KNPB Gorontalo : Masyarakat masih trauma , Segera tarik TNI/Polri dari Papua
Pewarta: Redaksi
| 339 Dibaca
EDISI TERBIT: 18 Mei 2020

GORONTALO – Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Gorontalo menggelar aksi bersama di asrama Cendrawasih Papua. Tepatnya di jalan Hiburang, Wongkaditi Barat , tepat pada (15/05 2020) siang kemarin.

KNPB Gorontalo ini,  mengeluarkan pernyataan yang dikirim ke papualives.com  yang menyatakan bahwa sejumlah Operasi militer di tanah Papua, bukan lagi hal yang baru, karena berlansug sejak tahun 1961 hingga sampe kini, operasi militer di tanah Papua sudah sebagian dari hidup. Beberapa gelombang operasi di Papua barat degan satuan militer yg diturunkan untuk operasi lewat udara dalam pase infiltrasi seperti operasi Banten Kedaton, Operasi Garuda, Operasi Serigala,Operasi Kancil, Operasi naga, Operasi rajawali, Operasi lumbung, Operasi jatayu, Operasi. Operasi lewat laut adalah Operasi show of rorce, Operasi cakra, dan Operasi lumba-lumba.

” Operasi militer tersebut yang dijelaskan itu, masyarakat Papua masih mengalami trauma dengan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh tentara TNI/Polri, melihat dengan ini, penambahan militer ditanah Papua membuat kepanikan terhadap masyarakat sipil di tanah Papua itu sendiri.”ungkap Hengki Boma Koordinator yang dampingi puluhan anggota.

KNPB Gorontalo, dengan tegas menegaskan kepada pemerintah untuk segera tarik kembali penembahan militer Indonesia diatas tanah papua.

” Dalam hal ini kami harus melihat dengan keadan dan kondisi situasi yang sedang di alami oleh manusia di dunia, degan wabah Corona virus ini.”tegas Korlap aksi itu.

Dengan demikian hasil pembacaan situasi dari KNPB konsulat wilayah Gorontalo mengeluarkan beberapa sikap, yaitu sebagai berikut:

1.Tarik kenbali semua militer di atas tanah Papua.
2.Menolak pembanggunan Pos TNI/Polri di Nabire,Deiyai,Intan Jaya,Puncak Papua dan selurih Papua.
3.TNI/Polri selalu mengambil bagian bidang Pemetintahan seperti di bidang Pendidian dan Kesehatan.
4.Tolak perpanjang Otsus Plus
5.Bebaskan 5 Tapol diantaranya yakni Agus Kosay,Buctar Tabuni,Fery Kombo,dan Alexander Gobay
6.Tutup PT.Freeport adalah solusi Demokrasi.
7.Segera cabut SK Drop Out yang diberikan kepada 4 Mahasiswa Universitas  Khairaru ,Ternate Diantaranya Abri A. Noor, Ikra Alkatri, dan Fahrur Abudllah.
8. Berikan penentuan Nasib sendiri bagi bangsa West Papua secara Demokrasi.*

Berikan Komentar Anda
Share Button