Balik Atas
Kondisi Bangunan Memprihatinkan,Diminta Perhatian Pemerintah
Pewarta: Redaksi Edisi 09/03/2019
| 252 Dibaca
Bangunan Milik Yakobus (Foto:Istimewa)

Timika,Bertahan hidup dalam kondisi rumah yang sangat memprihatinkan adalah hal yang dialami oleh Yakobus  Pria (52) bersama istri dan enam orang anaknya. Yakobus merupakan warga masyarakat RT. 05 Kampung Pigapu Distrik Iwaka, kabupaten Mimika. Sejak dibangun pada tahun 1999 oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika hingga saat ini, kondisi bangunan rumah tersebut sudah tidak layak huni sejak lima tahun terakhir ini.

Rumah yang menjadi tempat berteduh dan beristirahat buat banyak orang, ternyata kondisi ideal tersebut masih jauh dari kenyataan yang dialami oleh Yakobus. Namun istilah yang sering kita dengar home sweet home, berlaku buat Yakobus. Rumah panggung, berdinding papan itu, kini mulai rapuh, termakan usia. Jelas terlihat bagamana, dinding papan dan lantai rumah sudah rusak. Pemandangan yang sama juga terlihat pada atap daun senk yang telah rusak. Bapak beranak enam itu, harus berjibaku melawan hujan dalam kehidupan sehari-hari.

“ibu bisa liat sendiri, ruang tamu dan kamar tidur kami. Sampai pada bagian atap, juga saya harus sambung pake daun atap. Jadi sebagian seng dan yang lain atap, ” kata Yakobus.

Menurut Yakobus, Pemerintah Kampung melalui Dana Desa, beberapa kali telah di usulkan agar ada post dana untuk pemeliharaan rumah miliknya dan beberapa warga yang mengalami kondisi rumah yang sama.

Akan tetapi, Kepala Kampung, bersama masyarakat lain lebih memilih melakukan pembelian transportasi laut atau perahu jenis Fyber menggunakan Alokasi Dana Desa (DD) Kampung Pigapu dibanding tambahan dana pemeliharaan rumah tinggal.

Kondisi yang memprihatinkan ini, membuat Bapak itu bingung harus meminta bantuan kemana lagi. Walau demikian, Yakobus meminta agar Pemerintah Daerah segera melihat kondisi ini. 
”Kami ada lima rumah, yang seperti ini, rusak. Tapi kami masih tetap tinggal, ” ucap Yakobus. Kondisi itu, lanjut Yakobus, sangat sulit untuk menjalani aktivitas kesehariannya. Apalagi kondisi anaknya yang juga masih kecil dan ada yang masi balita bahkan menyusi. 
Lebih jauh lanjut Yakobus, saat istirahat malam bersama keluarganya, dan hujan, akan sangat sulit dan setengah mati. Harus melihat tempat yang kering atau tidak ada rembesan air hujan untuk bisa beristirahat.

Pantaun media di lokasi rumah, jarak Rumah Bapak Yakobus dengan jalan raya utama Lopong-Pigapu-Paumako adalah 10 meter di kanan jalan menuju pelabuhan Pamako. Kondisi tersebut dari jauh terlihat bumbungan atap yang sudah rusak. Baik kayu mapun daun senknya. Saat hendak memasuki rumah, ruang tamu sudah basaah semua, akibat tetesan hujan yang menembusi bocoran daun senk. Kondisi yang sama pula terlihat pada dua kamar tidur.

Dalam kondisi yang sangat sulit itu, Yakobus harus mengatur agar, bagaimana ke enam orang anaknya dapat isturahat, walau dalam kondisi yang seburuk itu. 
Kondisi bangunan rumah panggung papan itu, dilengkapi juga dengan instalasi listrik. Sehingga pantauan media ini, menyimpulkan bahwa, akan sangad beresiko terjadinya konsleting arus listrik akibat rembesan air hujan.

Pemerintah Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mimika, harus melihat kondisi ini. Bahkan tidak hanya warga di Kampung Pigapu, tetapi juga beberapa kampung yang ada di 133 Kampung, Kabupaten Mimika.

Redaksi

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM