Balik Atas
Mediasi Sengketa PT. Nabire Baru dan Suku Besar Yerisiam Gua Berjalan Aman
 
Pewarta: Redaksi Edisi 22/07/2017
| 774 Views

Nabire ,Bertempat di Balai Pertemuan Adat Suku Besar Yerisiam Gua, Kampung Sima Distrik Yaur Kabupaten Nabire sejak Senin (18/7/2017) sampai dengan Selasa (19/7/2017) lalu telah terjadi sebuah pertemuan yang alot, damai dan penuh dengan suasana keakraban, antara pihak PT. Nabire Baru dan Suku Besar Yerisiam Gua untuk mencari solusi dan jalan keluar atas konflik yang terjadi selama ini antara Suku Yerisiam Gua dengan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang Kelapa Sawit yakni, PT. Nabire Baru.

Conflict Resolution Unit (CRU) yang merupakan sebuah Unit di bawah naungan Indonesia Business Council for Sustainable Development (ibcsd), akhirnya ditunjuk sebagai pihak yang akan menjadi mediator dalam permasalahan konflik Bilateral antara pihak Perusahaan PT. Nabire Baru dengan Lembaga Masyarakat Adat Yerisiam Gua.

CRU bertujuan untuk menjadi jasa layanan independen yang menjadikan mediasi sebagai salah satu alternatif strategis dalam penyelesain konflik lahan dan pengelolaan Sumber Daya Alam di Indonesia.

Dimana, CRU telah memilih kasus konflik lahan dan pengelolaan sumber daya alam yang penyelesaiannya akan didukung oleh CRU. Kasus tersebut adalah kasus yang dilaporkan oleh Yayasan Pusaka berdasarkan Surat Permohonan Lembaga adat Yerisiam Gua, mewakili masyarakat Siam di Nabire, Papua, kepada Round Table On Sustaineble Palm Oil (RSPO) terkait dengan kegiatan PT. Nabire Baru di Nabire, Papua. Untuk itu CRU sedang mencari asesor yang dapat melaksanakan kegiatan asesmen bagi kasus tersebut.

Dalam pengaduannya, ke RSPO pada bulan April 2017 lalu, Yayasan Pusaka memberikan keluhan antara lain ada lima hal yang menjadi pokok dalam komplen Yayasan Pusaka kepada RSPO, antara lain, adanya perampasan tanah oleh pihak Perusahaan, yang mana menurut masyarakat tanah-tanah mereka di ambil alih oleh pihak Perusahaan, tanpa ada persetujuan secara luas dari masyarakat dan itupun hanya dilakukan oleh pihak-pihak tertentu dan pemberian kompensasi terhadap tanah-tanah itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat.

Kemudian, pemanfaatan hasil hutan kayu yang seharusnya dapat di gunakan, masyarakat tidak mendapatkannya. Kedua, terkait dengan adanya isu kekerasan yang dilakukan oleh oknum aparat kemanan kepada masyarakat, kemudian isu Deferestasi bahwa Perusahaan telah melakukan pembukaan hutan dengan melakukan penebangan hutan secara luas, adanya isu yang mengatakan Perusahaan telah melakukan pembukaan lahan dan pengerusakan Dusun Sagu yang menurut masyarakat dusun tersebut adalah Dusun keramat bagi masyarakat Suku Yerisiam Gua, dan transparansi informasi, dimana pihak Perusahaan sejak awal tidak pernah memberikan informasi sejak awal maupun sampai sekarang soal dokumen-dokumen pembukaan lahan kepada masyarakat.

“Jadi kita saat ini hanya memonitoring, bagaimana Perusahaan bisa memenuhi dan menyelesaikan masalah-masalah yang di komplen oleh pihak masyarakat Suku Yerisiam Gua melalui Yayasan Pusaka,” kata Franky Samperante dirinya berharap, kepada Pemerintah Kabupaten Nabire dan juga Provinsi Papua bisa secara serius dan konsisten untuk memenuhi dan menghormati hak-hak masyarakat. Jika perusahaan serius mau melakukan hal itu, bisa dilakukan, sudah pasti masyarakat bisa menerima dengan baik keberadaan perusahaan. Karena Yayasan Pusaka juga mempunyai Visi dan Misi untuk membela rakyat miskin,pungkasnya.

Ditempat yang sama, Sekretaris Lembaga Masyarakat Adat Suku Yerisiam Gua, Roberthino Hanebora, kepada wartawan mengatakan, konflik bilateral antara pihak Perusahaan kelapa sawit PT. Nabire Baru dengan Suku Yerisiam Gua telah berlangsung lama.

Dimana pihaknya telah melakukan konsultasi dengan pihak CRU, kemudian Yayasan Pusaka, PT. Nabire Baru, dan juga Masyarakat Suku Yerisiam Gua untuk duduk bersama mencari informasi sebenarnya dan konflik apa yang sebenarnya terjadi di Yerisiam,” katanya.

Sehingga, kata dia, dari data -data yang nantinya di kumpulkan akan di serahkan kepada pihak RSPO untuk kemudian akan diselesaikan oleh mediator yang dipilih untuk memediasi pertemuan antara PT. Nabire Baru Good Hope dan Suku Besar Yerisiam. Dengan harapan, dengan proses konsultasi yang sudah terjadi dua hari ini kedepan, bisa ada jalan keluar terhadap persoalan yang terjadi.

Lebih lanjut dikatan “Kami bukan orang yang anti investasi, tetapi mengharapkan investasi itu perlu di kawal dengan baik, sehingga ada harapan bagi generasi-generasi kami yang akan datang. Ini sungguh luar biasa dan langkah awal menuju kehidupan masyarakat Suku Yerisiam Gua yang lebih sejahtera,” pungkasnya.

Menurut pihak Perusahaan Kelapa Sawit PT. Nabire Baru, melalui Direktor Sustainability, Edi Suhardi mengatakan, bahwa perselihan-perselihan yang muncul di tengah-tengah masyarakat Suku Yerisiam Gua dengan PT. Nabire Baru di sebabkan oleh salah persepsi atau salah pengertian saja antara kedua belah pihak.

Lanjut dia, pihak perusahaan juga mencoba untuk mencari mekanisme atau cara penyelesaian yang terbaik, informasi yang jelas untuk memberikan kejelasan kepada masyarakat, tentang posisi perusahaan dan dampak dari kehadiran perusahaan, bagimana dampak perkebunan kelapa sawit bagi masyarakat, sehingga tidak hanya dilihat dari sisi negatifnya, tetapi dampak positif yang bisa di rasakan oleh masyarakat.

“Dalam proses negosiasi ini, melalui CRU dapat menyelesaikan konflik yang terjadi selama ini, dengan adanya proses ini, saling pemahaman akan terbangun dan masyarakat bisa memahami secara jelas bagaimana maksud dan tujuan kelapa sawit bagi masyarakat sendiri, bagi pemerintah dan juga bagi daerah, kita sangat mendukung proses positif yang dilakukan oleh masyarakat, dan kita juga sangat menghargai pengaduan yang telah dilakukan oleh masyarakat dan melibatkan LSM dan itu merupakan proses pembelajaran dan juga upaya untuk memperoleh manfaat yang lebih luas,” terangnya.

Dirinya berharap, melalui proses ini, masyarakat akan mendukung perusahaan dan perusahaan dapat memberikan dampak yang lebih luas, baik secara ekonomi maupun sosial. Sehingga, Perusahaan tidak hanya memberikan asas manfaat, tetapi dapat menciptakan lapangan kerja, kesempatan bekerja, kesempatan berusaha dan juga dampak pembangunan daerah. Dan PT. Nabire bisa menjadi motor untuk pembangunan daerah di Kabupaten Nabire.

(dre).

 

Berikan Komentar Anda
Link Banner