Balik Atas
Kebenaran , Kejujuran Tidak Mengenal Kompromi
 
Pewarta: Redaksi Edisi 16/07/2014
| 694 Views
Foto : Saelan Budi Santoso/fb

Maria Magdalena menerobos masuk kedalam rumah Simon, orang Parisi.
Tanpa memperdulikan semua yang hadir disitu, ia membasuh kaki Yesus
dengan airmatanya dan mengusap dengan rambutnya. Ia menuangkan minyak
narwastu yang mahal harganya ke kepala Yesus, dan juga kaki Nya, dan
tak puas-puasnya ia mencium kaki Yesus.

Semua orang Parisi memandangnya dengan rasa jijik. Namun Tuhan membiarkan semuanya itu terjadi.
Dimata Tuhan, Maria Magdalena bukan lagi seorang pelacur. Ia telah
bertobat. Jiwanya memancarkan cahaya yang berbeda sama sekali.

Sekarang dia bukan lagi daging, melainkan jiwa yang sudah disucikan. Dan
tidak ada lagi yang membuat Yesus merasa malu, ketika Maria

Magdalena
membasuh kakinya. Tidak seharusnya ada rasa jijik melihatnya. Dan rumah
Simon, orang Parisi itu dikuduskan oleh sebuah peristiwa besar:
“kebangkitan sebuah jiwa”.

Menyembuhkan orang sakit, mengusir setan… bukanlah satu-satunya mujizat
yang bisa Tuhan lakukan, namun menarik jiwa dari lumpur dosa, memberi
Rahmat Nya, “membangkitkan jiwa yang telah mati” itulah mujizat yang
utama.
Dan jika karena peristiwa itu, Yesus harus kehilangan
banyak sahabat Nya, Ia tidak perduli kehilangan persahabatan dengan
manusia-manusia berjiwa dan berpandangan sempit, untuk memberikan jiwa
miskin para pendosa- “persahabatan dengan Allah.”
Banyak
manusia sering terlalu memperhatikan tampilan. Mereka lebih takut pada
pendapat orang lain tentang dirinya, mereka takut kehilangan kebanggaan/
pride, dibandingkan jika mereka harus kehilangan Rahmat dan belas kasih
Allah.
Mereka takut dicemooh karena bersahabat dengan seorang
pelacur walau ia telah sepenuhnya bertobat. Mereka takut kehilangan
persahabatan dengan manusia. Namun, diam-diam tanpa diketahui oleh
siapapun, mereka bersetubuh dengan banyak pelacur. Itu munafik. Selalu
berusaha menyembunyikan ke busukannya.
Tuhan mengajarkan bahwa didalam kebenaran, kejujuran dan dalam perilaku moral, tidak boleh ada penyesuaian ataupun kompromi.
Dalam setiap hal bertindaklah dengan benar, dan untuk tujuan yang baik, tanpa takut “apa kata orang”
Kebangkitan jiwa, itulah yang paling utama, walau harus kehilangan persahabatan dengan orang-orang munafik disekitar kita.
Saelan Budi Santoso
Berikan Komentar Anda
Link Banner