Balik Atas
Kecelakaan Pesawat Meningkat di Pegunungan Bintang
 
Pewarta: Redaksi Edisi 02/07/2019
| 758 Views
Adolus Asemki (Foto:Dok.Pribadi)

Oleh: Adolus Asemki

Kabupaten Pegunungan Bintang (Oksibil) terletak di bagian Timur Indonesa. Kota yang berjuluk negeri dibawah awan ini perbatasan langsung dengan Negara tetaga Papua New Guinea (PNG). Perlu untuk kita mengetahui bersama bahwa untuk mengakses ke Oksibil hanya membutuhkan pesawat terbang. Pesawat terbang adalah transportasi satu – satunya yang dipergunakan untuk bepergian ke daerah Oksibil atau pun dari Oksibil ke  tempat lainnya di Papua. Rute – rute penerbangan dari bandar Udara Oksibil adalah Boven Digoel dan Jayapura. Sedangkan disekitar area Oksibil sendiri mempunyai beberapa lapangan terbang yang hanya bisa di darati oleh peswat – pesawat kecil seperti; AMA, Twin Otter, Cesna, dan Helikopter. Lapangan – lapangan  tersebut terletak diantaranya; distrik Iwur, Oksop, Kiwirok, Apmisibil, Oksirka, Borme, Okbap, Luban, Teraplu, Aboi, Omban, Weime dan lain sebagainya. Rute penerbangan di sekitar area Oksibil sendiri masyarakat sebagian besar lebih memilih jalan kaki dari pada naik pesawat. Alasannya karena stok pesawat kecil yang tersedia sangat terbatas.

Penerbangan Oksibil  Boven Digoel hanya menggunakan pesat kecil seperti yang disebutkan diatas. Sedangkan Oksibil Jayapura menggunakan pesawat besar seperti Trigana Air Service, Herkules dan pesawat – pesawat kecil lainnya. Bandar udara senteral yang ada di pusat Kabupaten Pegunungan Bintang terletak di distrik Oksibil. Dimana Oksibil merupakan pusat administrasi Pemerintahan dan pergerakan ekonomi rakyat di daerah itu. Maju mundurnya perkembangan kabupaten ini pun, tergantung dari pesawat terbang yang beroperasi di wilayah Oksibil. Karena, semua bahan – bahan pendukung berupa material dapat didatangkan dari Jayapura sebagai pusat ibu kota provinsi Papua melalu pesawat terbang. Untuk menyediakan berbagai fasilitas hanya melalu jalur udara. Sehingga mau tidak mau pemerintah daerah harus lobi untuk mengontrak pesawat terbang lebih dari satu jalur. Demi membangun negeri dibawah awan itu. Sehingga solusi yang bisa dapat saya tawarkan adalah membangun akses penerbangan dari Boven Digoel ke Oksibil melalui jalan darat maupun udara.

Akses jalan darat dari Kabupaten Boven Digoel dan Oksibil sudah masuk maka, apa pun yang dibutuhkan masyarakat mudah terjangkau. Bukan hanya memuhi kebutuhan masyarakat tetapi mempercepat pembangungan di Kota Oksibil yang adalah 34 distrik yang ada. Dalam tulisan ini saya lebih mengulas tentang dampak – dampak terjadinya kecelakaan pesawat yang terjadi di Papua terlebih khusus wilayah Pegunungan Bintang. Saya sendiri tidak melakukan pendekatan persuasif untuk mengumpulkan data kecelakaan pesawat di kedua daerah tersebut. Namun, beberapa sumber yang saya peroleh adalah orang tua saya di kampung, media cetak, media online, dan melalui siaran Televisi dan juga YouTube. Pengenalan kondisi geografis suatu wilayah sangat penting. Tujuan utama untuk mengetahui hal tersebut adalah mempermudah dalam penerbangan secara baik. Penghambat utama dalam penerbangan di wilayah ini adalah cuaca yang sangat ekstrem. Penerbangan ke wilayah Oksibil tergantung dari cuaca. Cuaca buruk maka sudah pasti pesawat tidak akan berangkat ke Oksibil. Dalam bulan Juni 2019 pembatalan terjadi sampai dua minggu lebih hanya karena cuaca yang ekstrem.

Di daerah pegunungan lain yang ada di wilayah pegunungan tengah Papua masih bisa untuk melakukan penerbangan. Sedangkan di Oksibil kabut saja sudah melakukan pembatalan untuk pesawat take off. Apa lagi kabut menyelimuti kota Oksibil sekalian dengan hujan deras maupun rintik – rintik sangat amat tidak bisa untuk pesawat masuk di bandar udara Oksibil. Salah satu faktor utama dalam pembatalan pesawat untuk berangkat dari Jayapura ke Oksibil adalah bandar udara Oksibil terletak ditengah – tengah Gunung Dilpom dan Bukam. Sehingga, amat susah untuk pesawat bergerak bebas ketika gagal landing. Kalau sudah gagal landing hanya dua kemungkinan yang terjadi antara pesawat jatuh dan tidak. Saya mencoba mendeskripsikan Bandar Udara Oksibil. Dari arah Sibil Buk menghadap ke arah Barat terdapat beberapa gunung seperti; gunung Babtum, Imir, Siwoltum, Amoltum, dan Alutsikin. Bagian Timur terdapat beberapa bukit yaitu; Dubotum, dan Ewandirar. Bagian Selatan terdapat urat gunung Dilpom dan kali Oksibil mengambil sebagian besar lapangan terbang Oksibil. Terakhir bagian Utara terdapat beberapa gunung seperti; Gunung Polki, Kukding, Bukam, Menuk, Atem Sikin, Atel Sikin, Atenok, Daklil Sikin, dan Tangok. Beberapa gunung dan bukit ini sebagai penghambat utama dalam proses pendaratan pesawat terbang di Bandar Udara Oksibil.

Kondisi lapangan terbang Oksibil sesuai dengan hasil deskripsi diatas yang menjadi salah satu kendala selain cuaca yang kadang – kadang tak menentu. Kalau tempat luas maka saya yakin sekalipun kabut menutupi lapangan akan tetap melakukan landing secara baik. Di sisi lain adalah landasan pacu (runway) tidak terlalu luas. Sehingga pesawat yang bisa beroperasi di bandara Oksibil jenis ATR 42 dan Twin Otter saja. Kepala Bandara Oksibil Frits J Ayomi mengemukakan kondisi geografis Bandara Oksibil dikelilingi pegunungan, cuacanya tidak menentu, dan terdapat dua obstacle (berupa bukit) yang cukup tinggi pada masing-masing ujung runway. “Semua ini berpengaruh terhadap jumlah penumpang yang dibawa oleh pesawat,” kata Kabandara Frits saat ditemui Majalah Bandara beberapa waktu lalu. Untuk mengurangi obstacle itu, lanjut Kabandara, rencananya tahun depan pengelola bandara akan melakukan pemotongan bukit agar pelayanan penerbangan di bandara itu dapat berjalan optimal dan pesawat bisa mengangkut penumpang sesuai kapasitas kursi. “Sesuai masterplan, runway bisa diperpanjang hingga 1.700 meter. Oleh sebab itu, pesawat jenis ATR 72 dapat beroperasi di bandara ini tanpa mengurangi load factor-nya seperti saat ini.

Saat ini Bandara Oksibil yang merupakan Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas III memiliki runway sepanjang 1.600 meter x 30 meter. Namun landasan pacu yang bisa digunakan sepanjang 1.350 meter sehingga hanya bisa didarati pesawat sejenis ATR 42 dan Twin Otter. Sementara dari sisi darat, Bandara Oksibil memiliki gedung terminal baru seluas 1.000 meter persegi yang dibangun Pemkab Pegunungan Bintang dan sedang dalam proses hibah ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Tim dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, setelah Idul Fitri, akan melakukan verifikasi terminal baru tersebut. Kabandara menambahkan dengan adanya bandara, kebutuhan logistik masyarakat di daerah itu pun terakomodasi menggunakan pesawat kargo.Hal yang paling substansial adalah lokasi bandara. Dilihat dari hasil deskripsi saya maupun apa yang disampaikan oleh kepala Bandara Oksibil itu benar. Bisa saya tawarkan adalah membangun bandara didaerah selatan karena disana areal tanah yang luas. Hanya agak berat adalah yang punya hak ulayat ini mau menerima atau tidak itu saja. Kalau tidak harus membongkar bukit – bukit yang ada di bagian barat bandara. Supaya lapangan itu luas sesuai dengan keinginan kita bersama.

Konklusi dari dampak terjadi kecelakan pesawat terbang yang memakan ratusan korban orang papua yang ada di wilayah Oksibil adalah ada dua hal pertama cuaca yang ekstrem dan tak menentu, sedangkan kedua adalah lokasi bandara yang tidak luas. Hanya kedua hal ini menjadi dampak utama terjadinya kecelakaan pesawat di Oksibil. Dilain sisi ada yang bilang itu rencana Tuhan tapi bagi saya tidak. Karena, Tuhan tidak merencanakan keburukan kepada manusia. Untuk mengatasi salah satu dari kedua dampak ini mesti mencari lokasi bandara baru sesuai tempat yang saya usul diatas atau dari dinas Perhubungan dan PEMDA maunya dimana.

Kecelakaan pesawat yang terjadi di Kabupaten Pegunungan Bintang (Oksibil) tercatat nomor urut satu untuk di Papua. Sedangkan nomor urut kedua di Kabupaten Jayawijaya (Wamena). Itu yang saya tahu, tidak tahu di tempat lain. Jatuhnya pesawat di Oksibil mulai dari tahun 2009, 2015, 2018, dan 2019 terakhir. Sedangkan di Wamena yang saya tahu kecelakaan pesawat terjadi tahun 2017 dan 2018. Pesawat yang jatuh di tahun 2019 adalah Helikopter milik TNI AU dengan nonor registrasi HA-5138. Semua pesawat yang jatuh di Oksibil kronologis singkatnya saya akan sampaikan di pragraf – paragraf selanjutnya.Pesawat terbang yang pertama kali jatuh di Wilayah Pegunungan Bintang (Oksibil) adalah Merpati Nusantara Airlines. Dengan nomor registrasi PK-NVC; tipe DHC-6. Jatuh tepat pada tanggal 2 Agustus 2009. Kronologinya adalah pesawat take off dari bandara Sentani menuju Oksibil pada pukul 10:15 WIT; dengan estimasi akan landing di Oksibil pukul 11:05 waktu setempat. Pukul 10:28 WIT; kontak dengan pesawat untuk memonitor jalannya penerbangan namun tidak memberikan jawaban dari pilot. Sehingga para operator menduga bahwa pesawat tersebut mengalami kecelakaan.

Ternyata benar bahwa pesawat yang mengantar penumpang tujuan Sentani –  Oksibil  dikabarkan menabrak  salah satu gunung di sekitar distrik Apmisibil. Penumpang sebanyak 13 orang dan kru 3 orang total 16 orang ditemukan tewas. Informasi yang didapat untuk cuaca pada saat itu baik. Kesalahanny ada pada pilot menurut pengurus Komite Nasional Keselamatan Transfortasi (KNKT)  udara tidak pernah konsultasi berkaitan dengan maslah keselamatan penerbangan dan juga safety dalam keberangkatan. Ternyata dari team komite menemukan bahwa memang pesawat tersebut sudah mencapai usia 30 tahun. Oleh sebab itu, pesawat tersebut harus diperbaiki terlebih dahulu supaya tidak mengorbankan penumpang. Salah satu penumpang  yang jatuh pada itu kaka saya Nelwan Asemki yang ingin berlibur ke kampung halaman bersama orang tuanya di kampung Yapimakot distrik Serambakon.

Kecelakaan pesawat kedua adalah Trigana Air Service dengan nomor registrasi penerbangan IL267; tipe ATR-42-300. Tragedi kecelakaan itu pada tanggal 16 Agustus 2015. Kronologisnya adalah take off dari Sentani – Oksibil pada pukul; 14:22 dengan estimasi landing sesuai jadwal penerbangan pada pukul; 15:04 WIT. Ternyata waktu yang ditentukan sesuai dengan jadwal tak kunjung datang(tidak tiba di Oksibil). Jumlah penumpang yang ikut sebanyak 44 orang dewasa, 2 anak, 3 bayi, dan 5 lainnya adalah kru pesawat. Tidak satu pun yang selamat dalam kejadian ini. Lokasi jatuhnya pesawat yang benar di gunung Daklil. Pesawat bukan menabrak gunungnya tetapi pesawat menabrak pohon besi (Ade Serap). Lokasi tersebut terletak di bagian barat kampung Seramkatop, Distrik Serambakon Kab. Peg. Bintang. Jatuhnya pesawat itu disebabkan oleh cuaca yang buruk dan ekstrem. Orang pertama yang menemukan pesawat tersebut adalah salah satu pemuda dari Kampung itu yaitu; Hosea Ningdana bukan team SAR Kabupaten maupun Provinsi.Ketiga adalah pesawat Dimonim Air dengan nomor registrasi penerbangan PK-HVQ; tipe; PAC 750XL milik PT. Martha Buana Abadi. Take off dari Tanah Merah to Oksibil pada pukul; 13:50WIT dengan perkiraan waktu tempu 14:30. Namun, pesawat tersebut tidak menepati waktu yang ditentukan akhirnya dikabarkan pesawat itu jatuh. Kecelakaan tersebut terjadi pada tanggal 11 Agustus 2018. Rute penerbangan dari bandara Tanah Merah Kabupatena (Boven Digoel) – Oksibil. Jumlah penumpang sebanyak 8 orang; 2 orang diantaranya kru; dan 1 orang anak SD kelas V. Selamat adalah anak SD kelas V itu selain dari itu semua meninggal dunia. Lokasi jatuh pesawat di gunung Menuk distrik Serambakon.

Pesawat terakhir yang dikabarkan hilang kontak di Oksibil pada tanggal, 28 Juni 2019 adalah Helikopter milik TNI AU. Dengan kode penerbangan HA-5138; tipe MI-17. Total penumpang termasuk kru sebanyak 12 orang. Take off dari Oksibil pukul; 11:44 dengan estimasi waktu tempu di Sentani 13:11 WIT. Namun sayang sekali bahwa pesawat tersebut hilang kontak ketika pesawat take off pada pukul 11:49 atau 5 menit ketika saat lepas landas dari bandar udara Oksibil. Sampai dengan saat ini pesawat masih belum menemukan lokasi jatuhnya. Sudah melakukan pencarian lewat darat dan udara oleh team SAR dan anggota TNI menggunkan Heli Bell. Heli Bell 412 melakukan 2 kali penerbangan pencarian  “https://www.detik.com/tag/helikopter-hilang-kontak/?tag_from=tag_detail&_ga=2.145726578.7332394.1561949968-1882200234.1500361560″ helikopter yang hilang pada radius 5-20 mile dari titik lost contact. Sedangkan heli Bell 412 nomo registrasi 5185 melakukan 1 kali penerbangan pencarian (searching flight) pada radius 5-20 mile dari titik lost contact. “CN 235 melakukan supporting flight dari Sentani menuju Oksibil dengan membawa persediaan avtur dan ransum tempur untuk kepentingan kegiatan SAR,” Sementara itu, pencarian lewat jalur darat dilakukan tim SAR dengan jumlah personel 100 orang. Pencarian mencakup tiga wilayah, yakni Kabupaten Oksibil, dengan menyisir Distrik Oksop. Sedangkan team SAR kedua menyisir wilayah Kaureh, Jayapura, serta team ketiga menyisir Airu.

Semua insiden kecelakaan pesawat yang terjadi di Oksibil tiap tahun pada bulan Agustus dan bulan Juni hanya satu kali. Hampir seabgian besar masyarakat Pegunungan Bintang sangat trauma dengan bulan Agustus. Mereka punya pandangan tersendiri bahwa bulan Agustus adalah bulan pembawa kematian (malapetaka). Karena, bulan tersebut mengalami perubahan iklim; musim panas menjadi musim hujan. Sampai ada yang berpendapat bahwa bulan tersebut sudah dijadwalkan oleh alam untuk setiap bulan tersebut mengalami kecelakaan pesawat. Untuk itu, jangan mengikuti penerbangan pada bulan Agustus. Saya sendiri bisa menerima pikiran – pikiran para orang tua di kampung ini juga. Soalnya pandangan – pandangan seperti itu hampir 80% benar menurut saya. Solusinya toko gereja dan adat berdoa secara besar-besaran di halaman terbuka. Karena hubungan alam dan manusia tidak harmonis menurut saya.

“Penulis dalaah Almuni Universitas Sains dan teknologi Jayapura; Jurusan Teknik Elektro TA 2012”

Berikan Komentar Anda