Balik Atas
Melestarikan Makanan Khas Papua
 
Pewarta: Redaksi Edisi 02/06/2019
| 580 Views
Pitza Keladi berbahan dasar lokal (Foto:Dok.PapuaLives)

Oleh: Novilus K. Ningdana

Berbicara soal pola makan berarti kita menggali tentang apa yang kita konsumsi sebagai bahan energi dan protein untuk kesehatan tubuh. Tubuh kita yang terdiri dari kalori membutuhkan makanan untuk terus bertumbuh dan berkembang dalam melangsungkan kehidupan. Manusia bila tidak makan, maka ia tidak dapat melakukan aktivitas. Hal ini dikarena tidak ada daya yang mengerakannya untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi diri dan sesama.
Tubuh manusia membutuhkan makanan, maka mesti kita dapat mengatur pola makan secara efektif agar tubuh kita tidak merasa letih lesu melainkan menjadi manusia yang aktif melakukan kegiatan. Makanan memberikan kehidupan bagi tubuh karena di dalam makanan terdapat suatu daya yang memotori manusia. Makanan sangat penting untuk tubuh karena tanpa makan tubuh akan mati. Keseimbangan antara beberapa kalori tubuh harus dipenuhi setiap saat selama kita hidup. Fungsi makanan bagi manusia yaitu memberikan hidup, menambah energi, membentuk dan menggantikan jaringan tubuh yang rusak, menghilangkan rasa lapar, dan memberikan protein pada tubuh agar bertumbuh dan berkembang. Jika kita memenuhi keinginan tubuh dengan makan makanan yang mengandung protein dan karbohidrat, percaya bahwa segala aktifitas keseharian kita akan berjalan efektif, merasa nyaman, aman, damai, tenang, puas dalam menjalani kehidupan dengan efisien.

Pola makan sangat mempengruhi kehidupan manusia karena aktivitas manusia ditentukan juga oleh pola makan yang teratur dan terjamin. Secara spesifik saya melihat pola makan Orang Asli Papua (OAP) yang semakin hari semakin mengalami perubahan dalam hal mengonsumsi pangan lokal atau tradisional. Pangan lokal di Papua terdapat dua jenis yaitu hasil tanam masyarakat dan hasil ketersediaan alam secara alami sejak dahulu. Alam yang masih natural tersimpan berbagai kekayaan alam yang berguna bagi manusia Papua. Di dalam hutan Papua yang luas ini tersimpan sumber pangan natural. Namun karena perkembangan yang semakin pesat mengakibatkan pola makan mengalami perubahan.

Dasar perubahan pangan lokal di Papua ialah pengaruh dunia luar yang masuk ke dalam budaya natural OAP. Sejak dahulu kala pola hidup manusia Papua sudah diatur sedemikian rupa, tetapi karena perkembangan zaman mengalami perubahan drastis. Apa yang datang dari luar Papua dan apa yang natural di dalam budaya orang Papua sangat kontradiktif. Akibatnya realita saat ini menurut saya ialah OAP mengalami degradasi pola makan antara pangan lokal dengan makanan hasil impor dari luar Papua. Makanan asli Papua seperti sagu, umbi-umbian, buah-buahan, sayur-sayuran, hewani yang berasal dari alam Papua kurang diminati oleh orang Papua sendiri maupun mereka yang hidup di Papua. Tingginya makanan impor di Papua melalui transportasi laut maupun udara dapat mengurangi niat orang Papua untuk mengonsumsi pangan tradisional. Dominasi makanan dari luar Papua baik dalam kemasan maupun non-kemasan mendominasi Papua. Hal ini turut berdapak pada minat masyarakat Papua mengonsumsi pangan lokal. Padahal pangan lokal wajib hukumnya dilesatarikan dan dilindungi, agar dinikmati oleh generasi kita. Pangan lokal dapat tersimpan sumber segala sumber energi dan protein serta menjamin bagi kesehatan tubuh. Coba kita lihat makanan yang disajikan di rumah kita, apakah ada makanan lokal? Berapa kali dalam sehari kita makan makanan lokal? Ataukah kita belum pernah makan makanan lokal hingga saat ini padahal sudah lama hidup dan tinggal di tanah Papua. Para peminat makanan lokal semakin sedikit membuat degradasi makanan khas atau lokal orang Papua.

Pola makan konsumtif membuat orang asli Papua menginginkan makanan yang cepat saji (instan). Sedangkan makanan yang membutuhkan proses lama disingkirkan. Kita melihat di sekitar lingkungan kita hanya sedikit orang yang menjual makanan lokal. Pada umumnya sampai di perkotaan maupun pedalaman Papua didominasi oleh para pedagang makanan instan (impor dari luar Papua) yang didistribusikan ke seluruh daerah. Konsumennya sangat mendominasi dan mengubah pola hidup masyarakat Papua. Ironisnya, entah mengapa kita semakin konsumtif dengan makanan impor dari luar Papua yang sudah berhari-hari dan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan di atas Kapal atau Pesawat (kadar luasa). Jenis makanan seperti ini jika dimasak akan berbeda rasa dan faedahnya dengan makanan yang di ambil langsung dari alam.

Dengan demikian pada masa yang akan datang membahayakan kehidupan dan kekebalan tubuh jika masyarakat Papua tidak mengonsumsi pangan lokal. Perlu ada upaya perlindungan dan pelestarian pangan lokal dari persaingan produk-produk luar Papua yang instan. Bagaimana upaya kita menjaga pangan lokal dari pergeseran agar tetap utuh, ada dan dikonsumsi oleh khalayak umum. Maka, untuk mengembalikan dan menjaga pangan lokal, kita harus menggali potensi-potensi alam warisan nenek moyang yang sudah mulai punah dengan menjaga resep tradisional. Selain itu bagaimana kekayaan makanan lokal Papua bisa dikenal oleh masyarakat internasional. Untuk merealisasi semuanya ini harus ada kerjasama antara pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh adat, LSM, dan kita semua untuk bekerjasama mengubah pola hidup kita.

Tentu untuk masyarakat Papua pada umumnya dan kususya pribadi masing-masing mulai dari sekarang untuk mengolah, menjaga, dan mengonsumsi pangan lokal. Kita hidupkan kembali budaya kita sehingga perlu kita back to nature dan mengangkat jati diri kita sebagai orang Papua yang menyatu dengan alam.
Pemerintah sebagai fasilitator dapat menyediakan fasilitas umum seperti pasar khusus untuk menjual pangan lokal, memberikan dukungan dan berpikir bagaimana mengembalikan gairah makanan lokal melalui event pesta makan pangan lokal di level lokal, nasional maupun internasional, dan festival pangan lokal lainnya. Kepada Dinas yang berwenang atau Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) harus ada pengecekan dan pemeriksaan ketat di pintu masuk barang untuk mengecek kualitas barang yang layak dikonsumsi dan tidak serta menetralisir distribusi barang impor dan pangan lokal di pasar-pasar.

Kepada tokoh adat juga diajak untuk melindungi hutan dengan tidak memberi izin secara sewenang-wenang kepada siapa saja dengan alasan tidak jelas. Tidak perlu menjual tanah dan hutan sembarangan tetapi jagalah hutan sebagai sumber kehidupan kita dan anak cucu kelak. Dengan demikian, mulai dari Papua kita tunjukan kepada dunia bahwa kekayaan makanan lokal Papua dan jati diri orang asli Papua yang menyatu dengan alam tetap terjaga dan utuh. (*)

Penulis pada Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT)
“Fajar Timur” Abepura, Papua.

Berikan Komentar Anda