BALIK ATAS
Ketika Kasih Menjadi Dingin
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 10th September 2014
| 777 DIBACA
Foto : Ketika Kasih Menjadi Dingin / ist
Q.X.PRANATA
Musim dingin. Saat keluar dari sebuah pusat
rekreasi, hawa dingin langsung menyergap wajahku. Kuturun- kan kerpus
untuk menutupi telingaku yang beku. Syal wool aku lilitkan lebih erat di
leherku yang kaku. Di luar seorang gadis yang sama-sama kedinginan
sudah menantiku. Sambil menyusuri jalan, kami seperti menghitung langkah
kaki kami masing-masing. Sama-sama membisu. Beku.
Kafe tenda
yang menghidangkan croissant hangat dan belgian chocolate yang mengepul
memaksa langkah kami untuk berhenti dan mampir. Udara hangat yang
menyembur dari patio heater di tengah warung tenda itu mampu membuka
bibir beku gadis di depanku kembali merekah, dan mengalirlah cerita
sendunya.
Beberapa tahun setelah kuliah di luar negeri, gadis ini
– sebut saja Snowflake – berkenalan dengan seorang kakak kelasnya.
Awalnya ia hanya menganggapnya – panggil saja Snowball – sebagai kakak
di tanah asing. Namun seiring berjalannya waktu, rasa kasih sayang
antara kakak dan adik itu berkembang menjadi cinta antar sepasang insan.
Mulailah musim semi di hati mereka. Bunga-bunga cinta bermekaran di
hati keduanya. Di mana ada Snowflake – di kampus, kantin, perpustakaan –
di situ ada Snowball. Kuliah di negara orang yang jauh dari keluarga
tidak lagi membuat mereka kesepian. Bunga-bunga musim semi selalu
menghiasi hari-hari mereka.
Musim panas tiba. Mentari musim panas
yang menyengat mulai menghantam tanaman cinta mereka. Tirai euforia
cinta mulai terbuka dan digantikan dengan scene realitas.
Konflik-konflik kecil berubah menjadi badai per- tengkaran. Ternyata
baik Snowflake maupun Snowball sama- sama keras. Mereka sama-sama tidak
mau mengalah. Setelah konflik, biasanya mereka mengadakan aksi bisu.
Meskipun begitu, sepasang insan yang sama-sama keras kepala ini tetap
bersama-sama. Persis seperti rel kereta api yang tetap bersama, tetapi
tidak pernah saling sapa. Cinta bukan saja buta, melainkan juga tuli.
Musim gugur berkunjung. Dedaunan berubah warna. Ada yang masih hijau.
Ada yang berubah kecokelatan. Hijau semburat kuning. Kuning semburat
hijau. Indah, tetapi sebentar lagi mati. Ironi. Daun-daun kasih sayang
yang selama ini menopang kehidupan cinta mereka berguguran. Sedikit demi
sedikit kelopak cinta mereka pun ikut berguguran. Sedikit saja gesekan
angin perselisihan mampu merontokkan simfoni kasih yang selama ini
mereka mainkan.
Puncaknya musim dingin. Suatu siang yang
menyilaukan, kabar menggelegar menyambar telinga Snowflake. Ia
didiagnosis menderita penyakit yang tak tersembuhkan. Namun, rasa sakit
yang ditimbulkan penyakit itu tidak seberapa dibandingkan sayatan di
hatinya saat ia menceritakan penyakit yang ia derita kepada Snowball.
Dengan suara lembut – tetapi tetap meledak di telinga Snowflake –
Snowball berkata bahwa mereka tidak bisa meneruskan hubungan itu.
Keluarga Snowball melarang keras anaknya menikah dengan gadis yang
penyakitnya bisa menurun ke anak. Pada puncak musim dingin itu, hati
Snowball pun menjadi semakin dingin.
Tanpa terasa, angin malam
yang begitu menggigit tulang menyadarkanku bahwa outdoor heater itu
mulai kehilangan apinya, kehilangan kehangatannya. Aku melihat Snowflake
menghapus air mata yang sejak tadi menggenang di matanya yang indah.
“Tuhan, penghiburan apa yang bisa saya berikan bagi hati yang terluka
ini?” rintih hatiku. Naluri keayahanku membuncah. Ingin rasanya aku
menampung air matanya yang tumpah dan menggantinya dengan sukacita yang
melimpah.
Kami memutuskan pindah ke tempat yang lebih hangat.
Saat aku menawarinya snack yang lain, gadis kecil ini menggeleng. Aku
pun jadi tidak berselera makan meskipun perutku terasa ingin diisi
kembali. dengan berhati-hati aku memberikan jaminan bahwa sekalipun
Snowbal mencampakkannya, sekali-kali Tuhan tidak pernah meninggalkannya.
Jika ia mau membuka hatinya bagi Tuhan, harapan selalu ada. Apalagi
yang bisa aku tawarkan, kecuali The Miracle of Hope?
Aku mencoba
mengingatkannya kembali akan The Moment of Miracle yang ia alami di
negeri orang. Saat pertama kali ia menginjak negeri empat musim ini,
Snowflake tidak hanya kuliah di kampus, tetapi juga belajar nilai
kehidupan yang sesungguhnya. Saat itu, sebuah gereja mengadakan acara
barbeque di pantai. Snowflake yang suka menyendiri dibanjiri teman-teman
baru. Mereka memiliki sesuatu yang selama ini tidak Snowflake punyai,
yaitu Sahabat yang tidak hanya mampu mengisi hari-harinya yang sepi,
tetapi juga setia mendampinginya.
Waktu mencoba membalik kembali
lembaran-lembaran daun pengalaman yang pernah Snowflake alami bersama
Tuhan. Saat-saat ia dengan air mata yang membanjiri pipinya maju untuk
didoakan. Saat-saat tangan Tuhan yang kuat, tetapi lembut mendekap
tubuhnya yang ringkih dan membasuh hatinya sampai bersih. Saat-saat ia
menyatakan diri rela menyangkal diri dan memeram diri dalam kepompong
kekudusan.
Saat-saat ia membiarkan dirinya diproses oleh tangan
ilahi. Saat-saat kepompongnya terbuka dan Snowflake menjadi ciptaan
baru. Kalau dulu ia adalah makhluk yang menjijikkan, kini ia menjadi
makhluk yang menjanjikan. Kalau dulu ia dianggap sebagai hama dosa,
tetapi kini ia menjadi kupu-kupu cinta. Yang lama sudah terlalu
dlterbangkan debu, dan yang baru sudah terbang tinggi menantang elang.
Selimut malam menggantikan selendang senja. Aku tidak tahu sudah berapa
lama Snowlake mencurahkan isi hatinya dan berapa lama juga aku mencoba
mengembalikan kepercayaannya bahwa Tuhan tetaplah Tuhan yang berdaulat.
Tuhan yang menebus dirinya dan aku ketika kami masih berdosa adalah
Tuhan yang sama, yang mampu mengangkat Daud kembali dan meletakkannya di
hati-Nya yang penuh belas kasihan. Yang jelas, jalanan mulai sepi
ketika aku mengiringi langkahnya sampai di depan apartemannya dan
mengayunkan langkah yang sama menuju apartemenku.
Daun kalender
berguguran. Kisah sedih pada musim dingin itu perlahan juga mulai gugur
dari ingatanku. Suatu kali, aku berkunjung kembali ke kota kenangan itu
dan Tuhan pertemukan aku kembali dengan Snowflake. Dari wajahnya yang
ceria, aku tahu ia sudah pulih. “Kak Xavier,” ujarnya sambil melambaikan
tangannya saat bertemu denganku. Bunga sukacita membuncah dari
wajahnya, dan meluncurlah kisah musim seminya. Ia lulus dari kuliahnya
dengan nilai yang tinggi, mendapatkan pekerjaan yang ia idam-idamkan…
dan ada double blessings (berkat dua kali lipat) pada akhir ceritanya.
Snowflake dinyatakan sembuh total oleh dokter dan mendapatkan pasangan
yang sepadan dengannya. “Kak Xavier harus datang ke pesta pernikahan
kami ya,” ujarnya. Semerbak harum bunga musim semi berembus dari
bibirnya yang tidak lagi beku. Tuhan memang baik. Sangat baik.
Selamat Tidur…GBU

Albert Rumbekwan

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM