Balik Atas
Memeluk (Cita/Mimpi) Pembangunan
 
Pewarta: Redaksi Edisi 27/09/2014
| 776 Views

Oleh I Ngurah Suryawan

Dibukit sebuah kampung,
saya berdiri di Puskesmas Pembantu (Pustu) yang mempunyairumah kayu yang
megah di ujung kampung. Letaknya mengelilingi rumah penduduk dikampung.
Jika berdiri di teras rumah Pustu itu, akan terlihat pemandangan
yangsangat indah sekitar Teluk Etna yang mengelilingi kampong. Tampak
jembatan kayupanjang yang membelah teluk sebagai tempat bersandar kapal
yang merupakan alattransportasi satu-satunya yang mengitari
kampung-kampung. Namun saying, Pustuyang bagus ternyata tidak
berpenghuni para bidan dan perawat. Sudah sejak 2tahun lalu sejak saya
berkunjung di tahun 2013, perawat sudah pergi ke kotadengan kapal dan
tak kunjung kembali. Mama Yoselin yang saya temui tinggal di
Pustumenuturkan bahwa Ia lah kini yang menjadi perawat. Ia yang
menggantikan perawatyang sebenarnya di kampung. Ia rutin turun ke kota
untuk mengambil obat-obatandi RSUD Kaimana dan Dinas Kesehatan. Ia
bersyukur mendapatkan pendidikankesehatan saat zaman Belanda. Sisa-sisa
pengetahuan itulah yang ia praktikkanuntuk pengobatan sederhana warga
kampong. Sungguh ironis.

Fragmendi atas hanya cukilan
dari bergitu banyak hal-hal ironis yang terjadi di TanahPapua. Jurang
pembangunan di kota dan kampung-kampung menganga lebar. Mimpiakan sukses
pembangunan seperti kota-kota di Jawa tepapar dengan gamblangmelalui
program-program pembangunan yang tidak mengakar. Derasnya informasi
danvisual melalui televise membuat rakyat Papua begitu yakin bahwa mimpi
kesuksesanpembangunan seperti di Jawa akan ada di kampung mereka. Di
sisi lain, investasitelah merangsek dan menggerus sumber-sumber
penghidupan mereka selama ini.Hutan tempat mereka berburu telah berubah
menjadi kebun sawit atau derus mesinpemotong kayu. Sementara hutan sagu
mereka telah berubah menjadi rumah-rumahpara pemotong kayu.
Tempat-tempat sakral dan keramat juga telah berubah menjadijalan-jalan
tempat alat-alat berat milik perusahaan lalu lalang.


Menyadarihal
itu, tanah yang sebelumnya tidak ternilai harganya karena hanyalah
hutankini bisa diuangkan dengan menjualnya ke perusahaan. Maka
mulailahkonflik-konflik terjadi, bukan hanya antara masyarakat dengan
perusahaan yangmasuk melakukan investasi ke kampong mereka . Bahkan, di
internal masyarakat tempatan(lokal) tidak jarang konflik terjadi. Tanah
yang sebelumnya hanya ditumbuhipohon-pohon, yang mereka bayangkan tidak
akan mungkin laku terjual, kini bisadiuangkan dengan menjualnya kepada
para investor yang dalam sekejap akanmerubah kehidupan mereka sekaligus
wajah kampung.

Namunpermasalahan mulai muncul saat
tanah bisa diuangkan ketika investasi berwajahperusahaan-perusahaan kayu
membelah hutan-hutan kayu mereka. Masalah itubiasanya terkait dengan
batas tanah dan hak pengakuan pada wilayah ulayatketika perusahaan
bermaksud untuk memberikan ganti rugi berupa uang. Masyarakatberebut
untuk mengakui bahwa merekalah yang mempunyai hak atas tanah
tersebutdengan harapan akan mendapatkan ganti rugi. Hal inilah yang
nantinyamenimbulkan konflik antara sesama warga kampung. Selain
pembuktian secara bendadan mengetahui serta mampu menunjukkan
batas-batas tanah sesuai dengan warisanleluhur, cara “Sumpah Adat” juga
dilakukan warga kampung untuk membuktikankebenaran hak kepemilikan tanah
tersebut.

Sumpahadat yang dimaksud adalah dengan
ritual “makan tanah” sebelum berbicara tentangasal-usul pengakuan
kepemilikan tanah. Kalau dalam pengakuannya nanti diamenipu, maka tanah
yang akan menelan dia. Selama pertengkaran yang terjadi dandisepakati
untuk melaksanakan sumpah adat ketika masing-masing pihakmempertahankan
kebenarannya, maka kutukan adat akan berjalan. Sumpah itu merekasendiri
yang akan menanggung resiko dan tanggungjawabnya, termasuk
didalamnyaketurunan maupun kelompok marganya. Sampai saat ini sumpah
adat tidak pernahmeleset dan selalu menelan korban bagi yang menipu dari
apa yang diucapkannya.
Mimpi/Citra Pembangunan
Pemerintahdan
perusahaan membawa mimpi modernitas melalui janji-janji
“pembangunanisme”yang menawarkan kemajuan, keluar dari keterisoliran,
peradaban baru, dan tentusaja kehidupan (kesejahteraan) yang lebih baik.
Namun mimpi itu harus dibayardengan hilangnya “kehidupan” mereka
sebelumnya yaitu tanah mereka. Masyarakatlokal Papua yang berada di
kampung-kampung mendadak dan dipaksakan harusberadaptasi dengan dunia
dan kebudayaan baru. Sudah tentu ada begitu banyakimplikasi yang akan
terjadi.

Pemerintahanyang bekolusi dengan investasi
dengan rezim administrative ekonomi politiknyamendorong secara
terus-menerus perubahan pada tingkat provinsi, kabupaten,bahkan distrik,
dan kampung-kampung dengan berbagai cara dan program. Secarasporadis
dan sangat tergesa-gesa, kampung dan masyarakatnya bergerak
sangatdinamis bahkan diluar perkiraan untuk merespon perubahan-perubahan
yang terjaditingkat elit (Otsus, pemekaran-pemekaran daerah, dan UU
Desa).

Introduksiberbagai macam program tersebut
mengakibatkan masyarakat lokal terpapar dalaminterkoneksi (pertautan)
dengan dunia luar dan nilai-nilai baru. Seturut denganitu, mereka
dituntut untuk merespon perubahan ini dengan cara-cara merekasendiri.
Perubahan itupun tidak main-main karena menyangkut secara
langsungterhadap nasib diri mereka, identitas, dan kebudayaannya. Pada
awalnya yangterjadi adalah fragmentasi (keterpecahan) di tengah
masyarakat dan masyarakatyang terus-menerus mencari nilai-nilai dan
solusi dalam menghadapi perubahantersebut. Respon itu adalah sangat
wajar, namun lebih daripada itu diperlukankonsolidasi di internal
masyarakat untuk merspon perubahan sosial yang sedangterjadi.
Solidaritas dan integrasi sosial yang pernah dan mungkin masih
terjadikampung-kampung mulai terkikis habis karena keterpecahan di
tengah masyarakatakibat merespon nilai-nilai baru ini. Oleh sebab itulah
praktik-praktikkonsolidasi di tengah masyarakat untuk memperkuat
integrasi dan solidaritassosial mutlak diperlukan. Bagaimanapun
masyarakat di kampung-kampung tidakmungkin akan menghindar dari realitas
sosial yang menuntut mereka untukbersikap.     

Hadirnyapemerintahan,
agama, dan program-program pembangunan mentautkan masyarakattempatan
(lokal) kepada nilai-nilai baru. Tentunya hal ini berhubungan
denganpembentukan kebudayaan yang berada di wilayah mereka sendiri.
Sejatinya mereka(masyarakat lokal) adalah komunitas yang dinamis dan
selalu berubah, bahkanjuga tidak selalu terisolir. Dalam dinamika itu
ada dua proses yang berbeda. Pertama, proses itu merupakan
bagiandari hidup masyarakat setempat yang telah melampaui masa panjang
denganperspektif yang tidak selalu tempatan. Di sini kita harus memahami
budayamasyarakat setempat pun pernah mengalami kontak dengan dunia
luar, namun dalamproses itu “warna” tempatan kuat bertahan karena
masyarakat berhasilmengidentifikasikan dirinya dalam proses itu. Mereka
dapat mengontrolsejarahnya sendiri, yang mampu membuat sejarahnya
sendiri atau menghadirkanwaktu transendennya sendiri. Kedua,adalah
yang berhubungan dengan merasuknya kuasa pembangunan dalam
kesadarankita bukan sebagai sintesa proses historis budaya-budaya
tempatan, tetapi lewatdaya pikat citra suksesnya di negeri-negeri
industri maju yang didukungkekuatan modal. Negara-negara inilah yang
selalu menjadi contoh dari suksesnyapembangunan. Mimpi untuk sukses dan
berhasil tentunya hak semua orang. Namundalam kasus intoduksi
pembangunan dan nilai-nilai budaya global yang tercermindi masyarakat
kampung (perdesaan), kita membayangkan kesuksesan pembangunandari
daerah-daerah lain, bukan pada daerah kita sendiri (Laksono, 2000).  

Justrupersoalannya
yang terjadi adalah kita baru dapat memeluk mimpi dan
citranya(bukan/belum suksesnya) yang mengacu daerah lain, tetapi telah
melepas pegangankita pada pengetahuan budaya yang telah lama kita
bangun. Itulah realitas yangterjadi dalam proses besar-besaran dan
berlangsung massif  berkelanjutan dalam perubahan sosial yangterjadi di
kampung-kampung (perdesaan) di Indonesia, tak terkecuali di
Papua.Pegangan yang kini perlahan namun pasti lepas dari pegangan
masyarakat lokal dikampung-kampung adalah sumber daya alam dan
nilai-nilai kebudayaan tradisionalyang telah terbukti menghidupi
warganya. Lebih daripada itu, identitas dankepercayaan diri masyarakat
untuk melanjutkan hidupnya semakin lama semakinterkikis akibat penetrasi
nilai-nilai modern yang justru membingungkan mereka. 
                
Staf pendidik/Dosen Jurusan Antropologi Fakultas Sastra UNIPAManokwari, Papua Barat. Bukunya, Tong Pu Mimpi: Keterpecahan dan Gerakan Pembaruan Kebudayaan Papua akan segera terbit.  



(Dimuat di rubrik Opini di Harian Cahaya Papua–Media Lokal di Manokwari, Papua Barat–, Sabtu 27 September 2014)
Berikan Komentar Anda