatan (Babo) menggunakan pesawat Sikorsky  milik perusahaan Nederlands Nieuw Guinea Petroleum Maatschapij (NNGPM) dan menemukan tiga buah danau dan perkampungan disekitar danau itu. Sejak saat itu Danau Paniai, Danau Tage dan Danau Tigi dikenal Wisselmerren (bahasa Belanda artinya danau-danau Wissel).
Saat Pilot F.J.Wisel dengan pesawatnya sedang dilaksanakan sebuah Pesta Yuwo (Pesta babi dalam tradisi Suku Mee/Ekagi) yang dihadiri oleh ribuan orang dari Kampung-kampung dalam wilayah adat suku mee/ekagi, di Kampung Enagotadi sebuah kampung dipinggiran Danau Wisel. Oleh karena peristiwa itu maka Danau-danau ini serta manusianya dikenal oleh dunia luar Selanjutnya Danau-danau ini di beri nama Wiselmeeren, untuk menunjukan bahwa tempat ini pertama kali di lihat oleh Pilot F.J Wisel. Padahal sebenarnya orang meeuwodide lain seperti Auki Tekege, Ikoko Nokuwo telah lebih dahulu kontak dengan Tilemans di daerah mimika.
Pemerintah hindia belanda menjadikan papua bagian dari keresidenan maluku yang berkedudukan ambon dan membagi papua menjadi 2 (dua) wilayah Afdeling (bagian) yang masing-masing dikuasai  oleh Kontrolir Belanda. Bagian utara dinamakan afdeling Noord Guinea yang meliputi wilayah Jamurba (Kaap de Guide Hoop) dan wilayah humold (wilaya jayapuraserang) dan kontralir penguasa ditemukan di manakwari, kontrolir penguasa daerah west on zuid Niew Guinea  di Fak-fak dan menguasai daerah Irian Barat  mulai dari Jamursba dari arah selatan menyusur  kearah barat dan timur sampai ke perbatasan daerah jajahan inggris (PNG).
Dengan demikian daerah tingkat II Paniai lama, dulu masuk ke Noord Niew Guinea  kekuasaan Kontrolir West On zuid Niew Guinea yang berkedudukan di Fak-fak.
Orang Non Meeuwo di Meeuwodide
Pdt. R. A. Jaffaray mengutus Pdt. Walter Post dan Pdt. Russel Dabler untuk merintis daerah pedalaman Paniai. Sesampai di Uta mereka berdua dijemput Yineyaikawi Edowai dan menuju daerah Paniai melalui sungai Yawei. Begitu tiba mereka bermalam di rumah Itani Mote di Yaba (Waghete).  Sebelumnya  misionaris, Pater Tilemans telah datang lebih dahulu ke Enagotadi,tepatnya di Ugibutu, dekat dekat bukit Bobaigo. ini juga bersama  dengan seorang controleer polisi  Jan Van Eecout dari Fakfak, pada kesempatan itu Jan Van Eecoud berhasil membangaun stasiun pemerintahan pertama di dataran tinggi papua Karena kehadiran dua gereja inilah maka Alm. Uwatawogiyogi (Ayah, Mantan Bupati Paniai, Naftali Yogi, S.Sos) sebagai pemilik tanah, membagi tanah untuk misionaris katolik dan Zending dengan batas sungai iyai.,.
Kehadiran kedua misionaris  Misi katolik dan zending yang berpusat di misionaris katolik di langgur, key sedangkan misi protestan adalah di ambon dan manado. Tentunya dapat dilihat dengan kondisi yang ada saat ini, daerah utara papua sebagian besar beragama protestan dan pengajarnya berasal dari ambon dan manado, bukti lainnya adalah adanya alat musik suling bambu dan genderang yang dibawah oleh guru-guru asal sanger/manado.
Dibagian selatan papua, daerah ini saat ini agak sulit membedakan antara masyarakat asli dari fak-fak,kaimnana, mimika sampai merauke dengan orang key yang awalnya datang bersama para pastor misi katolik sebagai guru, tukang, hingga kini mereka telah hidup bersama sebagai saudara, orang key di wilayah selatan akan merasa asing jika pulang ke pulau key tanah leluhurnya. Dibagian utara Papua, daerah biak menjadi pintu masuk untuk ke daerah meeuwodide, sedangkan di selatan Fak-fak serta Kokonau menjadi pintu masuk ke daerah Meeuwodide.
Dalam perkembangan pelayanan gereja, misionaris zending lebih mudah menambah tenaga karena banyaknya pendeta asal ambon yang telah disiapkan untuk mengisi pos-pos misi baru di wilayah meeuwodide, seperti Kebo, Obano, Okeitadi dan Gakokebo, mereka itu seperti: Pendeta; Paksoal, Sam Patipelohi Akhiary Tetelepta Lesnusa, Mustamu, dll. Untuk penyebaran agama protestan maka pendeta-pendeta ini merekrut orang asli untuk menjadi pendeta akhinya dua orang pemuda di ambil untuk disekolahkan yaitu Karel Gobai,Ikoko Nokuwo dan Zakeus Pakage sedangkan gereja katolik menyiasatinya dengan memperbantukan guru-guru asal Key didaerah-daerah baru yang dibuka oleh pastor, tugas guru ini adalah selain mengajar juga menyebarkan agama katolik di Paniai. Mereka adalah Iganatius Meteray di Kugapa, Andreas Maturbongs di Enagotadi, Petrus Letsoin di Yaba kemudian menyusul pada tahun 1943 Geradus Ohoiwutun dan Bernadus Welerubun .
Pada saat yang sama gereja katolik juga dari Langgur mengirimkan kemudian sejumlah orang ke Babo untuk bekerja sebagai karyawan pada perusahaan minyak namun disisilain mereka juga membuka pos katolik di babo, bintuni, disisi lain misi katolik juga melanjutkan karya dari Pater Lecoc Darmanvile dengan membuka pos katolik di Marauke sebagai basis penyebaran agama, Sebagai pusat pemerintahan jaman belanda di Fakfak maka gereja katolik membuka sekolah VVS dan ODO di Fakfak.
Pada akhir tahun 40 an dan awal tahun lima puluhan sejumlah anak dari mee dan moni, berjalan kaki mengikuti jalan yang dikui oleh para misionaris menuju ke Fak-fak untuk melanjukan sekolah, lulusan itu ada yang pulang menjadi guru di kampung ada pula yang melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Mereka antara lain: Alm Wim Zonggonau, Alm. Deki Zonggonau, Alm. Alo Gobai, Alm. S.R. Tatogo, Alm. Linus P. Mote,Luis Zonggonau, Thom Beanal, Youw (Ayah, P. Yan You).
Dengan demikian di pos dari gereja katolik dibanguan sekolah-sekolah katolik yang gurunya adalah lulusan sekolah guru di merauke dan fakfak, yang ditugaskan oleh pastor untuk membantu menyebarkan agama katolik dan mengajar di sekolah, dalam tahun-tahun 1950 an seperti Alm. Eria, Kosmas Serang (Asal Bintuni) yang setelah berpuluhtahun berkarya dan memilih tinggal di Kobouyedimi, Yatamo. Dari merauke, Kokonau dan Fak-fak P.Tilemans, juga mendatangkan Guru, mantri, tukang dan pelatih menjahit misalnya: Guru Okmonggop, Kipimbob, Keranop dan Yikim dan sejumlah guru dan tukang asal key; Welerubun, Kelanit, Ohoiwutun,Helyanan, Leisbun, Kasihiuw, Raimu, Rahawarin dan komoro; urumami.
Perkembangan pendidikan dan pemerintahan disini menjadi pasang surut karena situasi poltik yang tidak menentu yaitu dengan adanya perang dunia II, dan pendudukan jepang di seluruh papua kecuali merauke, ikut memutuskan misi ini. Disisi pemerintahan ambon dan Biak menjadi salah satu pintu untuk menjangkau daerah meeuwodide, yang saat itu pemerintahannya berkedudukan di Paniai, hal itu dapat dilihat saat ini dengan adanya polisi-polisi belanda asal byak yang bertugas di daerah meeuwodide, seperti; Korwa, Mofu,dll. Disamping itu dibidang pemerintahan serta di bidang pemerintahan hal itu dapat dilihat J.V De Bruin yang rajin untuk melakukan patroli-patroli sampai ke daerah kemandoga. Di Sanepa (kini daerah Intan Jaya) ini juga merekruit sejumlah pemuda untuk menjadi polisi, yang akhirnya karena pecahperang kedua mereka dibawah ke merauke ada juga yang dibawah sampai ke australia. Dari tempat pulalah, Pdt. Einar Nickelson, menyebarkan agama sampai ke daerah moni yaitu di wandai, yang mana terdapat air garam, sehingga sempat juga bertemu dengan masyarakat dani dan masyarakat amungme yang datang mengambil garam, ia juga berkunjung ke biandoga dan bertemu dengan suku wolani, sedangkan penyebaran agama katolik dimulai dari Pagopugaida, Bibida oleh  Pater Misael Kamarer, OFM, penyebaran dilakukan ke daerah Dugindoga (Bilogai), Zombandoga, sampai juga ke Ilaga, daerah akan lebih mudah karena daerah suku moni sehingga dengan mudah dapat dibantu oleh pemuda asal Kugapa; sementara ke daerah suku amungme, Pater Kamarer menyebarkan agama, dibantu oleh rombongan Bp. Menonal Beanal, yang saat itu datang tinggal di daerah meeuwodide serta Alm. Moses Kilangin yang saat itu menjadi guru di Kugapa (Bibida).
Pada tuhun 1949 melalui KMB Den Hag, pemerintah belanda memisahkan papua dari republik Indonesia dan menjadikan papua sebagai sebuah Negara yang merdeka dan berdaulat, berdasarkan Staars Beard No.J-567 tanggal 28 desember 1949. Kehadiran pemerintahan belanda ini, Dibidang pemerintahan petugas pemerintahan juga didatangkan dari suku biak; Seperti; Sobuber, Rumaropen, Noriwari, Rumpombo, Aibekop, dll. Dalam kenyataan hidup selanjutnya karena intereakasi sosial yang cukup baik dan untuk semakin mencintai daerah ini maka, para guru, polisi dan petugas pemerintahan ini akhirnya kawin dengan putri-putri meeuwodide, seperti: Eria, Welerubun, Okmonggop, Rahawarin, Noriwari, Mofu, Aibekop, Rumpombo, Leisubun, Keranop,dll
Jiwa Misioner para Perintis
Pelayanan pada saat itu baik gereja maupun pemerintahan dilandasi dengan sikab yang konsisten, tekun membanguan daerah dan menyiapkan anak-anak daerah ini dalam hal pendidikan, menegakan hukum bagi mereka yang bersalah dengan sebuah sistem hukuman yang memang membuat oarang merasa ada efek jeranya. Mereka dengan sungguh-sungguh menyiapkan daerah ini sebagai daerah yang akhirnya menjadi  daerah perintis bagi pendidikan di daerah pegunungan tengah, baik dibidang agama, pemerintahan, pertanian serta kesehatan dan kesejahteraan. Hal itu ditandai dengan dari gereja protestan dibukanya SGB (Sekolah Guru Biasa) YPPGI Enagotadi, yang menjadi sumber guru mulai dari Paniai sampai di Wamena, merauke, jayapura. Membuka STP (Sekolah Teologi Pertama) di Kebo, yang menjadi sumber pendeta-pendeta lokal untuk melanjutkan tugas pendeta Zending CAMA, yang bertugas sampai di daerah amungsa serta baliem. Dari gereja katolik dibuka PBW (Pusat Belajar Wanita) untuk mendidik para putri-putri kampung agar dapat menjadi istri yang paham kesehatan keluarga, serta dibangun SR serta SMP YPPK di Epouto, yang lulusannya dikirim ke Biak bagi yang ingin menjadi Guru dan yang lainnya ke Jayapura. Hal ini dilakukan dalam rangka mempersiiapkan anak-anak meeuwo agar dapat merubah nasib hidupnya, kelak menjadi pemimpin di daerah meeuwo ini.
Dalam tugas-tugas inilah pemerintah mulai memperkenalkan kopi dan jenis sayur-sayur lainnya, bersama dengan pegawai-pegawai lokal seperti; Alm. Yafet Kayame (Ayah dari, Bupati Paniai, Hengki Kayame, SH) Kehidupan kesehariannya para misioner hidup membaur dengan masyarakat, anak-anaknya berteman dengan anak-anak di kampung tersebut, mereka bersama bermain, membuat jerat, bermain perang-perang, serta mencari bunga untuk di berikan kepada suster, karena suster akan memberikan hadiah. Hal itu juga diakui oleh Paul Paksoal, Agus Sumule, Matius Kelanit, Piet Maturbongs,dll. Kenyataan kehidupan ini biasanya diceritakan oleh orang tua di paniai, betapa akrabnya mereka dengan anak dari pendeta paksoal, pa sumule, kelanit, meterai, keakraban itu terbawa hingga mereka telah menjadi dewasa. Nilai yang ditanamkan saat itu adalah komitmen, kesetian akan tugas msioner, pewartaan, nilai menjadikan semua bangsa menjadi murid yesus, sehingga jiwa misioner baik orang tua maupun anak-anak dari penginjil, guru dan petugas gereja saat itu adalah mencintai dan mengasihi sesama. Disamping itu di Paniai juga sejak jaman trikora datang juga guru-guru dari Jawa seperti; Karsinu, Darmono,dll menysul juga guru-guru dari Toraja seperti: Agus Patintingan, Lamba, Malondong dan juga Manansang.
Kenyataan Hari ini; Anak Misioner dilupakan
Papua dan paniai saat ini menjadi daerah yang sangat terbuka dengan hadirnya kaum transmigran baik melalui program pemerintah maupun transmigrasi spontan yang dilakukan masyarakat non papua yang lain,untuk mencari hidup, memperbaiki nasib daripada tinggal di kampung,  kehadiran kaum migran yang mempunyai motivasi yang berbeda ini tentunya jiwanya berbeda dengan jiwa dari para misioner diatas yang penuh dengan semangat kenabian. Motivasi  orang non mee datang ke meeuwo dide dan mungkin juga ini adalah untuk seluruh papua adalah dua yaitu: Mengemban tugas perutusan gereja dan mencari nasib untuk menjadi pedagang atau PNS untuk memperbaiki nasib di kampung.Dalam kenyataan saat ini motivasi dengan misi perutusan mulai berkurang sementara motivasi memperbaiki nasib di kampung jauh lebih tinggi, sehingga kehidupan yang dibina juga telah jauh dari persaudaraan sejati kehidupan yang ingin memperkuat atau memberdayakan masyarakat setempat, sehingga dapat menjadi pemimpin di daerahnya ini. Kenyataan inilah yang kadang memicu konflik antara masyarakat asli dengan para guru, petugas pemerintahan serta petugas gereja yang baru tugas, hal ini membuat masyarakat kadang merasa tidak simpatik dengan petugas ini, sehingga kadang ada ungkapan oleh masyarakat…….orang ini datang bertugas atau cari uang ini’
Kehadiran kaum migran ini kadangkala saudaranya dari kampung yang sedang mengangur untuk dipekerjakan di kantornya, kadangkala jika yang beararsangkutan menjadi pimpinan sekolah, petugas gereja atau pimpinan SKPD maka mereka ini akan ditempatkan sebagai tenaga harian yang kemudian diangkat sebagai pegawai tetap.
Terlepas dari kemampuan namun telah hilang nilai penghargaan terhadap karya misioner rasanya telah menghantui masyarakat meeuwodide, ditandai dengan munculnya kelompok baru yang hampir menguasai pemerintahan dan swasta di meeuwodide, hal ini tentunya telah menyinggung hati anak-anak misioner meewodide, mungkin papua, hal ini juga telah mengatakan kepada kita betapa kita lupa akan sejarah dan karya-karya luhur orang tua mereka.
 Anak-anak perintis terjebak dalam kondisi saat ini, yang serba egois, kegelisahan kekuasaan, mereka tidak kuat memperkuat eksistensi yang dibangun oleh orang tua, padahal dalam hati, mereka ingin menjaga kemurnian pelayanan dari orang tua mereka, dengan sungguh-sungguh membangun tanah ini, bersama dengan orang-orang terpelajar dari tanah ini, hal itu telah terbukti; saat Drs. Aleks Rumaseb menjadi Sekda Paniai, sejumlah hal telah dilakukan disana bersama dengan Bupati Yanuarius Dou, SH.
Disatu sisi anak-anak perinitis hari ini dihadapkan pada kekuatan laju urbanisasi masuk tanpa menghargai nilai dan kelompok perintis yang telah ada membangun daerah ini, yang ditandai dengan kelompok paguyuban kelurga untuk kepentingan ekonomi dan politik suku-suku ini, sebagai alat bargaining politik menjelang pilkada dalam mengejar proyek atau jabatan tertentu di pemerintahan. Dalam pergaulan di daerah meeuwodide tidak pernah terjadi masyarakat key, ambn membuat konflik dengan masyarakat, yang ada hanyalah pada waktu lalu adanya perang di obano, yang dikenal dengan perang Lesnusa, akibat sebuah perbuatan pribadi, masalah ini menjadi besar karena situasi saat itu masyarakat masih terikat dengan adat, namun jika terjadi sekarang pasti akibat dari masalah tidak sehebat yang sering didengar. Dalam kenyataan sekarang konflik terjadi dengan antara orang meeuwodide dengan suku bugis, makasar serta buton yang motivasinya adalah merunbah nasib dikampung dengan mencari uang, begitu juga dengan di pemerintahan kadang ada konflik antara suku toraja dengan masyarakat meeuwo, karena penganggur di kampung dibawa menjadi PNS di daerah Meeuwodide, bahkan dengan paguyuban sebagai alat bargaining politik diupayakan memperoleh jabatan tertentu.
Dampak Negatif perlu dihindari
Hasil sebuah misioner adalah banyak orang meeuwo telah menjadi pendeta, menjadi pastor, PNS, pejabat pemerintahan, politisi mereka ini adalah hasil dari karya misioner pada tahun-tahun yang lalu, buah yang pertama Drs. A.P You, Herman Mote, SH, Yan Dou, SH, dll, buah-buah yang kedua dari hasil karya misioner, dan hasilnya adalah menjadi lebih unggul, antara lain Bupati Paniai, Hengki Kayame ayahnya seorang pegawai pertanian dari jaman belanda, hasil didikan misioner jaman oleh belanda menjadi mantri pertanian, Bupati Deiyai, Dance Takimai, ayahnya seorang guru yang merupakan hasil didikan misioner jaman belanda.
Hal yang perlu dihindari adalah kaum urban yang bukan anak-anak misioner namun sedaerah dengan para misioner muncul dan ingin menguasai karya misioner terdahulu, karena merasa karya masa lalu dibuat oleh saudaranya dan tidak memberikan kesempatan kepada anak-anak setempat, tidak memberdayakan atau melakukan penguatan kepada anak-anak setempat, tentunya kelompok ini mempunyai motivasi yang lain hanya untuk memperbaiki nasib hidup. tetapi yang terpenting anak-anak misioner dan anak-anak setempat di meeuwodide berjalan bersama dan membangun bersama, melanjutkan karya luhur para misioner.
Penghargaan kita
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, hidup didunia ini adalah membuat sejarah dan membaca sejarah, hal ini berarti orang meeuwo adalah manusia sejati, maka tentunya perlu menjadi manusia yang berjiwa dan berfikir besar, dengan menghargai jasa para misioner, apa yang telah kami paparkan di atas adalah sebuah fakta sejarah yang pernah terjadi pada masa lalu, yang dapat kita baca saat ini. yang tentunya perlu dikongkritkan dalam pekerjaan pemerintahan dan swasta saat ini, dengan memberikan penghargaan yang adil dan layak kepada anak-anak dari para misioner, jabatan-jabatan penting di pemerintahan dan swasta, bukan melihat mereka dengan sebelah mata, melihat mereka sebagai musuh dan melihat mereka dengan dendam.
Satu hal yang perlu dilihat sebagai contoh; Mgr. John Saklil, Pr,menjadi uskup timika, adalah sebuah kewajaran, walaupun dipilih oleh Paus tetapi disisi lain ini adalah sebuah bentuk penghargaan atas pengabdian bapaknya sebagai seorang misioner  gereja katolik yang datang dari Langgur, tentu ada orang lain yang perlu kita hargai dan memberikan tempat kepada mereka.
Akhirnya saya sebagai ketua dewan adat paniyai, mewakili masyarakat adat meeuwo mengucapkan terima kasih atas pengabdian para misioner dari Belanda, Ambon, Key, Merauke, Bintuni, Jawa dan Toraja, pasti Tuhan akan membalasnya berlimpah berkat dan pengampunan.
Tulisan ini juga dipernah di publikasi di kaumindepent.blogspot.com
Berikan Komentar Anda