Balik Atas
Mata Uang – Taman Bunga
 
Pewarta: Redaksi Edisi 10/09/2014
| 901 Views

Foto : Mata Uang dan Taman Bunga / ist

Kini aku akan tersenyum lagi
engaku kini telah buka mata
tak lagi sama kemarin engkau buta
dan mulutmu keluarkan busa-busa

dahulu aku berpikir engkau akan lewati dunia ini tanpa pesan
kini engaku telah kembali dalam dunia realita lagi
bukan sebuah mimpi atau dogeng
aku tak ingin menceraikanmu dari dunia ini
masih banyak yang mesti kami kerja
semau orang membenci karena temani dirimu
aku tahu engaku akan menyelamatkan hidup bangsa ini
aku itu tak rela, biarkanmu merana dalam rintihan ini
pandanglah diriku sebagai pengobat rindumu
tnaman kami, bunga yang dulu kini makin mekar berseri-seri
banyak kumbang juga madu mencicip tetesannya
mereka berbahagia sampai menari atas keagungan sampai banyak yang datang berteduh dan hendak mencabutnya
aku hanya mendengungkan semua itu
biarlah kami berjuang dengan penderitaan mereka menuai hasilnya
tak ingin ku katakan aku pencundang, tak rela bairkan mereka mencabut akar tanaman ini
rasa ini kian membuku sampai aku tak ingat akan kisah hidupku
hanya mengingatmu, bangsaku, sampai tua rambutku
kata lupa adalah musuh bagiku
setiap dekapan langkah ini terus menderu-deru menyuara tangisanmu
banyak tembok yang tak lagi dihuni telinga-telinga manusia
mata-mata mereka kurang melirik sampai matanya selalu ke uang
hidup ini seakan uang lebih berharga diri manusia
manusia dapat diuangkan demi uang
aduh gilanya manusia zaman penjajahan ini
aku ingin sembunyi diri dalam keindahan tamanku
siapa bersama ku ia akan mecicipi setetes embun keagungan itu
hiduplah trus taman bungaku
bairlah mereka bermata uang kausai uang-uang
“puncak tuebaga”
Natan Tebai

Berikan Komentar Anda