BALIK ATAS
Kepercayaan Suku Mpur Distrik Amberbaken Kabupaten Manokwari
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 2nd Januari 2014
| 2932 DIBACA

Photo: Adriana Sri Adhiati 
Di Manokwari tepatnya di kampung saukorem, terdapat marga atau keret dari sebuah kampung yang ditempati yaitu marga Warijo yang artinya bunyi air air atau air yang beriak dan marga Wabia artinya bambu yang jatuh meluncur.Kedua keret ini bersama bersatu dan menyebut diri mereka suku Mpur berarti orang baik atau lembut.mereka menempati Provinsi Papua Barat Kabupaten Manokwari, di kepala burung Papua, lebih tepatnya lagi di Distrik Amberbaken ini berjarak dari 110 km, dari ibu kota Manokwari, Klasis Amberbaken.jadi Distrik initerletak tepat diantara dua wilayah besar yaitu Manokwari dan Sorong.

Kedua marga ini sudah tinggal bepuluh tahun lamanya disana pada satu kampung  atau desa yang bernama Saukorem yang terletak tepat sepanjang bibir pantai. Asal nama Kampung Saukorem ini diberi nama oleh seorang Penginjil yang berasal dari Biak (dari Teluk Doreri) yang bernama Otto Fariamatb Rumadas. Kampung Saukorem sendiri juga dari dua kata yaitu “Sau” berarti “teluk”, dan “korem” berarti kabar baik”. Jadi jika disatukan kedua kata ini berarti “ Teluk Kabar Baik”. Mereka dipimpin oeleh seorang kepalah suku/ondoafi yang bernama Bajasi, nama Bajasi berarti seorang yang kuat/ orang kuat. Yang menjadi pembahasan dalam penulisan ini ialah kepercayaan yang masih di pertahankan sebagai bentuk kepercayaan terbungkus dalam sistim adat-istiadat yang kuat dan juga masih ada sampai saat ini. Marga Warijo dan Wabia masih percaya roh-roh moyang Di dalam kehidupan masyarakat Marga dan keret di distrik Amberbakan yang hidup bersama-sama dimasa dimana mereka belum mengenal injil atau dengan kata lain masih hidup dalam kegelapan, salah satunya caramereka untuk mengremasihkan jenasa tua-tua atau oarang yang telah meninggal yaitu dengan cara menaruh di hutan. Cara pemakaman tradisional jenasah ini di lalukan dengan membangun para-para setingi 2 meter dan jenasanya diletekan diatas para-para tersebut dan mereka pulang kembali ke kampung. Setelah beberapa waktu lamanya setelah peletakan jenasa ditengah hutan tersebut kira-kira dua sampai tiga minggu mereka akan mendapat tanda-tanda dari roh Orang mati tersebut. Tanda-tanda tersebut ialah mereka akan didatangi lalat biru dengan membawa pesan dan membertahukan kepaada mereka atau lalat biru datang para warga suku tersebut mengetahui maksut kedatangan lalat biru tesebut.Lalat biru datang membawa pesan bahwa Orang mati itu meminta makan, maka maka mereka akan membawa makanan kepada Orang mati itu. Ketika mereka telah menaruh makanan yang di bawah tersebutpun memakai cara ritual yaitu setelah menaruh makanan di tepat diatas kayu disamping para-para tersebut dan mengetuk kayu yang tadi telah diletekan makanan sebanyak tiga kali dan berbicara( memanggil) Orang mati tersebut, seperti begini: Nenek moyang kami, inilah makananmu”, setelah itu mereka kembali ketempat merekah. Adapun cara ritual penyembahan suku Mpur yang lain ialah Apabilah mereka mau pergi berburu, Maka mereka harus meminta ijin atau restu kepada orang mati tersebut, dengan berkata: Nenek moyang kami, kami mau pergi berburu tetapi engkau memberi hasil kepeda kami. Tujuannya ialah supaya roh-roh nenek moyang mereka memberikan hasil yang baik kepeda mereka. Demikian juga cara penyembahan mereka yang lain ialah Apabilah di antara mereka yang sakit maka disitu juga Orang-orang Mpur meminta kesembuhan kepeda Orang mati tersebut supaya mereka menjadi sembuh dan memperoleh kekuatan kepeda orang yang sakit itu. Penyembahan berhala yang masih dilakukan sampai saat ini walaupun telah mengenal Ijil ialah seperti ada oarang yang sakit mereka memberikan air yang suda di beri kata-kata(air sam-sam).maka dengan air atu orang dapat sembuh,tetapi saat ini sudah mulai terkikis oaleh ijil, maka kepercayaan itu sudah mulai hilang dengan sendirinya.Melihat pada kasus diatas jelas bahwa keberagaman budaya oleh keret tersebut di atas maka adalah yang kita lihat dalah bagaimana mencapkan sebagai sebuah tradisi yang telah di pertahankan secara turun-temurun, dari seni ataupun keberagaman lokal budaya tersebut yang mencoba menkomunikasihkan antara kehidupan nyata dan kehidupan orang mati(roh-roh orang mati). Istilah yang palin umum ialah bagaimana mengungkapkan tanda yang dibawa oleh sipembawa pesan tersebut.Tetapi disini kita melihat bahwa peranan ijil yang masuk di Manokwari benar-benar datang dengan misinya untuk memberikan Injil di Tanah Papua dengan berusaha menghacurkan ikatan belenggu kehidupan masyarakat yang masih jauh dari terang Kristus.bentuk penyembahan yang digambarkan di atas merupakan kepercayaan atau okultisme yang mendarah daging sejak Injil  itu belum menyentuh tanah ini, mengapa para Penginjil yang datang dari berbagai negara berusaha memberentas “kehidupan lama” Orang Papua ? jawabannya ialah karena mereka  tahu bahwa Injil Kristus harus dipertahankan dengan cara menuju kepeda kehidupan yang terang yaitu Terang Allah.kepercayaan asli bahkan juga penyembahan dalam suatu lingkungan masyarakat mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat, meskipun kepercayaan itu telah memberi segalah tempat pemujahan mereka kepeda roh-roh oarang mati tersebut, namun jelaslah bahwa sebenarnya dengan cara seperti begitu telah menunjukan bahwa kepercayaan seperti begitu merupakan cara atau praktek penyembahan yang salah atau kehidupan yang jauh dari terang Allah. Firman Tuhan berkata: “Memeng dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang didalam Tuhan, sebab itu huduplah sebagai anak-anak terang” (Efesus 5:8).
Kehadiran Injil dalam kehidupan manusia khususnya di Papua jelas membawa perubahan dalam sistim kepercayaan mereka, namun perlu kiat sadari bahwa dalam pembritaan Injil Tuhan memang membutuhkan kerja sama dari sipemilik budaya tersebut, Injil Tuhan itu akan “bekerja” menyuruh dalam kebudayaan manusia apabilah adanya penerimaan dari pemilik budaya tersebut, dengan begitu “kehidupan lama” yang telah dipertahankan akan mulai hilang dan Kristus yang akan memulai segalah sesuatu dalam kehidupan manusia tersebut. Tradisi, adat-istiadat, serta ritual-ritual penyembahan berhala yang melambangkan kehidupan yang beragam didalam hidup hudup sebagai Orang-orang yang mempertahankan tradisi mereka seringkali dan pastipun mengalami benturan dengan hadirnya Injil yang berupa penghapus kegelapan dari kehidupan dengan menghadirkan terang Kristus Allah dalam hidup manusia.kita juga tidak bisah untuk menolak bahwa kebudayaanlah yang memanusiakan manusia, artinya segalah sesuatu. Dalam kehidupan manusia ini tidak bisah terlepas dari sistim budaya yang telah melekat dalam kehidupan manusia, bisah dilihat dari cara berbicara, bahasa, dan juga sampai pada tradisi kematian manusia jelas melambangkan budaya dari setiap individu yang memilikinya. Tetapi yang kita perlu lihat bahwa Injil Allah telah hadir dalam hidup Orang Papua sejak Tahun 1955. Maka dengan begitu cara-cara atau tradisi lama yang merupakan suatu tindakan dosa. Kita yakin bahwa masih banyak suku, keret, dan kalangan yang mempunyai budaya sama persis ataupun tidak dengan kebudayaan masing-masing, namun kita saat ini telah mengenal Kristus sebagai penyelamat kita. Banyak kepercayaan, agama suku, adat-istiadat yang telah dihilankan dalam kehidupan namun masih banyak juga kebudayaan yang masih dipakai atau dipertahankan dalam sistim kebudayaan manusia saatini. Seperti ini, kita adalah garam yang siap dipakai Allah untuk pekerjaan dalam pembritaan injil kedalam sistim budaya manusia.
Fransiskus Xaverius Kobepa
Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM