BALIK ATAS
Kecewakah Kamu Bersama Dengaku
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 10th Juli 2014
| 851 DIBACA
Screen Kisah Yesus   Foto:Ist
Tubuh yang mulai letih karena telah dikerumuni banyak orang mungkin saja butuh istirahat tetapi karena inilah waktu yang baik berjumpa dengan teman-teman saya, bisa jadi keletihan itu hilang begitu saja, apalagi melihat teman-teman dan penduduk begitu antusias menyambut kehadiran saya dan teman-teman saya.

Banyak penduduk yang ingin mendengarkan pesan-pesan apa yang saya bawakan sehingga mereka berdatangan dari berbagai tempat. Saya pun dengan tekun dan sabar mengajarkan hal-hal yang penting bagi kehidupan mereka. Sesudah itu saya ingin melanjutkan perjalanan, tidak terduga ada seorang muda dengan pakaian yang indah, sepertinya ia adalah seorang kaya, sedang berlari menuju ke arah saya. Saya juga tidak tahu mengapa ia berlari menuju kepada saya. Setibanya di depan saya, barulah saya tahu bahwa benar ia adalah seorang muda kaya. Setelah dekat dengan saya, ia berlutut di hadapan saya. Entah apa yang membuatnya sehingga ia bisa seperti itu. Dari raut wajahnya sepertinya tergambar bahwa ada masalah sehingga ia mendatangi saya dan pasti ia butuh pertolongan. Tanpa basah basih, kami mulai bercakap. Ia bertanya kepada saya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi
dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah saya.” Sesudah mendengar penjelasan saya, orang muda itu kemudian berdiri, perlahan demi perlahan mengundurkan diri dari hadapan saya lalu pergi. Dari sikapnya itu saya tahu bahwa ia berat hati menjual semua hartanya
dan memberikan kepada orang lain lalu kembali mengikuti saya. Waktu itu di dekat saya juga berdiri teman-teman saya yang turut menyaksikan peristiwa ini. Sebagai seorang teman, saya pun menjelaskan kepada mereka bahwa “memang sungguh sukar bagi seorang yang beruang untuk masuk kerajaan Allah. lebih muda seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah.” Mendengar penjelasan saya tersebut, teman-teman saya juga mulai resah, gelisah, bingung bahkan cemas dengan masa depan mereka. Sepertinya dari
raut wajah mereka saya bisa baca bahwa mereka sedang galau, saling berbisik satu dengan lainnya. Bisa jadi mereka sedang perbicangkan apa yang baru saja saya katakan. Karena itu saya mulai menjelaskan
kepada mereka bahwa: “bagi manusia memang hal itu tidak mungkin tetapi tidak demikian bagi Allah. Bagi Allah, mugkin!” Entah apa yang terjadi, teman saya yang bernama Petrus, tanpa basah basih memandang
kepada saya, dengan penuh kekesalannya, ia berkata: “kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau.” Saya mengerti perasaan teman-teman saya, saya tahu mereka bergumul dengan perkataan saya tadi, saya juga tahu mereka sudah mengikuti saya berarti mereka menaruh harapan besar kepada saya. Untuk itu saya menjelaskan kepada mereka bahwa “sesugguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena
Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat:
rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” Setelah mendapat penjelasan ini, teman-teman saya tidak meninggalkan saya seperti orang muda yang kaya tadi, melainkan mereka terus bersama dengan saya sampai saya menuju Yerusalem, kecuali teman saya yang bernama Yudas. Karena rasa kecewanya kepada saya, ia pergi meninggalkan saya, yang kemudian datang bersama dengan robongan prajurit, ia mendekati saya dan mencium saya. Dengan ciumannya itu ia menjual saya ke tangan orang lain.

KECEWAKAH KAMU BERSAMA DENGANKU

Pnt. Alfred Monim

 

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM