BALIK ATAS
Mahasiswa Papua Jogja, Aksi 1000 Lilin untuk Deiyai Berdarah 1 Agustus 2017
PEWARTA: Redaksi PAPUALIVES.COM 7th Agustus 2017
| 797 DIBACA
Mahasiswa Papua Jogja, Aksi 1000 Lilin untuk Deiyai Berdarah 1 Agustus 2017 (Foto:PressRilis/PapuaLives)

Yogyakarta,Mahasiswa Papua dan Pro Demokrasi di Yogyakarta aksi nyalakan 1000 lilin, di Asrama mahasiswa Papua Kamasan II untuk menyikapi penembakan brutal yang terjadi di Oneibo, pada 1 Agustus 2017 dengan  menewasakan 17 orang dan yang lain masih kritis. (7/8/2017)Mahsiswa Papua Yogyakarta nyalakan 1000 lilin merupakan bentuk perlawanan penembakan masal yang terjadi di Oneibo dan juga secara keras melawan Militerisme, Kapitalisme dan Kolonialisme yang berkuasa di tanah Papua.

Tipe penembakan brutal yang terjadi di Oneibo adalah kekerasan militer murni yang di lakukan gabungan aparat keamanan di Deiyai. Kekerasan militer ini, target dan tindakan tidak manusiawi, dan tidak melindungi dan melayani masyarakat Indonesia khusunya di Deiyai.

Mahasiswa Papua Yogyakarta, menilai, penembakan ini sebuah usaha militer yang hanya untuk memusnahkan manusia ras Melanesia, serta bentuk kekerasan yang sangat melanggar HAM dan untuk meloloskan bisnis PT Dewa Kresna di Kabupaten Deiyai.

Ketua Ikatan Mahasiswa Deiyai, Fabby Pigome mengatakan, semenjak ini kami melihat di Papua berbagai pelanggaran HAM yang di Buat TNI/POLRI, Kapitalis dan pemerintah Kolonial Indonesia.  1 Agustus 2017 adalah pertumpahan darah bagi Masyarakat sipil di Deiyai (Deiyai Berdarah) sehingga 17 orang kena peluruh panas oleh BRIMOB di Oneibo Deiyai Papua.

Lanjut Pigome, “Tindakan ini sama sistem yang terus berputar dari sebelum-sebelumnya sebab sebelumnya pun terjadi seperti penembakan 1 pelajar (2004), 3 Pelajar di Waghete (2009). Dan juga terjadi  Paniai Berdarah (2014), Timika Perang antar suku Kei dan Papua (2015), Dogiyai Diskriminasi (2016) Nabire di-Bius GOR (2013) Biak berdarah dan lainya.

Mewakili Mahasiswa Deiyai Jogja, Fabby Pigome “Mengharapkan bahwa masyarakat tidak boleh untuk suap dan menerima uang darah yang di kasih dari pihak PT Dewa maupun Polda Papua.

Dalam aksi seribu lilin itu, mahasiswa Papua dan Pro Demokrasi mengutuk keras kekerasan militer Indonesia, Karen hanya meloloskan bisnis PT Dewa dengan menyelewengkan masyarakat adat yang tinggal di sekitarnya.”

Dalam Aksi 1000 Lilin salah satu mahasiswa Papua Kuliah Jurusan Arsitek dan Kontruksi Echon menyatakan bahwa “Kekerasan militer bentuk pemenbakan di area Proyek dari sebuah perusahan adalah sebuah pelanggaran berat, sebab sebenarnya hanya untuk menggamankan antar warga dan perusahan.

Lanjut Echon, Secara teknik arsitektur dan kontruksi pembangunan juga sudah di atur dalam peraturan. Keputusan Menteri Kimpraswil No. 369/KPTS/M/2001 Pedoman PemberianIzin Usaha Jasa Konstruksi Nasional; Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi; Peraturan Pemerintah No 30 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Konstruksi.

Namukigiba Douw menambahkan bahwa, PT Dewa tidak hanya kali ini memakan nyawa manusia di Meuwodide. PT Dewa adalah dalang pelanggaran dan pembunuhan di Meuwodide karena selama ini telah tercatat bahwa banyak terjadi tabrak hewan Ternak masyarakat dan manusia pula.

Lanjut Namukigiba, PT Dewa dan BRIMOB punya prinsip yang ampuh dalam mengahbisi orang Papua di Meuwodide. Prinsip mereka begini “nyawa manusia kita bisa bayar dengan Uang”. Sehingga kami mahasiswa bertegguh untuk hapuskan dan Usir PT Dewa dari Meuwodide (Deiyai).

Dengan itu kami, Mahasiswa Papua dan Pro Demokrasi di Yogyakarta menyatakan dengan tegas bahwa:

  1. Hapuskan dan cabut izin PT Dewa, dari Meuwodide (Paniai, Deiyai, Dogiyai, Nabire dan Intan Jaya).
  2. Pulangkan Danton Brimob Paniai yang berkuasa dan melakukan penembakan di Paniai, Deiyai dan Dogiyai.
  3. Pemerintah daerah segera mendesak Lembaga Bantuan Hukum Internasional dan untuk mengadili dan proses secara hokum yang berlaku.
  4. Tarik BRIMOB (TNI/POLRI) dari Deiyai dan seluruh Tanah Papua

                                                           Yogyakarta, 7 Agustus 2017

Persrilis/Red

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM