BALIK ATAS
Mandi Hujan untuk Mengais Nafkah
PENERBIT:PPWI MEDIA Redaksi PAPUALIVES.COM 21st Juli 2017
| 439 DIBACA

Oleh :  Thomas Ch. Syufi*

Hampir sepanjang pekan ini, Manokwari diselimuti hijan lebat hingga timbul banjir masif  yang cukup menggangu aktivitas warga, terutama  mengancam  kegiatan   dagang para pedagang  di Pasar Sanggeng, Manokwari, Papua Barat.  Karena  kondisi pasar yang kurang memadai hingga  sering terendam banjir.Di pasar tersebut  tampak sejumlah ibu-ibu yang sibuk lari sana- sini  untuk mengatur atau mengisi barang dagangannya  saat hujan  deras mengguyur, Kemarin, Kamis (20/7/), sekitar pukul 11.00 WIT.

Mengamankan barang dagangan mereka supaya tidak terkena basah atau terseret  banjir,  hingga bisa  dijual pada esok harinya.

Hal tersebut diakibatkan dengan kondisi Pasar Sanggeng yang kini makin  parah kondisinya,  sempit, becek, dan kumuh.

Bahkan, sebagian pedagang juga berjualan di sepanjang jalan masuk  pasar  dengan beralaskan daun pisang muda, karton atau karun bekas, juga menggunakan payung sebagai penangkal panas dan hujan.  Tatkala juga terjadi keributan antarpara pedagang  karena saling menguasai lapak. Padahal, Pasar Sanggeng merupakan pasar tertua dan berada di jantung atau posisi strategis di kota Manokwari, yang setiap hari ramai dengan para pedagang, juga konsumen.

Pedagang  yang  tangguh. Sebagian dari mereka tak bisa langsung pulang  ke rumah ketika diguyur hujan bila jualannya belum laku.”Sekalipun hujan deras, basa  kuyup  kami  tahan (tetap jualan) karena mau pulang makan apa di rumah bersama keluarga, kata Mama Muabuay(53),  pedagang pinang, yang dijumpai beberapa bulan lalu.

Kondisi jalan pun rusak. Tak  kelihatan ada aspal  di sepanjang ruas jalan masuk ke pasar tersebut. Karena  aspalnya sudah  keropos, mengelupas hingga banyak  koral dan bongkahan batuan sedang  yang  berserakan ke mana-mana, di  badan dan  tepi jalan.

Terdapat sekitar  10  lubang di badan jalan dan  sangat berbahaya  bagi pejalan kaki, bisa terperosok ke lubang bila tergenang air.

Jalannya pun sangat sempit, luasnya sekitar 6 x 50 meter. Di semua sisi jalan bahkan di tengah jalan telah diisi dengan aktivitas dagang. Banyak  masyarakat yan membuka lapaknya di tempat tersebut hingga sering para pembeli atau konsumen pun saling bertabrakan.

Sering untuk mencapai jarak  50 meter butuh waktu tempuh  sekitar  30 menit dengan jalan kaki, kerena harus mengantre, apalagi saling melangkali memang agak sulit.

Itulah  kondisi riil yang dihadapi masyarakat Manokwari yang berjualan di Pasar Sanggeng. Memang, ada bangunan baru Pasar Sanggeng di bagian timur, hanya belum bisa digunakan dan kapasitanya  agak kecil hingga sulit untuk menampung semua pedagang yang mencapai ribuah lebih di pasar tersebut.

Hujan atau banjir bukanlah alasan yang  menghambat aktivitas  para pedagang  yang berjualan. Para pedagang di  Pasar  Sanggeng berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Mereka, antara lain, Papua, Makassar, Maluku, NTT, dan Jawa.

Mereka yang pada umunya hanya menggantungkan hidup hanya pada usaha kecil dan menengah,  seperti jual pakain, perkakas dapur, sayur-mayur, buah pinang, ubi-ubian,  sisir rambut  bambu,  dan  noken Papua.

Bukan saja Pasar Sanggeng yang mengalami kondisi parah, terendam banjir,  tapi Pasar Wosi, termasuk pasar malam Borobudur  pun mengalami hal yang sama.

 Jalan raya

Di sejumlah badan atau ruas jalan protokoler pun mengalami kondisi yang sama,  terendam banjir. Perempatan lampu merah Wosi, Jalan Pasir,  juga terendam banjir  hingga mencapai ketinggian sekitar 30-60 cm. Banjir tersebut membuat banyak  kendaraan roda dua atau empat pun terjebak.

Kebanyakan pengendara tidak bisa melintas di  jalan tersebut, tapi mencari jalan alternatif, yaitu  melewati jalan Wosi dalam hingga keluar di Jalan Pahlawan. Sebagian  pengendara  memilih melewati jalan  Pasar Wosi hingga  keluar di Jalan Pasir hingga ke  Sanggeng.

Kondisi ini terjadi akibat dari sampah, botol air mineral atau  industri rumah tangga, misalnya,  yang begitu marak  mengampung atau berserakan di sungai, kali, atau   berbagai parit dan selokan hingga meyumbat  sejumlah rute aliran air. Juga, kondisi jalan yang sempit dan rusak pun menjadi  salah satu  penyebab banjir.

Tampak wajah kota yang baru saja  merayakan usianya 100 lebih tahun ini belum mengalami perubahan yang signifikan, baik bupati sekarang maupun para bupati  sebelumnya  yang  pernah memimpin Manokwari.

Belum ada itikad  baik (goodwill) dari para pemimpin kabupaten ini  untuk merawat, memantapkan,  atau  membangun Manokwari. Lalu, apa gunanya kita berpemerintahan, apa gunanya kita bekabupaten, apa gunanya kita bernegara, kalau tujuan-tujuannya belum dipenuhi?

Hanya mengingatkan kita, tahun ini, 2017,  Provinsi Papua Barat menerima dana Otonomi Khusus Papua sebesar Rp 2, 4 triliun rupiah!

Namun, uang bukanlah indikator utama  untuk  menolong sesama yang lain, terutama mereka yang memang benar-benar butuh pertolongan,  tapi  yang lebih  penting adalah sikap simpati dan empati dengan  dilandasi dengan perasaan  kemanusiaan yang dalam dan  utuh.

Karena itu,  Voltaire (1694-1778), filsuf dan penulis besar Perancis  Era Pencerahan pernah bilang, “ Tak a da orang besar yang tidak menyumbangkan kebesaran pengabdiannya kepada kemanusiaan”. Semoga.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

*). Penulis adalah Wakil Ketua Bidang Advokasi, Hukum, dan HAM DPD KNPI Papua Barat, juga mantan Pengurus Pusat   PMKRI  Sanctus Thomas Aquinas, periode 2013-2015.

Baca Juga Artikel Lainnya : Jabatan Itu Amanah

                                                         Politik dan Pemilu Uang

                                                         Jokowi “effect)

Berikan Komentar Anda