BALIK ATAS
Masa Depan Perguruan Tinggi Indonesia Berkaca Pada Perguruan Tinggi di Papua
PENERBIT:PPWI MEDIA Redaksi PAPUALIVES.COM 19th Agustus 2014
| 864 DIBACA
Sunber: Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) (Foto:Ist)

“MASA DEPAN PERGURUAN TINGGI INDONESIA BERKACA PADA PERGURUAN TINGGI  DI PAPUA”

Oleh : Roberth Yewen
Tulisan ini bertujuan untuk merespon dinamika Perguruan Tinggi sebagai lembaga  pendidikan tertinggi yang ada di Tanah Papua, sekaligus melihat keberadaaan kurikulum, pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat.

Universitas adalah kekuatan moral, tempat produksi dan reproduksi ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh para ilmuwan. Universitas adalah “rumah”, yang akan sangat bergantung pada perkembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Oleh karena itu, sejak kemerdekaan bangsa Indonesia para founding fathers telah memikirkan tentang masa depan pendidikan di Indonesia. Dalam kongres pendidikan  4-6 Agustus 1947 di Surakarta dihadiri di antaranya oleh Ki Hajar Dewantara, Prof Soepomo, Prof Soenario Kolopaking dan Presiden Soekarno, telah di bahas soal otonomi. Soepomo menginginkan agar fungsi universitas di Indonesia sejajar dengan universitas di Eropa dan Amerika, yaitu sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan, tempat dilahirkannya calon pemimpin bangsa. Untuk itu universitas harus menjadi badan hukum yang otonom. Soernario Kolopaking juga menegaskan bahwa Negara harus menyelenggarakan universitas, yang berbentuk badan hukum dan mempunyai kemerdekaan seluas-luasnya dalam mengabdi ilmu pengetahuan.
    Historis berdirinya Perguruan Tinggi di Tanah Papua adalah sejak tahun 1962 di mana dibukalah Universitas Cenderawasih sebagai lembaga perguruan tinggi pertama di tanah Papua. Berdirinya universitas cenderawasih dengan harapan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin Papua di masa depan.
    Setelah Universits Cenderawasih, maka lahirlah juga beberapa universitas negeri dan swasta serta sekolah tinggi yang tersebar di berbagai tempat di tanah papua. Universitas dan sekolah tinggi yang dimaksud adalah UNIPA, USTJ, UOGP, UN. YAPPIS, STIKOM, STIE, UNAMI, POLTEKES, UN. VICTORI  dan beberapa lainnya.
    Semua perguruan tinggi yang ada di tanah papua semata-mata hadir sebagai lembaga yang mampu menjadi mesin produksi dan reproduksi ilmu pengetahuan, sehingga kelak nanti melahirkan pemimpin-pemimpin papua yang dapat membangun papua dan masyarakat papua secara umum.
    Kehadiran perguruan tinggi di tanah papua  secara kolektif memberikan bukti riil, karena berhasil mengeluarkan para sarjana dengan kelulusan yang memuaskan, selain itu sudah banyak jebolan perguruan tinggi papua yang berhasil menjadi pucuk pimpinan diberbagai pemerintahan, maupun perusahaan swasta di tanah ini.
Melihat Kembali Otonomi Universitas
Apa arti otonomi? Dalam Magna Charta Universitatum, otonomi adalah keseluruhan kemapuan institusi untuk mencapai misinya berdasarkan pilihannya sendiri. Dalam RUU PT Pasal 74, otonomi diartikan sebagai: (a) universitas mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelengaraan pendidikan tinggi, penelitian ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat; (b) otonomi dilaksanakan sesuai dengan dasar dan tujuan serta kemampuan perguruan tinggi; (c) dasar dan tujuan serta kemampuan tersebut dapat di nilai oleh Menteri; (d) otonomi pengolaan Perguruan Tinggi diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Dari tinjauan konsepnya dapat diartikan bahwa Otonomi merupakan bagian terpenting dalam memberikan keluasan seluas-luasnya kepada Universitas di negeri ini, khususnya di Tanah Papua untuk mengatur rumah tangganya masing-masing tanpa harus ada intervensi dari pihak pemerintah dalam hal ini kementerian yang bersangkutan.
Seperti halnya yang dikatakan oleh Prof. Dr. Mr. R.  Soepomo, Presiden Kedua, Universiteit Indonesia, (1951-1954) dan sekaligus  mantan Menteri Pendidikan sekitar tahun 1960-an mengatakan bahwa karena fungsi dan sifatnya universitas tidak diperkenankan menjadi jawatan di bawah adminitrasi kementerian pendidikan, karena akan membinasakan semangat akademik dan menghalangi perkembangan kehidupan universitas.
 Pemerintah harus memberi otonomi sepenuhnya kepada universitas. Beliau berharap bahwa kejayaan Sriwijaya yang pernah menjadi pusat politik dan pengetahuan di Asia akan kembali terjadi pada universitas di Indonesia di masa depan.  Mengadopsi peryataan Soepomo yang mengatakan “mudah-mudahan datanglah pula masanya, bahwa Universitet Indonesia jadi pusat di bumi yang memancarkan sinar pengahalau kegelapan dan membawa cahaya dalam hati-hati dan pikiran-pikiran manusia bagi keselamatan dan kesejahteraan pergaulan hidup seluruh dunia.
Semoga peryataan seorang pendiri bangsa, sekaligus pemikir masa depan pendidikan di negeri ini terbawa hingga ke ujung bumi matahari terbit (Papua) bahwa kelaknya nanti universitas di tanah papua dapat menjadi universitas yang di kemudian hari menghasilkan para generasi muda yang berkualitas, bermoral, dan berdedikasi  tinggi serta mampu mengsemboyangkan Tri Dharma perguruan tinggi dalam kehidupan bermasyarakat yang ada di tanah papua tercinta ini.
Masa Depan Perguruan Tinggi Di Papua
    Dalam bukunya The Great American University (New York, 2009), J.R Cole mengemukakan delapan faktor utama dalam menompang kesuksesan perguruan tinggi di Amerika Serikat, yakni (1) kombinasi pengajaran dan penelitian; (2) otonomi dan kebebasan mimbar; (3) meritokrasi dan sistem kepegawaian (tenure system); (4) system peer review; (5) kompetisi; (6) influx bakat dari seluruh dunia; (7) philantrophy, dan (8) pendanaan pemerintah. Menarik untuk di analisis delapan dimensi ini dalam melihat realita kekinian yang terjadi dalam lembaga perguruan tinggi di papua.
    Hampir lebih dari 50-an perguruan tinggi di papua sebagian besarnya lebih terfokus pada pengajaran dan mengabaikan penelitian. Bukan saja itu otonomi dan kebebasan mimbar di berbagai universitas dan sekolah tinggi di papua terkesan di tutup krangnya sehingga membuat dosen dan mahasiswa sulit untuk mengepresikan dirinya sebagai intelektual yang bebas. Sitem kepegawaian dan birokrasi terkesan lambat dan berbelit-belit.  Demikian halnya juga dengan perguruan tinggi di papua yang  masih terkesan bersantai dan berpangku tangan dan tidak mempedulikan tentang persaingan  kompotisi dalam dunia akdemik antara para dosen dan mahasiswa di perguruan tinggi lainnya yang ada di Indonesia. Dan yang terakhir adalah pendanaan dari pemerintah daerah di papua secara kolektif belum membaik atau masih terkesan “sepenuh hati” untuk melihatnya.
     Mengadopsi peryataan Barnabas Suebu, SH yang juga  mantan  Gubernur Provinsi  Papua “raksasa yang sedang tidur”, menurut hemat saya perguruan tinggi di papua itu memang adalah raksasa yang sedang tidur, maka saatnya raksasa itu harus bangun dari tidurnya yang panjang untuk membuktikan kepada penguruan tinggi yang ada di negeri ini, bahwa perguruan tinggi papua harus menjadi tolak ukur pusat produksi dan reproduksi ilmu pengetahuan untuk melahirkan para ilmuwan-ilmuwan muda sesuai dengan besik dan konteks  ilmunya masing-masing.
    Selain itu perguruan tinggi di papua harus meningkatkan fungsi otonomi dengan selalu menjiwai nilai-nilai akuntabilitas, transparans, dan nirlaba dalam kehidupan berakademik, sebab dikuatirkan bahwa kalau nilai-nilai ini tidak di junjung tinggi dalam proses implementasinya jangan-jangan  para pimpinan-pimpinan  dan dosen-dosen universitas dan sekolah tinggi  di papua menjadikan universitas sebagai tempat “proyek” atau mencari “piring nasi”, tidak melihatnya sebagai arena profesi yang bersifat luhur untuk mewujudkan cita-cita pencerdasan bangsa khususnya kecerdasan bagi masa depan generasi muda papua.
    Demikian juga universitas di papua harus mengedepankan semboyan Tri Dharma perguruan tinggi (pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat) sebagai “panglima”  untuk terus melakukan pergerakan-pergerakan yang mengarah para pengembangan intelektual papua yang berkualitas, dengan menyiapkan berbagai fasilitas yang tentunya mendukung proses kemajuan dari para generasi muda papua dan juga universitas dan sekolah tinggi  di papua agar dapat bersaing dengan berbagai universitas  dam sekolah tinggi yang ada di negeri ini, bahkan kalau bisa dengan universitas yang ada di dunia ini. Bila hal ini tidak dilakukan sekarang maka sejarah akan mencatat utang kita kepada gerasi muda papua yang kehilangan kesempatan menjadi calon pemimpin bangsa, dan manusia papua yang berkualitas dan berkarakter, sebagaimana dicita-citakan oleh pendiri negeri kita. “Matahari itu selalu terbit dari timur ke barat dan juga akan terbenam di timur. Papua adalah pemberi terbitnya matahari, maka papua harus menjadi tolak ukur untuk pembangunan pendidikan perguruan tinggi yang bercahaya dan bersinar terang untuk dipelajari oleh perguruan-perguruan tinggi lainnya yang ada di negeri ini.
    Oleh karenanya, untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi di tanah papua perlu perhatian serius  dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi Papua dan Papua Barat untuk turut andil bagian dalam membantu meningkatkan kualitas pendidikan dengan menyediakan berbagai fasilitas fisik maupun non fisik dalam mendukung terbentuknya para generasi muda yang berintelek, dan mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainnya yang ada di dalam negeri  maupun di luar negeri  dan tidak menghilangkan semangat dari universitas di papua untuk mengatur dirinya sendiri sesuai dengan otonomi yang berlaku dengan perkembangan keilmuan, tanpa mengintervensi kebijakan dan putusan-putusan universitas.
    Selain itu universitas dan sekolah tinggi yang ada di papua harus mampu menyesuaikan diri secepatnya dengan kurikulum yang sudah berlaku di negara ini dalam menjalankan semangat Tri Dharma perguruan tinggi, tetapi tidak menghilangkan “kubudayaan papua”  dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia papua yang berintelektual, bermoral, dan berbudaya…

 Penulis Adalah  Ketua Forkomkasi Regional Papua Dan Papua Barat Periode 2012-2013, Sekaligus Kini Sebagai Koordinator Umum Catolic Student Center (Csc)

Berikan Komentar Anda
PASANG IKLAN PAPUALIVES.COM