BALIK ATAS
Mahasiswa dalam Panggung Sejarah
PENERBIT:PPWI MEDIA Redaksi PAPUALIVES.COM 5th November 2016
| 666 DIBACA
Thomas Ch. Syufi
Thomas Ch. Syufi (Foto:Dok Pribadi)

Oleh :Thomas Ch. Syufi*

Gerakan mahasiswa internasional memaikan peranan yang sangat berarti  dalam perubahan dunia, yakni  terwujudnya  keadilan, perdamaian, dan kebebasan bersama. Di mana, dalam lintasan sejarah, mahasiswa memainkan peranan dalam sejarah sosial Eropa, sejak berdirinya Universitas di Bologna, Paris, dan Oxford pada abad ke-12 dan abad ke-13.   Spirit perjuangan mahasiswa ini  tak lepas dari sebuah lagu  dalam Bahasa Latin yang diciptakan di abad  pertengahan, yang amat terkenal bahkan dikenal  hingga kini: “Gaudeamus igitur, juvenes  dum  sumus, marilah kita bergemibira, selagi kita muda.”

Abad ke-20   menjadi salah satu tonggak terpenting dalam sejarah pegerakan mahasiswa dunia. Di sana terjadi berbagai aksi-aksi menentang kediktatoran yang hampir menguasai separuh dunia, terutama di benua Eropa. Para aktivis mahasiswa dunia melakukan aksi-aksi demi mencarikan  kebenaran, menegakkan  keadilan, dan memenangkan nilai-nialai kemanusiaan universal.

Pada 17 November 1939,  serdadu-serdadu  Nazi, Jerman  di bawah pimpinan  Adolf Hitler menyerbu pertemuan mahasiswa di Praha, ibu kota Cekoslowakia (sebelum Negara Ceko dan Slowakia pecah). Akibatnya, sembilan orang pimpinan mahasiswa terbunuh dalam serbuan brutal itu. Setelah itu, Universitas Charles  pun ditutup.

Tragedi amat mengenaskan itu  mengundang perhatian banyak pihak. Ibarat  petir  yang cepat menyambar ke tiap   sanubari anak-anak muda, bukan saja di Cekoslowakia, tapi seluruh Eropa bahkan  dunia.  Hati mahasiswa memang terluka, tersayat bagaikan sembilu, merekabangkit menjadi pemberang.

Masih di Eropa, pada Maret  1968,  tentara Polandia telah bentrok  seru dengan tak kurang dari 10 ribu orang demonstran  di luar gedung universitas.  Meski situasi chaos  dengan kokoh para  demonstran  memekikan  kata-kata  tajam kepada pasukan polisi, “Gestapo! Gestapo!”

Gerakan itu cepat merebak ke mana-aman,  tidak hanya di ibu kota Warsawa, tapi juga ke beberapa kota  besar di negeri Terali Besi itu, seperti  Kraskow dan Poznan. Semua  kericuhan dan kesemrauwutan yang terjadi di negara-negara Eropa Timur  termasuk Polandia adalah dengan satu tumpuan besar  yakni segera ditiadakan rezim komunis, ditegakannya demokrasi, keadila, dan diberi ruang kebebasan berserikat  atau berpendapat yang menjadi bagian dari penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Sejarah mencatat, hari ini rezim   komunisme di negara-negara Eropa Timur hanya tinggal kenangan dalam sejarah.  Tentu, manusia adalah pencipta sejarah itu sendiri. Ia menggoreskan pengalaman hidupnya  yang  mempunyai  nilai dan makna bagi kebaikan bersama, entah riak sejarah itu besar atau kecil, biar  waktulah yang menyatakannya. “Manusia harus  terus  mencari   makna  hidup, mengukir  dan meniciptakan  sejarah  sekaligus  melakoninya,” kata   filsuf asal Jerman, Martin Heidegger

Dari rentetan pergerakan itu,  satu per satu negara-negarakomunis di Eropa Timur jatuh berguguran,  hingga  yang paling mengerikan adalah  hilangnya  Uni Soviet dari peta dunia. Atau meminjam kata Presiden Rusia Fladimir Putin, tragedI  tebesardi  abad ke-20 adalah bubarnya Uni Soviet pada  tahun 1991, dengan   presiden terakhir  Mikahil Gorbachiev.

Uni Soviet kini hilang tanpa jejak bak kita berjalan dalam arus  air. Uni Soviet telah  jadi balkanisasi karena salah  meraba demokrasi.

Selain itu—di Afrika , misalnya—perjuangan  rakyat Angola untuk merdeka dari jajahan Portugis. Di mana, gerakan yang   cukup bobot  dan  masif tidak hanya berkutat  di dalam negeri, Angola, tapi solidaritas  kemanusiaan itu mengalir dan menyeruk ke mana-mana, sejagat,  termasuk ke  negeri  Paman Sam, AS.  Pada Desember 1962,  puluhan  mahasiswa dunia menggelar demonstrasi damai di depan  Gedung PBB, New York, AS,  guna menyokong kemerdekaan  rakyat  Angola. Dan,  tiga belas tahun  kemudian  Angola memperoleh kemerdekaannya, 11  November  1975.

Mahasiswa memang memiliki posisi yang amat strategis dalam memainkan peran  untuk  mewujudkan perubahan. Mahasiswa merupakan kelompok penekan  (pressure group)  yang amat  efektif. Sikap  kritis, rasional, idelis, muda, semangat  lebih,  dan independen  menjadi nilai tertinggi yang  dimiliki  oleh  para  mahasiswa.

Rasa-rasa benar yang dikatakanDom Helder  Camara ( 1909-1999), uskup,aktivis kemanusiaan, pernyair perdamaian terkenal, dan cendikiawan Katolik abad ke-20 dari Amerika Latin, “Orang muda adalah orang kaya.”.

Memang mahasisiwa merupakan komunitas yang berbeda karena  mereka berada  di jenjang pendidikan tinggi dari rata-rata masyarakat. Karena itu,  tumpuan masa depan suatu bangsa ada di pundak generasi mudayang terdidik, sadar, dan terpimpin. Semangat perjuangan mahasiswa ini juga berangkat dari anekdot, “Pemuda adalah tulang punggung bangsa, pemudi adalah tulang punggung pemuda”. Dengan kenyataan itu, sebagai   mahasiswa  jangan terlelap dalam menara gading ilmu, tapi segera bangun dan berdiri seperti mercusuar di tengah lautan gelap, menerangi mereka yang miskin, tertindas, dan marjinal.

Mahasiswa, mengutip sosiolog Pierre Bourdieu,   perlu mencipatkan habitus baru, yaitu intelektual kolektif.Habitus ini menjaga dan membela otonominya dari keterlibatan pada praktik politik praktis yang akan melunturkan jubah emas kaum intelektual  militan-populis.  Manunggal dengan umat, berjuang bersama rakyat, harus  menjadi basis  perjuangan mahasiswa.

Kini, makin sulit menemukan kaum tua yang peduli dengan negeri ini. Maka,  satu-satunya mahasiswa harus berani berkorban, berani menjadi lilin, meski habis dibakar demi menerangi  kaum minoritas yang   terbelenggu dengan rantai kemiskinan, ketidakadilan, dan marjinalisasi.

Masiswamemiliki kemampuan lebih  untuk bisa memilah mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan  salah.Mahasiswa adalah makhluk kritis yang cepat menyikapi berbagai fenomena sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, entah di tingkat lokal, nasional, regional, dan global.

Menyandang   nama sebagai orang muda menjadi sesuatu yang patut dibanggakan. Karena, sebagai orang muda tentu mereka  masih punya energi yang besar, semangat  juang yang tinggi, waktu yang tidak sedikit untuk melakukan apa saja, terutama mengabdikan diri untuk kebaikan bersama, bonum commune. Selain itu, mahasiswa juga dikatakan sebagai spes patriae, harapan bangsa, calon-calon pemimpin masa akan datang.

Atas segala kemampuan dan kelebihan yang dimiliki mahasiswa (orang muda) itu, antropolog IndonesiaMattulata pernah berpesan, orang muda harus cepat bangun pagi sebelum orang lain melihat terang. Artinya,  mahasiswa sebagai orang muda harus cepat, tangkas untuk merespon perubahan yang terjadi. Dengan berani mengarungi samudra bangsa dan rakyat yang penuh   tantangan dan  gugusan persoalan, untuk segera mencari jalan keluarnya demi mewujudkan kebaikan bersama.Sebagai kaum cendikia  atau  intelektual yang kristis dan idependen, tentu  tidak  duduk diam. Mahasiswa harus punya  nurani,  gelisah, dan aktif  dalam melihat persoalan sosial, terutama mengawal dan memenuhi panggilan akan  amanat penderitaan rakyat (Ampera). Karena dengan sikap independen, makin jelas  keberpihakan mahasiswa kepada orang kecil, tertindas, dan kaum papa menjadi hasrat  dan  tumpuan banyak orang. Tentu  dalam jiwa mereka, berkobar  keadilan dan kemanusiaan.

Tidak ada kegembiraan yang lebih baik di masa muda, kecuali mempertaruhkan segela-galanya  untuk memenangkan kemanusiaan sebagai makna kehidupan yang  utama. Mahasiswa adalah mercusuar di lautan gelap, bukan menara gading, bukan juga mazaik dalam sebuah bangunan mewah, apalagi hiasan indah yang mengintari ukurian Monalisa yang terindah di Italia.

Tidak bisa dimungkiri, berbagai persoalan setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, ataupun tahun pasti saja datang  menyapa kita. Di situlah semangat heroisme  mahasiswa diiuji, apakah tetap menjadi mahasiswa pejuang yang bisa berani meghadapi berbagai persoalan itu dengan  teguh  ataukah berubah haluan menjadi pengecut? Atau lebih parahlagi  bermain di air keruh untuk mengeruk berbagai keuntungan di tengah situasi kusut dan  tidak menguntungkan  itu? Inilah ujian terebar bagi anak-anak muda zaman mutakhir.

Dalam tataran nasional, Indonesia,  mahasiswa telah banyak menorehkan sejarah emas, penting, dalam perubahan di segala  bidang. Misalnya, pembubaran Partai Komunis Indonesia tahun 1960-an dan berakhirnya Orde Baru (21  Mei  1998), merupakan buah dari  perjuangan aktivis mahasiswa. Mereka  mendirikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia  (KAMI) sebagai wadah pemersatu semua elemen mahasiswa Indonesia untuk menyatukan cita-cita, komitmen, dan gerakan bersama.

KAMI yang diketuai oleh Cosmas Batubara (Ketua PMKRI Pusat )  waktu itu, hari-hari melakukan aksi demonstrasi dengan tigapokok tuntutan atau yang dikenal dengan Tritura (Tiga Tunturan Rakyat): “Bubarkan PKI,  turunkan harga barang, dan reshuffle (pergantian) kabinet.

Pada tanggal 15 Januari 1984, terjadi sebuah gejolak mahasiswa yang cukup masif sekaligus destruktif yang  dikenang  dan   dikenal denganperistiwa Malari (Malapetak 15 Januari).  Demonstrasi besar yang membuat Jakarta seperti lautan api  itu,  dengan tujuanmahasiswa menolak kunjungan Perdana Menteri Jepang  Kakuei  Tanaka ke  Indonesia.  Mahasiswa Indonesia melihat Tanaka sebagai simbol modal asing, apalagi perusahaan-perusahaan  termasuk produk-produk Jepang  mendominasi pasar domestik, Indonesia, waktu itu.

Tecatat sedikitnya 11 orang meninggal, 3 ratus luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak atau dibakar, 144 bangunan rusak berat dan 160  kilo gram  emas hilang dari sejumlah  toko-toko perhiasan. Peristiawa yang terjadi pada rezim Orde Baru yang dikomandani Presiden Soeharto  itu  tak pernah diungkap terang-benderang. Semunya jadi misteri hingga setiap buku-buku Biografi Soeharto pun tak sedikit pun menyinggung (menyibak) soal peristiwa Malari 1974, semuanya  terlewatkan begitu saja.

Akhirnya, Harimen  Siregar,   Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) atau kini dikenal Badan Eksektuf Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia diseret ke pengadilan  dengan tuduhan melakukan tindakan subversi (merongrong) kewibawaan negara. Hariman dianggap tokoh kunci yang harus bertanggung jawab atas semua tragedi  Malari. Hariman akhirnya divonis enam tahun penjara setelah empat bulan menjalani sidang.

Setelah keluar dari penjara, Hariman tetap memilih di jalan kiri, tetap menjadi opoisi  di  luar koridor   pemerintahan  hingga kini. Ia telah menjadi simbol bagi pergerakan mahasiswa secara nasional yang memiliki komitmen dan konsistensi  dalam sejarah   pergerakan mahasiswa Indonesia. Menurut cerita, Hariman pernah diajak masuk dalam lingkaran kekuasaan (inner circle)  atau  struktur negara menjadi anggota  kabinet  ketika kejatuhan Orde Baru 1998, tetapi ia menolak. Sampai saat ini, Hariman  hanya ikut mengelola negara dari luar sistem.

Itulah dua  tonggak penting sejarah mahasiswa di negeri ini. Lagi-lagi, kejatuhan  Orde Baru  dan lahirnya  reformasi Mei 1998,   juga bagian yang  tak terpisahkan dari gerakan mahasiswa Indonesia. Mahasiswa  memang benar-benarmenjadi ikon perubahan dunia. Merekatak peduli hidup atau mati, mereka hanya cinta akan perubahan, entah itu perubahan total (revolusi) atau perubahan gradual.

Sampai-sampaipada tanggal  12 Mei 1998  empat mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta,  harus mengucurkan darah dan wafat demi menebusbuah Reformasi. Mereka yang wafat  demi reformasi, darahnya belum mongering,  terus menetes , dan menyebar  di   berbagai  selokan, parit   hingga   ke  laut. Dan  mengalir ke berbagai pelosok negeri untuk menerikan keadilan dan kebenaran.

Benar  yang ditulis  seorang  filsuf  Yunani kuno dan  dikutip oleh   Soe Hok-Gie (1942-1969), alumni Kolese Kanisius Jakarta  tahun 1962, juga  salah satu eksponen mahasiswa yang ikut menumbangkan Orde Lama: “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasa memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

Namun dari semua perjuangan mahasiswa ini belum mendapat penghargaan yang layak dan pantas. Tidak sedikit orang-orang yang tidak sedikit pun mencucurkan keringat, air mata, dan darah untuk melahirkan  reformasi yang ikut menikmati kekuasaan. Mereka menjadi pahlawan  kesiangan reformasi.

Rezim ganti rezim tetapi karakter lama masih membalut bangsa ini. Korupsi, kolusi, nepotisme terus  melaju,  tumbuh subur di mana-mana. Padahal, pemberantasan KKN menjadi salah satu agenda utama  reformasi.  Tujuan reformasi gagal karena gerbong demokrasi yang dilahirkan oleh reformasi itu sendiri  tengah disusupi penumpang gelap. Tidak tahu batang hidungpara penumpang gelap itu, secara infiltratif  mereka masuk menguasai berbagai sendi-sendi kehidupan berbangsa dan benegara.

Mereka masuk mengusai struktur kekuasaan di era  reformasi tanpa bekal moralitas dan komitmen yang  kokoh.Hanya nafsu kuasa dan harta yang membara dalam jiwa dan raga mereka. Maka tujuan  luhur  reformasi tak pernah  berjalan mulus, tersendat-sendat, bahkan terancam gagal. Napas bangsa ini dicengkeram  dan  digerogoti oleh penguasa-penguasa hipokrit.

Hari-hari politik kita disibukkan dengan kegaduhan. Para politisi   kita di  DPR, misalnya,  sibuk tengkar sana-sini  demi  rebut  kuasa dan harta, menggarong  uang rakyat. Perebutan kursi di parlemen, komisaris BUMN,  saling gugat, rebutan kantor merupakan adegan-adegan tak sedap yang ditontonkan oleh para wakil rakyat  kepada rakyat di negeri ini.

Mereka seharusnya tahu diri dan malu sebagai utusan rakyat. Mereka diutusuntuk mengemban amanat penderitaan rakyat, berjuanguntuk rakyat miskin, tertindas, putus harapan, dan tak beruntung. Para wakil rakyatharus dengan arif merefleksikan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentangtujuan hidup manusia  dari Augustinus (354-430),  filsuf  dan  pujangga gereja, “Siapa  saya, ke mana saya pergi, dan saya buat apa?”

Kehampaan berlogika dan absenya tanggung jawab politik dalam penyelenggaran kekuasaan di negeri ini terjadi karena  parapolitisi dan pemimpin negara minus moral, kurus  komitmen, dangkal perasaan kemanusiaan. Mereka terlalu  asyik  berbulan madu di atas matriks kekuasaan sampai  melupakan para pemberi amanat: rakyat.Termasuk melupakan orang-orang  muda  yang telah mempertaruhkan jiwa dan raganya  demi memenangkan demokrasi, kebebasan yang menjadi nilai intrinsik  kemanusiaan universal.

Akan tetapi,  perjalanan kita belum  berakhir. Karena itu masih ada jalan perbaikan antarsesama anak bangsa, baik yang berada di eksekutif, legislatif, dan  yudikatif, serta  rakyat dan sekutunya, mahasiswa. Selain itu,   tak ada jalan yang paling indah dan menyenangkan di dunia ini, selain  jalan   cinta, jalan pengampunan, jalanpertobatan, sekaligus jalan menuju kebebasan.

Setelah menyusuri  jalan naik turun, berkelok-kelok,  kita akan segera tiba di stasiun terakhir, yaitu stasiunkebaikan bersama.

Mulianya prestasi mahasiswa dalam sejarah  perubahan  dunia  sangatlah luar biasa. Mereka seperti sepasang pengembara yang sedang melakukan perjalanan   jauh  dengan melintas padang pasir yang luas. Sepasang mata memandang, hanya tampak garis pasir yang terbentang. Dan, tapak-tapak kaki yang yang ada di belakang mereka, membentuk jejak-jejak yang tak terputus. Susunannya meliuk-liuk, tampak seperti “garis kurva” yang berujung di setiap langkah yang mereka lalui. Sesekali debu pasir menerpa tubuh, dan membuat mereka berjalan merunduk agar terhindar dari angin yang membawa debu itu.

Karena itu, apa pun kecil atau besar  pemberian  sesama, terutama pemberian mahasiswa sebagai  kaum muda untuk perubahan bangsa dan negara ini  tak bisa dinafikan. Semunya adalah pemberian yang gratis para pejuang muda untuk perubahan bersama, ke masa depan yang menjanjikan, lebih baik. Walaupun untuk merebut perubahan itu tidak gratis, butuh ongkos, butuh hargayang harus dibayar, bahkan  taruhannya nyawa.

 Untukitu, saat kita mendapatkan kebahagiaan, pahatlah kemuliaan  itu di atas batu  agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia.

Torehlah kenangan manis, kenangan kesenangan itu dalam kerasnya batu, agar tidak ada sesuatu yang  dapat menghapusnya. Biarkan  catatan kebahagiaan itu tetap ada, biarkan semuanya tersimpan di sana,  tersipan di  bingkai hati  sejarah umat manusia.

Setelah   menyusuri    jalan   naik turun,  berkelok-kelok,    kita   akan   segera   tiba   di  stasiun terakhir,  yang disebut  stasiun  kebaikan  bersama, bonum commune.  Atau  terwujudnya keadilan, perdamaian, cinta kasih,  dan kesejahteraan sosial,  yang  menjadi awal  dan  akhir tujuan hidup manusia.“Vivat et republica, crascat una veritas, hidup negaraku, semoga kebenaran dan kejujuran tercapai”,  demikian  bunyi  kalimat  penutup  dari  lagu “Gaudemus igitur, juvenes  dum sumus”. Terima  kasih  orang  muda! Semoga.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

*). Penulis  adalah  Ketua  Lembaga  Pusat  Kajian  Isu  Strategis  (LPKIS)  Pengurus  Pusat PMKRI  Sanctus  Thomas  Aquinas,  periode  2013-2015.

 

Berikan Komentar Anda