Balik Atas
Kematian Tanpa Air Mata
 
Pewarta: Redaksi Edisi 28/08/2019
| 379 Views

Oleh Thomas Ch Syufi*

“Bersyukur bahwa kematian adalah pintu baru, jalan menuju dunia tanpa air mata,” kata Fransisco Xavier Lopez da Cruz, alumnus Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi di Makau, Timur Portugis, mantan Wakil Gubernur Timor Timur, diplomat RI yang pernah bertugas di New York, Jenewa, dan Austria, juga pernah jadi Duta Besar Keliling RI untuk negara- negara Afrika, dan terakhir Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh RI untuk Portugal dan Hongaria.

“Mati hari ini atau esok sama saja, asalkan mati dengan meninggalkan kenangan manis dan indah untuk selalu dikenang,” tambah Lopez da Cruz( pengagum filsuf terbesar Eropa Abad Pertengahan, Thomas Aquinas).

Tidak terputus. “Seseorang itu terasa berarti( penting) ketika ia telah pergi dan takkan kembali lagi,” kata Khalil Gibran(1883-1931), penyair, pelukis, dan penulis terkenal Amerika kelahiran Libanon.

Dulu 2013, Nelson Mandela meninggal, saya menangis berkali2 ketika berkali2 disiarkan berita kematian pahlawan Afrika Selatan itu di sejumlah saluran televisi nasional. Waktu itu saya masih aktif sebagai Staf Ahli di Kantor DPD/ MPR RI di Jakarta, bahkan sebelum jam pulang kantor, saya lebih dulu pulang. Di tempat tinggal( kost), saya membuka buku Mandela: “Long Walk To Freedom” untuk membaca. Melahap lembar demi lembar di Bab pertama dari buku itu telah membuat saya seperti patah jiwa, mau membuka di Bab Kedua lembar pertama– saya harus jatuh terkapar di lantai. Ingat Mandela jadi simbol pejuang kemanusiaan tanpa kekerasaan atau pertumpahan darah. Dia tidak setuju dgn dominasi kulit putih, juga dia menolak dominasi kulit hitam. Dia ingin semua orang harus berdiri sama tinggi– duduk pun sama rendah: anti-superiorisme dan menghendaki egalitarianisme.

Kofi Annan(1938-2018),  diplomat Ghana dan  Sekjen PBB KE-7 (1997-2006) pun demikian. Kontribusinya untuk dunia yang adil, damai, dan sejahtera tak bisa dimungkiri. Dia berhasil memediasi konflik SARA di Rwanda dan Bosnia. Juga, ikut mendirikan Kofi Annan Foundations. Sebuah yayasan kemanusiaan yang fokus menangani isu-isu kemiskinan dan penanggulangan penyakit HIV- AIDS di negara- negara di daratan Afrika.

Kini, saya harus menderita menangis dan berkerut kening karena kepergiaan seorang tokoh Gereja dan pembela HAM Papua, Mgr John Philip Saklil Pr, Uskup Keuskupan Timika, Papua.

Jiwa saya memang bisa kuat untuk putus cinta dgn seorang kekasih, tapi sangat lemah dan rapuh ketika menyaksikan orang-orang yang berjasa di mimbar kemanusiaan– pergi–apalagi mengingat mereka seperti lilin yang habis dibakar untuk menerangi orang lain.

Persipura

Terima kasih Persipura karena telah jadi pelipur lara di bulan Agustus yang kelabu. Kami orang Papua masih berkabung. Selama hampir 67 tahun Papua menjadi bagian dari RI atau kata para nasionalis Papua– Papua “dianeksasi” tak ada waktu jeda untuk orang Papua bergembira di negeri sendiri, apalagi bersorak sorai bersama “aneksatornya”.

Papua selalu dirundung duka dgn kematian variatif: mulai dari penyakit malaria, TBC, serangan jantung, hingga tergelincir dan terpelesat: mati mendadak dan aneh-aneh—dengan menciptakan kesimpangsiran di tengah2 masyarakat asli Papua.

Dalam tahun ini, kematian bersusulan para rohaniwan Katolik Papua, Pater Neles Tebay Pr(Ketua STFT Fajar Timur dan Koordinator Jaringan Damai Papua(JDP), 14 April 2019, Uskup Keuskupan Timika, John Philip Saklil Pr, 3 Agustus 2019, Pater Yulianus Mote Pr(mantan Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Jayapura), 4 Agustus 2019, dan Pater Izak Resubun MSC(dosen antropologi STFT “Fajar Timur”), 8 Agustus 2019.

Sepertinya saya sudah tidak suka lagi bahas Otonomi Khusus dan segala turunannya, pemekaran dan pembangunan, misalnya, yang membuat kita seperti ” bergaya dalam penjara” . Pengen pilih berjalan di jalan yang sunyi, koridor yang penuh dgn ketakutan dan amarah, yakni Via Dolorosa. Itulah Jalan Penderitaan, Jalan Air Mata. Juga Jalan Cinta sekaligus Jalan Kemanusiaan. “Kehidupan orang-orang mati selalu terekam dalam memori orang-orang hidup,” kata Marcus Tullius Cicero(106-43 SM), filsuf, pengacara, orator, penulis, dan negarawan zaman Romawi.

Seorang tokoh dikenang apabila ada generasi yang hendak mewarisi perjuangannya.

Mgr John Philip Saklil Pr, dalam Kenangan.

*). Penulis adalah Koordinator The Papuan Observatory for Human Rights(POHR) dan Pengurus Pusat PMKRI Sanctus Thomas Aquinas kurun 2013-2015.

 

Berikan Komentar Anda