BALIK ATAS
Lonceng Peringatan untuk Brasil
Diterbitkan Oleh: Redaksi Date 22nd Juni 2018
| 260 DIBACA
Thomas CH Syufi (Dok.Pribadi)

             Oleh: Thomas Ch. Syufi*

Barang kali benar juga kata sejarah:  Eropa, Inggris khususnya, merupakan tempat kelahiran dan pertama diperkenalkannya olahraga sepak bola, tetapi “trofi” merupakan pusakanya orang-orang di benua Romawi, hal ini Brasil.

Brasil memenang memiliki cerita yang panjang, juga menarik sekaligus mengenaskan dalam dunia sepak bola di jagat ini. Zig-zag pargulatan tim Brasil dengan julukan Samba itu untuk menjadi negeri yang dihormati dan disegani dunia karena prestasi sepak bolanya, yang melekat pada tiap generasinya.

Namun, sayangnya,  Brasil ketika mejamu dengan Tim Swiss di Rostov Arena, Rusia, Senin (18/06) dini hari,  pada Piala Dunia Rusia 2018, hanya berhasil mencetak satu gol sama dengan tim lawannya, Swiss. Jadi Brasil dan Swiss memperoleh skor 1-1

Satu poin  yang dikemas oleh anak-anak Brasil ke gawang Swiss melalui tendatangan jarak jauh dari luar kotak  penalti oleh Phillippe Coutinho pada menit ke 20 itu tak sebanding dengan glorifikasi-heroisme, kegemilangan, reputasi, dan nama besar yang pernah melekat pada  timnya yang pernah lima kali memenangi Piala Dunia.

Bila dicermati secara saksama dari sejarah sepak bola, terutama perhelatan di Piala Dunia, Swiss bukanlah tim raksasa yang patut ditakuti, bahkan belum pernah memenangi pertandingan event akbar tersebut.

Akan tetapi atraksi Brasil di lapangan hijau di negeri Tirai Besi, Rusia  ketika kontra dengan Swiss pada pertandingan awal antar-grup sangat meragukan semua pihak, entah para pendukung atau pun mantan pemain-pemain bintang dari negeri Samba, seperti Pele, Ronaldo, dan Cafu, yang pernah bersinar di era-1960-an – 1990-an. Apakah Brasil akan mendapat tiket mewakil tim besar, nama besarnya, masuk ke partai final 14 Juli nanti atau tidak?  Semua bergantung pada hasil dua pertandingan berikut: (22 Juni Brasil melawan Kosta Rika dan 28 Juni Brasil berhadapan dengan Serbia), yang berbasis pada slogan sepak bolanya, yakni “Orde E Progresso, Keteraturan dan Kemajuan.”

Jangan menganggap remeh-temah pergerakan dan ambisi Swiss untuk melaju ke partai final. Swiss, memang belum pernah menang di Piala Dunia, tetapi di ajang kualifikasi Piala Dunia kali ini, ia berhasil mengalahkan dua tim besar: Belanda, termasuk Italia yang telah pemenang Piala Dunia empat kali: 1934, 1938, 1982 dan 2006.

Skeptisisme yang melingkari khayalak bahkan para penggemar Tim Brasil di seluruh dunia ini muncul ketika dilangsungkan pertadingan di partai perdana melawan Swiss dengan skor 1-1. Dalam pertandingan, Brasil juga sedikit terjepit karena permainan hampir didominasi oleh tim Swiss, walaupun kerap Brasil yang mengusai bola sekaligus jago “menggoreng” atau “mengolah” bola bak orang menari tarian samba dari Amerika Latin. Permainan Brasil melawan Swiss terlihat cukup indah, menarik, profesional, terukur, teratur, sekaligus berwibawa.

Tim yang dipimpin bintang sepak bolanya, Nyemar ini, dengan gaya acak, serangan, dan terdangannya yang sangat luar biasa—membuat para fans, pecandu, dan pendukungnya makin menarik  perhatian dan terus melakukan pawai atau eforia  di tiap daerah (atau kotanya) masing-masing di seluruh dunia—, Manokwari, Papua Barat dan Jayapura, Papua, misalnya, semirip seperti menyambut kemenangan Brasil di partai final.

 Swiss—tampak pararel dengan Brasil dalam pertadingan—(juga tidak dilihat Brasil sebagai tim besar yang telah berulang kali memenangi trofi). Itulah realitas perwujudan di lapangan hijau antara Brasil mewakili benua Romawi di selatan Amerika dan Swiss di barat Eropa.

Brasil seperti terlempar kembali ke lembah kelam masa lalu yang tak terlupkan. Adalah negeri yang telahlimakali menyabettrofi di ajang Piala Dunia: 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002, itu pernah mengalami masa-masa tak menguntungkan. Misalnya, Brasil kalah di kandangnya sendiri pada Piala Dunia 2014(berada di peringkat empat setelah Jerman, Argentina, dan Belanda dari 32 negara yang mengikuti Piala Dunia).

Ibarat kata, hujan sehari menghapus panas setahun. Kemenangan Jerman pada Piala Dunia di Brasil periode lalu, tentu sebagian orang mengatakan itu adalah sesuatu yang berada di luar bayang-bayang manusia atau hal yang sulit dinalar.

Setidaknya seperti itunasib Brasil, sebagaimana pernah dianalogikanoleh mantan Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad kepada negara adikuasa Amerika Serikat(ketika itu ASdipimpin oleh Jos W Bush sebagai presiden ke-43 dari tahun 2001-2008). Bahwa sekalipun bintang, sekali pun berumah di atas langit, tapi pada akhirnya seperti “air mancur” yang suatu ketika akan terjatuh ke bawah.

Kejadian itu seiring dengan kata George Bernard Shaw(1856-1965), novelis sekaligus kritikus, esais, dan politikus yang lahir di Dublin, Irlandia,” Sejarah dimulai dengan lelucon dan diakhiri dengan tragedi.”

Memang, kekalahan Brasil dalam Piala Dunia 2014 di kandangngnya sendiri merupakan tragedi pilu dan sebuah kisah  memalukan yang tak pernah terlupakan dalam sejarah sepak bola Brasil. Padahal, Brasil telah habis-habisan berkorban demi terlaksananya Piala Dunia tersebut. Misalnya, Brasil harus menghabiskan 14 miliar dollar AS atau 165,2 triliun rupiah anggaran pendapatan belanja negara(APBN) tahun itu untuk menyukseskan Piala Dunia. Anggaran yang lebih besar dari anggaran yang digunakan untuk Piala Dunia 2018 di Rusia (hanya menghabiskan anggaran 9 miliar dollar AS) ini digunakan untuk berbagai persiapan Piala Dunia: mulai dari persiapan stadion hingga tempat pengiapan pemain dan para tamu dari berbagai negara.

Penggelontoran dana yang cukup besar itu, sempat membawa Brasil terjerembap dalam resisi atau krisis keuangan yang masif, yang berujung pada upaya kudeta Presiden Brasil  Dilma Rousseff. Memang Tim Brasil kalah Piala Dunia 2014 di kandangnya sendiri, tetapi mereka belum “kiamat”.

Philip Guedalla(1889-1944), seorang pop kultur asal inggris, mengatakan, “Sejarah berulang dengan sendirinya. Sejarawan saling mengulangi satu sama lain.” Atau Victor Hugo (1802-1885)), sastrawan dan penulis besar Perancis dalam ujar-ujaran yang sangat menarik, “Apakah itu sejarah? Pengulangan masa lalu di masa depan, reflkesi dari masa depan pada masa lalu.

Kejadian-kejadian selalu tidak dapat diperkirakan, betapa manusia tidak pandai untuk belajar dari pengalaman dan masa lalunya. Dan, memang masa lalu tak bisa diubah, tetapi masa lalu memiliki pengaruh yang sangat besar untuk menentukan baik atau buruknya masa depan.

Oleh karena itu, Marcus Tullius Cicero(106-43 SM), filsuf, orator, dan ahli hukum zaman Romawi, mengatakan, sejarah adalah guru kehidupan(historia magsitra vitae). Atau dalam kata-kata orang Perancis, historia docet, sejarah itu mengajarkan.

Maka, Brasil jangan sekali-kali melupakan sejarah. Perlu belajar sejarah kegemilangan sekaligus sejarah kekelaman masa lalunya di dunia sepak bola untuk menghapi Kosta Rika dan Serbia pada dua pertandingan berikut.

Itulah potret dunia sepak bola. Bola itu bulat dan selalu berputar dan kemenangan itu sendiri bak “bola liar” yang terus bergelinding ke mana-mana untuk mencari pemangsanya:  tim memburu “trofi”.

Kalau pun Brasil memenangi dua laga berikut dengan tim Kosta Rika dan Serbia, bukan berarti mulus dan ringan perjalanan Brasil ke depan untuk mewakili timnya di partai final. Di sana sedang ditunggu para raksasa yang memiliki peluang besar untuk masuk ke partai fiinal. Para raksasa itu sudah banyak malang-melintang dalam jagat sepak bola, bahkan pernah merebut Piala Dunia, seperti Spanyol (2010), Jerman yang telah empat kali menang Piala Dunia, termasuk Portugal, walaupun belum pernah menang Piala Dunia.

Dari hasil pertandingan Spanyol versus Portugal  (16/06), dengan skor nilai 3-3. Hal ini memperlihatkan bahwa pertarungan ke depan kian sengit dan membuat tim-tim lain pun harus menghitung ulang proses perjalanan selanjutnya, di partai final.  Lalu, Perancis yang memenangi Australia dengan skor 2-1 pada pertandingan babak pertama (16/06), juga jadi ancaman tersendiri.

Tentu, salah satu dari ketiganegara Eropa ini memiliki peluang besar mewakili timnya masuk ke partai final sekaligus merebut kemenangan Piala Dunia nanti. Karena, sejarah telah bercerita bahwa, Spanyol, Portugal, dan  Perancis, termasuk Italia (yang kini tidak masuk Piala Dunia 2018)—adalah negara yang mewariskan tradisi sepak bola pada bekas-bakas koloninya(daerah jajahannya), seperti negara-negara Amerika Latin, di antaranya, Brasil, Argentina, Paraguay, Uruguay, Kolombia, Peru, Chile,  Venezuela, Ekuador, Meksiko, Panama, Honduras, Kosta Rika, dan Kanada). Jadi, Eropa bagaikan urat nadi yang mengalirkan darah sepak bola ke berbagai bagian tubuh benua Romawi atau Amerika Latin.

Akan tetapi, publik dunia sepak bola, khususnya penggemar Brasil bergeming dan masih beroptimistis bahwa tim besutan Tite akan melewati semua jalan panjang sepak bola yang penuh penuh dengan tantangan dan rintangan, serta berkelok-kelok itu dengan baik dan berpeluang besar memperoleh tiket di pertandingan antar-group, untuk masuk sekaligusmemenangi pertandingan di babak final nanti. Untuk menjadi pemenang atau penyabet trofi di laga Piala Dunia, tentu butuh harga. Setidaknya, harga itu berupa perjuangan keras:  Brasil harus mengubah strategi dan siasat gempuran ke pihak lawan.

Terngiang Piala Dunia 2014 di Brasil, Portugal memiliki slogan yang cukup menarik,”…the past history, the future is victoty, masa lalu adalah sejarah, masa depan adalah kemenangan”.

Apa pun alasannya, keberanian untuk berbeda layak dirayakan. Tetapi, Tim Brasil masih teguh pada perjuangan dan pendirian, yakni keteratuan dan kemajuan. Dan, Brasil jangan tumbang ketika dikritik, jangan silau kalau menang, dan jangan terbang kalau dipuji.

Sekurang-kurangnya Brasil berada di posisi sama dengan Swiss, dengan skor nilai 1-1pada pertandingan  putaran pertama Piala Dunia 2018 di Rusia, merupakan lonceng peringatan untuk Brasil, sebagai tim besar dengan nama besar yang tak pernah terlekang oleh waktu dan zaman, tetapi selalu melekat dalam  sanubari setiap pecinta sepak bola Brasil di jagat ini. Brasil, segera mantapkan permainan karena lonceng peringatan telah berdentang: teng…!teng…! teng…! “A luta continua, teruslah berjuang.”

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

*Penulis adalah Ketua LPKIS, Peresidum Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat PMKRI Sanctus Thomas Aquinas periode 2013-2015. Dan, Wakil Ketua Bidang Advokasi, Hukum, dan HAM DPD KNPI Papua Barat periode 2016-2019.

Berikan Komentar Anda
TENTANG KAMI |REDAKSI | DISCAIMER| SITEMAP| PRIVACY| IKLAN | KODE ETIK| PENGADUAN |