BALIK ATAS
Kehidupan Berawal dari Konflik
PENERBIT:PPWI MEDIA Redaksi PAPUALIVES.COM 23rd Januari 2019
| 145 DIBACA
Maximus Sedik (Doc. Pribadi)

Oleh: Maximus Sedik

Saya selalu di nasihat ayah saya sejak masa kecil tentang norma kehidupan yang baik dalam pergaulan kehidupan bersama. ayah memberikan pesan hidup kepada saya untuk, saya kembangkan dalam kehidupan saya, saya selalu di nasihat untuk menghargai sesama manusia, bekerja keras, cara berburu, berkebun dan apa saja menjadi dasar berpijak dalam kehidupan pada saat dimana saya sudah menjadi orang yang sudah dewasa. Saya sering di nasihat oleh ayah saya pada saat fajar pagi sudah mendekat. Mengapa, karena disaat itu otak saya masih kosong dan cepat terserap seluruh nasihat atau pesan penting yang disampaikan.

Ayah selalu memberikan nasihat bahwa kehidupan penuh dengan masalah dari sejak manusia dibentuk antara sel sperma dan ovum. Mengapa masalah berawal dari kita sedang dibentuk untuk menjadi janin? Memang karena bagaimana perebutan antara kedua pemberi kehidupan untuk mencapai hasil itu bisa jadi laki-laki atau perempuan. Ayah saya bukan seorang yang berpendidikan sekolah formal, memang ayah saya tidak lalui tetapi ayah adalah seorang filsuf pendidikan lisan yang menjadi dasar dari pendidikan di saat ini atau pendidikan modern. Seluruh Benua di dunia memiliki ciri khas kehidupan di setiap kelompok komunal kehidupan didalamnya memiliki corak yang berbeda.

Saya belum beranjak dewasa, saya sudah diajarkan berbagai langkah atau cara untuk memahami dan menganalisis konflik yang terjadi untuk menemukan kehidupan yang baik dan harmonisasi. Ayah mengajarkan saya, bahwa jangan menghindar dari suasana tidak bersahabat pada kehidupan mengapa karena kehidupan selalu berawal dari masalah, adanya masalah untuk mencapai atau menemukan suasana yang baru. Dalam kebijaksanaan orang memandang suatu konflik sebagai suatu yang salah atau negatif, kehidupan yang bersifat sosial maupun materiil. ayah menjelaskan mengapa orang bisa hidup dan menjalankan kehidupannya, semua berjalan dengan baik karena setiap orang yang mau hidup ia mencari jalan keluar baik untuk aktivitas bertahan hidup secara ekonomi maupun bencana yang terjadi.

Saya bertanya, ayah mengapa ayah buat rumah berjarak dari beberapa meter dari tanah, terus ayah pagari kebun kita, jalan bawa pana, korek api, dan ayah selalu nasihat ke saya anak jangan cari masalah dengan orang lain. Biasa kita masih kecil suka bertanya pada orang tua kita tentang apa saja kita lihat sesuatu apa yang orang tua lakukan sepertinya masa kecil kita lebih pintar filsafat. Tujuan dari seluruhnya hanya untuk mencari jawaban dari apa yang sedang orang tua lakukan maupun  yang mereka berbicara. Mengapa kehidupan bersumber dari konflik? siapa yang buat konflik ? bagaimana cara atau langkah kita selesaikan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi ?. Saya kembali lagi cerita saya bersama seorang guru filosofi hidup (ayah), saatnya saya beranjak tumbuh menjadi seorang remaja berada di sekolah menengah atas. Kebanyakan hari libur atau liburan saya memilih tidak pulang, saya di asrama kebetulan saya masuk asrama sebagai seorang hidup bersama bersama para biarawan- biarawati di sebuah kota di tanah penuh konflik.

Semakin lama semakin saya memahami sangat berarti untuk mendengarkan nasihat dari seorang ayah dan ibu ini bagian dari pengarah kehidupan pada pribadi, karena mereka sudah melalui dan saat ini mereka hadapi dalam kehidupan. Saya memilih  untuk liburan bersama orang tua di kampung halaman bersama keluarga, secara khusus kedua orang tua di tempat dimana saya bertumbuh sebagai seorang anak. Saya mengetahui secara seksama bahwa kehidupan di kampung sangat berarti bagi diri-ku untuk belajar banyak hal tentang kehidupan dan mendengar banyak pesan moral yang sangat berarti bagi diri-ku. Seperti Plato yang lahir di Athena, dia seorang filsuf yunani yang terkenal dengan pemikirannya baik ilmu sains maupun ilmu sosial, Plato banyak mendengar banyak nasihat maupun cerita-cerita mitos dari tua-tua di kampung tentang kehidupan. Kehidupan pada waktu itu lebih buruk dan sangat berdampak pada kehidupan masyarakat di sekitar kota Athena, secara sistem pemerintahan maupun sistem politik yang tidak berjalan dengan akal sehat. Hal ini, membuat banyak pemikir yang lahir di kota ini, mengapa mereka berpikir karena mereka hidup dalam tembok persoalan. Setiap manusia atau kelompok komunitas yang hidupnya selalu dengan masalah mereka pasti mencari jalan keluar untuk menemukan habitus yang baru. Baik secara pribadi maupun kelompok masyarakat dalam sistem Negara-politik ataupun suasana kehidupan lain.

Arah berpikir kita terhadap kata konflik lebih pada makna negatif mengapa, karena pemahaman kita terhadap kata konflik sangat terbatas dan tingkat berada pada ketajaman untuk menerjemahkan maupun menganalisis yang terlihat dan maupun dipahami hanya sekedar wacana bukan dasarnya. Misalnya, di kampung saya terdapat sebuah sekolah dasar (SD), yang awalnya dikelola oleh Yayasan dari pihak gereja pada waktu kampung tersebut masih terisolasi. Sekarang sekolah tersebut beralih ke tangan yang berbeda atau pemerintah karena sudah mengalami pergeseran ke arah sedikit berubah. Tetapi perbandingan antara bagaimana aktivitas belajar-mengajar di waktu itu jauh lebih baik dan semangat mengabdi dari para pendidik lebih baik. Sekarang sarana perasananya (jalan, jembatan dll) sangat memadai bahkan lebih modern baik fisiknya maupun proses belajar-mengajarnya, tetapi yang terjadi seluruh prosesnya tidak berjalan karena belajar-mengajar-nya di kampung maupun kualitas siswa-siswi menurun. Apakah ini konflik atau tidak ? sesuai dengan analisis kita untuk menganalisis suatu konflik, ada beberapa hal penting seperti, sumber, isu, pihak-pihak dan siapa yang mengintervensi, dengan ini sehingga kita bisa mampu menganalisi suatu konflik misalnya, contoh di atas. Kehidupan mengalami perubahan karena ada dinamika atau proses konflik yang berperan penting dalam keadaan itu sendiri. Papua saat dilihat sebagai laboratorium konflik baik, konflik antara horizontal- vertikal maupun vertikal- horizontal (atas ke bawah atau bawah ke atas) dari waktu ke  waktu. Saya berpendapat bahwa kita masih terbawa dalam wacana belaka bukan kita sudah masuk dalam ruang analisis untuk mencabut akarnya. Orang melihat Papua sebagai lahan konflik begitu luas untuk bagaimana bermain sesuai dengan daya upaya data untuk memperoleh keuntungan atau cara untuk menempuh pendidikan di tingkat tertentu. Mengapa demikian karena itulah bangsa yang terjajah dalam suatu sistem yang cantik seperti gadis papua. Yang kita ketahui bersama sebagai bangsa yang hidup dalam berbagai konflik atau masalah, kita berpikir bagaimana untuk keluar dari masalah ini. Dengan ini, apa yang kita lakukan, bagaimana langkahnya, kapan kita mengakhirinya, siapa yang kita takuti bersama sebagai lawan kita. Seluruhnya terjawab disesuaikan dengan kesadaraan, komitmen dan kepekaan kita bersama terhadap apa yang kita hadapinya.

Konflik tidak pernah berakhir dari kehidupan manusia begitu pula kehidupan manusia tidak pernah terhindar dari konflik, itulah disebut dengan roda kehidupan manusia. Semoga

Penulis Adalah Seorang Mahasiswa Jalanan

Berikan Komentar Anda